Ramadhan With Alice #3 : Kecewa, namun Allah menyembuhkannya.

"Kamu gak pernah berubah."

Tapi apa kamu pernah berpikir kalau kamu pun gak pernah berubah?

***




Kecewa mungkin kata yang tepat untuk segala hal yang terjadi akhir akhir ini.

Banyak hal yang terjadi di luar rencana gue, bahkan terjadi begitu saja tanpa membiarkan gue mencerna apa yang harus gue lakukan. Seiring dengan berjalannya waktu gue belajar untuk bisa mengatasi rasa kecewa yang ada dalam diri gue setiap kali gue mendapatkan hal hal semacam itu.

Gue adalah orang yang punya standar sosial yang tinggi; kepercayaan gue adalah what you give is what you get. Gue memberikan seluruh waktu, konsentrasi hingga perhatian terbesar gue pada seseorang yang pada kenyataannya, he doesn't even give a bit untuk gue. Walau awalnya gue selalu bilang, "ya Allah, terima kasih, ketemu dia dan dia masih menyempatkan waktu untuk saya." but then, I realize, kok gue seberat ini? Kok gak seimbang?

Sampai akhirnya ada satu kejadian di mana mungkin menurut beberapa ini adalah hal yang sepele atau sangat gak dewasa untuk dijadikan sebuah masalah. But for me, it was a problem. Karena gue adalah tipe teman yang akan mendukung seseorang habis habisan, gue adalah tipe teman yang akan ada untuk orang tersebut. Sebuah unsubscribe di youtube bisa membuat gue bertanya, "do you have a problem with me?"

Standar kedewasaan yang berbeda dan lingkungan yang jelas tidak sama membuat kalimat "apaan sih itu kan cuman youtube" bisa keluar dari mulut siapa saja. But hey, for someone who put a hope to someone else, its a thing, isn't it?

Lalu rasa kecewa itu pun menyeruak dan meluap luap sampai gue gak bisa menahannya lagi. Hanya saja gue gak berani berkata pada Allah, karena gue tahu apa jawaban Allah nantinya. 

Ramadhan ini gue sangat kecewa pada seseorang yang selalu gue sanjung sanjung namanya, gue anggap orang paling berjasa dan baik untuk gue. Namun akhirnya yang dia lakukan hanyalah membuat gue merasa sangat insecure, membuat gue merasa gak berharga sama sekali, membuat gue merasa gue adalah orang paling bodoh yang gak bisa apa-apa, membuat gue merasa sangat gak pede dengan bilang gue selalu bertindak kaya anak kecil.

Gue merasa sangat kecewa setiap kali dia bilang gue gak pernah berubah. Ingin sekali rasanya gue berkata, "jangan meminta orang lain untuk berubah ketika kamu sendiri tidak sadar perilakumu telah menyakitinya." atau gue pengen bilang "apa motivasi kamu melakukan semua ini?"




Bahkan dia mungkin gak sadar dia nyakitin orang lain.

Namun malam ini, ketika gue bicara pada Allah, gue merasa Allah sedang mendewasakan gue. Allah menyembuhkan luka gue dengan memberikan gue flashback secara gak sengaja di kepala gue. Bahkan setelah 19 tahun yang gue lalui, setiap kali gue kecewa, gue akan mendapatkan balasan yang setimpal setelah bersabar dan berusaha. Ia menyembuhkan amarah gue dengan secara tidak langsung berkata, "ini ada akhirnya kok."


Sedetik yang lalu gue lupa bahwa semua yang Allah lakukan dan Allah berikan pada gue itu pasti punya alasannya untuk kehidupan gue. Mungkin sekarang sakit, mungkin rasanya begitu kecewa, tapi Allah punya alasannya. Allah tidak akan memberikan rasa sakit yang luar biasa jika Ia tidak membantu menyembuhkannya, bahkan untuk kebahagiaan luar biasa pun tidak akan diberikan jika Ia tidak memberikan penyeimbangnya.

Intinya semua hal yang terjadi di hidup gue punya alasan dan semuanya tetap berpegang pada satu hal kok; jangan terlalu berharap kepada makhluk-Nya, karena penciptanya lah yang berkuasa dan berkehendak.



Ketika gue menyelesaikan tulisan ini, gue sedang menunggu dia yang berjanji meluangkan waktu untuk bicara dengan gue. Pada akhirnya bila setelah gue menyelesaikan tulisan ini dan dia tidak menepati janjinya atau timing kita tidak tepat lagi atau setelah semua usaha gue dia dengan mudahnya membiarkan gue begitu saja, maka gue tidak punya lagi alasan untuk merasa kecewa.

Karena sebenarnya Allah berkali - kali telah berkata dia tidak pantas untuk diperjuangkan karena ia berulang - ulang kali membuat gue kecewa. Namun ia pantas menjadi sebuah pelajaran bahwa makhluk-Nya mungkin mengecewakanmu, namun pencipta-Nya tidak akan meninggalkanmu. Ia akan menyembuhkanmu.

Setelah malam - malam panjang di mana rasa sakit, kecewa dan amarah yang menumpuk di hati, pada akhirnya gue akan bisa melepaskan semua perasaan ini dan menjadi lebih dewasa. Karena Allah tidak tidur, Ia akan menjadi penyembuhnya, Ia akan memberikan alasannya.


Hanya biarkan waktu bekerja, melakukan tugas magisnya untuk menyembuhkan hati yang kecewa dan menghapus perasaan yang menjadi sumber utama setiap rasa sakit yang ada.




Karena mungkin kamu pernah dikecewakan, 
maka inilah rasa mengecewakan orang lain.
Mana yang terasa lebih baik?


You may also like

1 comment:

Leave me some comment! Thank you, guys:}