Ramadhan With Alice #2 : Mukena dan Segala Kebaikannya

Saat gue pergi ke CSB Mall bareng Ayesha, sahabat gue, kami berkeliling cukup lama untuk mencari kebutuhan kami dan juga nunggu beberapa orang yang mau ambil buku gue. Nah, ketika waktunya Dzuhur tiba, kami pergi ke Musholla untuk beribadah. Most of the time, gue adalah tipikal orang yang gak suka ibadah di tempat terlalu ramai tapi gak suka juga terlalu sepi. Pokoknya gue banyak alasan maunya deh HAHAHA.

Ketika ke Musholla, gue baru inget gue gak bawa mukena di tas dan keadaannya rame banget which is suka malesin.. Gak bawa mukena.. Nunggu lama.. Tapi setelah gue dan Ayesha menggerutu saking ramenya, tanpa sadar gue berceletuk seperti ini, "masih untung Yesh rame, justru kita harus sedih kalo udah gak ada yang mau solat."


Setelah itu kami wudhu dan mulai cari orang untuk gantian minjem mukena dari Musholla. Namun sembari mencari orang yang mau meminjamkan, gue melihat ke sekitar dan perlu diketahui bahwa gue adalah tipikal orang yang males basa basi kecuali emang ada tujuan tertentu. Akhirnya gue memberanikan diri nanya sama mba - mba yang memakai seragam salah satu toko di CSB Mall.


"Mba, ini mukena nya punya musholla?"
"Bukan, punya saya sendiri. Mau minjem?"
"Ah.. Tapi habis ini Mba kerja lagi kan?"
"Iya sih, tapi gakpapa, saya tungguin aja."

Setelah Mbanya ngomong gitu, gue langsung kayak.. deg. Gila ya. 

Oke mungkin ini lebay, tapi coba deh dilihat dari sisi di mana sekarang kita hidup di zaman semua orang mulai cenderung individualis. Bisa aja kan mba mba itu gak usah nawarin gue? Ngapain juga dia nunggu gue padahal dia mau kerja lagi? :"}

Setelah gue menolak mba - mbanya, gue pun mencoba cari mukena yang lain sambil mengamati sekitar. Bagaimana orang orang disini tidak mengenal satu sama lain namun mereka berinteraksi lewat saling meminjam mukena. Bagaimana ada orang orang yang memilih meminjamkan di sela sela waktunya dan ada juga yang memilih pergi tanpa memikirkan orang lain. Bagaimana memberi tidak membuatmu kekurangan.


Mungkin sangat wajarlah ketika manusia selalu mendahulukan kepentingan mereka, namun rasanya kita pun tidak akan rugi jika meluangkan waktu untuk membantu yang lain. Asal kita tahu batasan, asal kita tahu takaran. Seperti kata dia tempo hari, kala gue berkeluh kesah lagi tentang hidup gue dan teman teman gue, dia pun berkata dengan sangat pelan dan manis, "belajar untuk hidup sederhana, tidak terlalu dan tidak kekurangan, tengah tengah aja. Supaya kamu tenang dan bahagia."

Iya, bahagia.



You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}