Unexpected Feelings #2 : It's Enough



Dimulai dari berhenti meluangkan waktu, lalu tidak punya waktu dan berakhir tidak bicara sama sekali.

Pagi itu aku rindu padanya. Rasanya masih sama seperti pagi-pagi yang lain di mana merindukannya adalah hal pertama yang aku rasakan. Apalagi belakangan ini tidak ada pesan jam 2 pagi yang berakhir percakapan intensif selama 1 jam. Aku tahu dunianya sekarang terlalu besar untuk sekedar memposisikanku di bagian utama, atau setidaknya disekitar bagian utama. Aku tahu duniaku terlalu kecil untuk menjadi tempatnya singgah. Tapi merindukannya adalah hal yang tidak pernah bisa berhenti aku lakukan.

Lalu pagi itu dia membalas pesanku semalam. Obrolan singkat pagi ini lagi lagi tidak berhasil memancingnya untuk memberi tahuku tentang jadwal kesibukannya. Ia dan dunianya terlalu luas untuk aku mengerti meski aku terus mencoba memahami dengan caraku sendiri. Namun tatkala aku menemukannya di parkiran kampus pagi itu, aku hanya bisa tersenyum kecil. Entah tersenyum karena lagi-lagi ia melakukan kebaikan dalam hidupnya atau aku menutupi rasa kecewaku akibat ketidaktahuanku tentang dunianya?

Tampaknya Tuhan dan semesta alam selalu bisa berkonspirasi untuk membuat pertanyaan pertanyaanku tentang dirinya semakin bermunculan. Kenapa pesanku tidak dibalas? Kenapa dia tidak memberikan kabar? Kenapa dia bisa melihat update-an instagramku sementara dia tak bisa membalas pesanku? Apakah aku sebegitu mengganggu hidupnya? Apakah ia tidak lagi mau melibatkanku dalam kesehariannya? Padahal aku selalu berusaha untuk mendukung kegiatannya, menyemangatinya, memberikannya semua hal yang aku punya. Namun kenapa seperti tidak pernah cukup?

Kemudian malam itu ia berkata padaku, "aku yang dulu itu lagi istirahat. Sekarang, aku kembali mengepakkan sayapku. Aku gak bisa selalu kasih kabar sama kamu. Bahkan kamu gak perlu khawatir apakah aku sudah makan atau belum-" bodoh, aku begitu khawatir kalau kalau kamu jatuh sakit lagi, "-atau dimana aku berada, bersama siapa, pulang jam berapa. Kalo aku ngabarin kamu, berarti aku baik baik aja. Selama aku gak ngabarin kamu, urus saja hidupmu sendiri."

Tidak, aku tidak mau begitu. Kamu yang dulu tidak begitu.

"Aku gak mau melakukan hal itu lagi. Aku yang sekarang ya begini. Kamu harus terima itu atau kamu pergi aja, gakpapa kok. Aku juga bisa pergi dari kamu. Tapi aku gak mau aja. Kamu gak bisa ngatur ngatur hidupku, seperti aku juga gak bisa minta kamu berubah untuk aku. Ini hidupku, itu hidupmu. Kalo kamu gak terima aku yang begini, gakpapa, tinggalin aja aku. Sekarang kamu tahu kan segitu sulitnya hidup sama aku?"

Iya, sulit.

Sesulit pagi ini lagi-lagi aku tidak mendapat kabar darimu.
Sesulit beberapa hari yang lalu setelah 13 jam yang panjang baru ada dua baris pesan darimu.
Sesulit kemarin sore saat aku membutuhkanmu namun kamu tidak ada.

Aku berpikir, mungkin semakin lama aku akan terbiasa oleh ketidakhadiranmu. Mungkin aku baik-baik saja meski kamu tidak ada lagi. Tapi semakin aku pikirkan semakin aku merasa kacau bukan main. Aku mau kamu, aku mau ada kamu.

"Aku gak selamanya bisa sama kamu ya, aku tahu ini sulit. Ya aku juga pernah, ditinggalkan tanpa kabar. Beruntung kamu masih aku kabari sesekali. Nah aku? Hilang begitu saja."

Aku tidak mau.
Aku maunya ada kamu.

"Kamu harus belajar untuk membereskan apa yang jadi masalahmu sendiri. Aku gak butuh perempuan di hidupku yang cuman butuh aku naikin semangatnya. Terus gimana kalo aku yang jatoh? Siapa yang naikin aku?"

Aku tidak mau kamu pergi.

"Belajar menerima atau kita sudahi saja semua ini."

Apakah dengan mengalah aku akan bahagia?
Atau ini adalah akhir dari cerita kita berdua?

Namun ketika aku berjalan menuju kampus pagi ini, tanpa kabar darimu, tanpa tahu dimanakah kamu, tanpa tahu apa yang akan kamu kerjakan sepanjang minggu ini, aku mulai berpikir.

Aku baik baik saja kok sebelum bertemu denganmu.
Aku baik baik saja ketika kamu tidak ada di hidupku.
Aku baik baik saja meski saat itu belum ada kamu.
Mestinya ketika kamu datang semua jauh lebih mudah, namun jika semua berubah lebih sulit daripada biasanya, untuk apa aku mempertahankan kamu?

Rasanya memang seperti itulah kamu, tidak lagi mau membuka duniamu untukku, tidak lagi mau membaginya bersamaku. Namun itu bukan kehendakku, karena kamulah yang memilih. Seperti aku yang bersikeras masih menganggapmu prioritas utamaku, masih menaruhmu dalam daftar teratas harianku. Itu bukan kehendakmu, tapi itu adalah kemauanku.

Aku mau kamu tetap tinggal dan untuk itu aku harus menerima apa yang bisa kamu berikan. Aku tidak bisa membayangkan apa jadinya hari ini bila tidak ada kamu. Apa jadinya aku di depan mereka bila tidak ada kamu. Apa jadinya aku bila tidak bertemu kamu.

Kamu mungkin sebuah kesalahan untuk dipertahankan, tapi biarkan itu menjadi konsekuensiku. Seperti aku yang merupakan sebuah kesalahan di hidupmu dan kamu biarkan aku tetap berada di duniamu.

Dari semua hal buruk yang terjadi di antara kita, amarah yang ada, tangisan yang terjadi dan sesi siapa yang paling bahagia dari siapa kita lakukan, intinya hanyalah aku ingin kamu tidak pergi, dan kamu ingin aku tidak terlalu tergantung pada kamu.

Karena begitulah kamu menjagaku supaya aku tidak lagi tersakiti.

Namun begitulah keinginanku supaya aku tidak lagi merasakan kehilangan.

Bahkan kehilangan kamu adalah salah satu perasaan yang tidak pernah ingin aku rasakan lagi. Meski kamu yang ada di hadapanku kini bukan kamu yang sama, meski aku yang ada di hadapanmu kini tidak bisa memenuhi keinginanmu, tapi itu semua cukup. Cukup. Cukup.


Untuk sekarang, bahkan selamanya, itu cukup.


Selama ada kamu. Tidak usah meminta lebih, karena Tuhan tahu yang terbaik. Ia mempertemukan karena sebuah alasan, memberikan kesempatan untuk mempertahankan, namun akan memisahkan demi mempertemukan kepada orang yang lebih baik;)



You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}