CommTalk With Alice: Do we need a space to understand each other?

Dalam kelas Communication Theory gue belajar tentang Expectacy Violation Theory atau Teori Pelanggaran Harapan. Teori ini mengungkap tentang setiap individu pasti punya harapan terhadap perilaku verbal orang lain. Adanya harapan ini didukung oleh faktor individual (jenis kelamin, kepribadian), relasional (sejarah hubungan, status) dan konteks (norma, sosial, tugas).

Ketika gue belajar teori ini, gue menyadari bahwa setiap individu punya space relations yang selalu berubah ubah. Terkadang mereka ingin afiliasi, di mana ada keinginan untuk dekat dengan yang lain. Tapi pada beberapa situasi, mereka membangun personal space di mana mereka menentukan jarak antara individu dan individu lainnya. Lalu dengan mempertimbangkan space relations tersebut, setiap individu pasti punya pengharapan atas perilaku individu lain terhadap dirinya.

Katanya, orang yang punya personal space yang baik tidak akan terlalu bermasalah dengan pengharapan akan orang lain. Lain halnya dengan orang yang selalu menuntut afiliasi, kedekatan dengan orang lain, keintiman akan sebuah hubungan dengan orang lain.

Once, gue pernah dibilang.. "kamu posesif banget sih."

Lalu gue menyadari bahwa gue gak punya personal space yang jelas dengan orang tersebut. Gue selalu ingin bersama dia, menghabiskan waktu sama dia, membagi cerita gue sama dia, apalagi hubungan kami lebih ke arah CMC atau bisa dibilang cuman pakai media telpon dan internet, jarang sekali bertatap muka karena kesibukan satu sama lain. Tapi gue punya alasan.. Karena dengan adanya personal space, gue akan merasa insecure, gue takut kalo orang tersebut pergi dan menghilang..

Padahal sebenarnya tanpa kita sadari kita sudah membangun personal space dengan orang lain, mengelompokkan beberapa orang kepada satu area di mana lo tau batasannya untuk dia. Tapi untuk beberapa kasus, mungkin rasa takut kehilangan membuat lo gak mau membuat jarak sama sekali.

Sampai akhirnya gue sadar akan kesibukan kami yang meningkat, gue yang masih berusaha tapi dia tampak lebih cuek dari biasanya. Kilas balik beberapa bulan yang lalu, gue akan kesel dan ngerasa diabaikan. Tapi kali ini, gue mulai ngerti bahwa.. Oh.. Mungkin emang butuh waktu sendiri.. Biar ngerasa kangen dan ada rasa butuh akan kehadiran satu sama lain.. Karena selalu ada juga bikin bosen dan monoton kan?

Tapi kenapa ya rasa pengharapan akan perilaku dia ke gue masih saja sangat tinggi? Contohnya ketika dia sibuk dan gue sedang ada masalah. Gue ingin didengar dan seenggaknya dimengerti deh.. Tapi karena dia sibuk dan kepepet ujian, sikap dia malah membuat gue gak nyaman dan jadinya gue kesel sendiri.

Katanya, kita harus mengerti dengan "Sign" orang kalo dia emang pengen punya personal space dengan kita.. Tapi bagaimana dengan orang orang seperti gue yang cenderung takut kehilangan kalo ada jarak di antara satu sama lain? Apa gue belum benar benar dewasa untuk menyikapi hal ini?

Walau sebenarnya dengan kesibukan dan segala macam hal yang terjadi, gue jadi merasa setiap waktu untuk ngobrol sama dia benar benar berharga. Atau tawaran dia untuk ngobrol sejenak di telpon juga cukup membuat bahagia, karena akhirnya setelah penantian yang cukup lama, masing-masing punya waktu untuk berbagi cerita lagi. Tapi apakah perlu menjauh satu sama lain untuk bisa merasakan quality time seperti itu?






Gue semacam tidak mengerti personal space orang orang.. Kenapa tidak bicara saja kalo emang lagi butuh waktu? Atau memang kepekaan dituntut dalam sebuah hubungan? Bagaimana untuk saling mengerti ketika salah satu dari kita belum bisa memahami diri sendiri?

Mungkin sejatinya kita memang harus memberikan jarak dalam sebuah hubungan. Bukan sekedar untuk menjauh dalam rangka mengatasi rasa jenuh atau mengobati kekecewaan akan ekspektasi kita yang tidak dipenuhi oleh pasangan. Namun untuk mengerti dan lebih menghargai arti kebersamaan.

"Jangan dikasih terus, biarin aja dulu. Nanti juga dia pasti nyariin lagi."
Hey.
Don't go, just stay.
Cause your present is my personal happiness.




Ps: Terima kasih untuk Sir Taufan atas materi EVT yang membuat saya berpikir keras. Regards, Rizki Rahmadania Putri.


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}