I gave you everything and you turned it into nothing.

"Suatu hari nanti ketika semua ini berakhir lo akan bilang sama diri lo sendiri; 
bego, kenapa gue segitunya sampe nyakitin diri sendiri?"
-Siti Meidaling, Intiland Tower,
14 Juni 2017

***

Memperjuangkan atau diperjuangkan?

Pertanyaan yang semalam muncul begitu saja ketika gue sedang mengadakan give away untuk buku keempat gue di instagram tepat jam 12 malam. Entah ini bawaan lagi datang bulan atau emang dasarnya gue udah dalam tahap capek.. Secapek itu untuk bilang, "iya aku maklum" dan "iya aku bersyukur."

Pernah gak sih elo udah ngasih seluruh dunia lo kepada orang yang lo sayang, lo gak mengharapkan dia memberikan dengan porsi yang sama, tapi setidaknya dia menghargai dunia lo dan tidak menghempaskannya jauh jauh? Okey, kata menghempaskan mungkin terlalu berlebihan. Tapi apa lagi kata yang tepat untuk seseorang yang mengubah semua hal besar di hidup lo menjadi bukan apa - apa?

Gimana ya cara jelasin betapa kecewanya gue sekarang, betapa gue gak tahu lagi gimana cara yang tepat buat menyampaikan kekesalan gue, betapa gue merasa bahwa lebih baik gue ngomong sama tembok karena gue gak harus mikirin dia juga punya pikiran dan perasaannya sendiri...

I gave you everything.
And you turned it into nothing.

Banyak alasan dan usaha yang gue lakukan untuk tetap baik - baik aja, layaknya manusia biasa yang.. Yaudah sih, gak usah lebay lebay banget. Tapi kalo dipikir pikir, gue gak lebay kok, gue emang begini dari dulu dan dia gak menerima lagi dunia gue. Lalu kenapa gue harus terus memberikan apa yang tidak dibutuhkan oleh orang itu?

Gue tahu semua orang pasti berubah seiring dengan berjalannya waktu. Kesibukan dan faktor bosan bisa jadi salah satu acuan kenapa orang berhenti mengusahakan satu sama lain. Ada kalanya kok gue merasa dia mengusahakan gue, tapi kenapa ya, makin lama, seperti gue melemparkan sebuah kerajaan penuh dengan emas kepada orang yang lebih membutuhkan berlian? Atau bahkan gak butuh emas sama sekali?

Intinya kenapa gue ngerasa gue ngasih dunia gue buat orang yang gak butuhin gue?

Itu, versi gampangnya. HAHAHA.

Gue mencoba memahami kesibukan dan perubahan pola hidup dia seperti gue juga yang sudah semakin sibuk dan punya kehidupan sendiri. Gue mencoba bersyukur dan berpikir positif, gak anarkis, gak sedih sedih.. Tapi kenapa ya.. Kenapa makin lama gue merasa..


A space between us isn't because of his busy life or my busy day, but it's created by him in order to pushed me away?


Pagi ini, gue menyadari gue menyayangi dia, dia dan segala kedewasaanya. 


Tapi sekaligus juga gue menyadari bahwa orang yang membuat gue begitu bahagia, kala itu, udah gak ada lagi. Dia yang selalu gue rindukan adalah dia yang dulu, beberapa bulan yang lalu. Dia yang menghargai setiap waktu dan effort yang gue berikan.



Dia yang gue berikan segalanya namun tidak membiarkannya sia - sia.






Just give a word, I couldn't read your mind. 



You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}