It hurts you a lot: Set Your Boundaries

"Kalo aku udah fucked up beneran, aku bisa aja block kamu. Hapus kamu dari semua kehidupan aku, selesai kan masalah? Tapi aku gak mau. Karena suatu saat nanti, ketika rasanya reda, kita akan bertemu satu sama lain dan banyak kemungkinan untuk membutuhkan satu sama lain."


***


Lalu entah siapa yang fucked up terlebih dahulu, sampai akhirnya gue bisa berpikir, "aduh ini hubungan udah bener bener gak sehat." Bukan siapa yang lebih memperjuangkan siapa, siapa yang lebih membutuhkan siapa, siapa yang mempertahankan siapa. Jelas jawabannya pasti kembali pada gue. Tapi semakin lama kok semakin nyakitin satu sama lain?

Sudah 2 minggu jarak yang dia buat melebar bak tak terarah. Gue mencoba approach dia, tapi rasanya udah gak sama lagi. Emang sih, hampir 4 bulan intens gak pernah seharipun gak ngobrol. Alasannya pun dia tahu, karena kami gak punya kesempatan untuk ngobrol secara langsung selain menjalani CMC relationship a.k.a Computer Mediated Communication. Mungkin, bosen. Mungkin, sudah tidak lagi seasyik dulu.

Memang iya, tapi gue telat menyadari.

Bahwa kecil kemungkinan untuk memperbaiki fondasi yang rapuh sendirian ketika ada dua orang di dalam bangunannya. Ini bukan lagi masalah atap kami yang bocor atau kurangnya variasi makanan dalam dapur; fondasi kami bermasalah. 

Jadi awal mulanya ketika dia sibuk bukan main. Suatu malam dia berjanji sama gue di bulan Juni dia akan kembali baik-baik saja. Tapi dia gak menepati janji itu dan rasanya semakin besar jarak yang ada. Gue mulai mencoba mengerti tapi sayangnya tidak semudah itu. Gue sering protes sama dia. Kita sering banget berantem. Sampe akhirnya ada 3 kali gue marah sama dia di akhir bulan Ramadhan dan menjelang perkuliahan berlangsung kembali; bukan marah karena marah, tapi marah karena kecewa.

And booms, all this awkwardly fucked up things happened.

He was there, but he wasn't him whom I known.

Pernah gak sih lo merasa rindu pada seseorang di tengah keramaian? Rindu pada jam 2 siang saat lo beli dumdum, dan berusaha untuk tidur nyenyak jam 2 pagi agar memori baik yang tersimpanlah yang terputar bukan overthinking yang terjadi? Mungkin gue saat segala kesibukan mendatangi gue selama 2 minggu ini. Alhamdulillah gue dapet banyak kerjaan sesegeranya gue kembali ke Jakarta dan insiden berantem kamipun terjadi. Tapi setiap kerjaan dan rejeki yang datang ke gue, selalu saja mengingatkan gue pada dia.



Gue seakan akan sedang memperbesar dunia gue ketika dia masih ada di bagian centralnya. Lalu seiring dengan berjalannya waktu, prioritas utama gue pun berubah segmentasinya dan diapun terpinggirkan sedikit demi sedikit tanpa gue sadari. Dan itulah saat di mana gue berpikir, "oh shit, this is what he felt about me."

Ketika dunianya membesar dan gue masih ada di sekitar dia, tapi dia gak cukup ruang dan waktu untuk approach gue karena dia punya banyak hal yang menggeser kehadiran gue. Sama dengan gue yang mulai berhenti berusaha approach dia, bisa mulai berpikir "oh yaudah gue nanti aja nyapa dia" atau memilih untuk kerja daripada menceritakan hari gue sama dia.

Gue merasa dia memberikan ruang pada gue supaya gue tumbuh dan berkembang sendiri. Berusaha untuk mandiri dan gak lagi tergantung sama dia. Gue harus bisa memutuskan apa yang baik untuk gue tanpa harus mendiskusikannya dengan dia. Karena gue sadar ada masa di mana kami berdua bahkan untuk tidur pun mendiskusikan bersama. Seiring dengan dunia satu sama lain yang meluas, hal hal semacam itulah yang akan tergeser dan sedikit demi sedikit pun menghilang.



Seperti tadi malam saat gue cerita hari hari besar gue dan dia hanya membalas seadanya, atau saat gue cerita bagian membahagiakan dari hari gue dan dia malah hilang gak bales chat gue. Gue gak tahu apa motivasi dia. Kecewa? Jelas. Karena seinget gue kalo dia cerita gak pernah tuh gak gue dengerin. Tapi itu kan dulu dan keadaan sekarang berbeda.

Dia yang sekarang bukan dia yang sama kaya dulu.

Dan gue yang sekarang gak boleh bertahan jadi gue yang sama kaya dulu.

Semua ini bener bener nyakitin gue, apa rasanya kalo orang yang lo anggap berharga dan teman baik lo malah bikin lo jadi orang paling gak penting sedunia? Meanwhile, gue juga percaya memaksa dia balik kaya dia yang dulu cuman nyakitin dia. Dengan segala history kami, gue percaya dia hanya mau kasih yang paling baik sebelum gue dan dia beranjak lebih jauh dari ini.

Lalu gue melihat pada pantulan diri gue di cermin dan berkata, "lo ngapain approach orang yang gak mau diusahain sama lo?"

Karena komunikasi itu bukan masalah bisa atau gak bisa, tapi mau atau gak mau. Dan jelas, dia gak mau. Dia gak mau. Dia udah set his own boundaries where he doesnt want me to involving much in his life. Terserah dalam tujuan dan goals apapun itu, yang jelas dia gak mau gue terus menerus ada di hidup dia seperti dulu.

While gue juga menyadari bahwa kalo dia terus ada di hidup gue, gue akan statis. I might improved some of my skills, tapi pasti kembali lagi pada dia, dia, dia dan dia. And it hurts me to see him changed in the past 2 months.

Tadi malam, gue bercerita tentang hal terbaik yang terjadi di hidup gue. Dan dia gak sebegitu pedulinya lagi seperti itu. Gue pun mengirimkan 3 balasan kepada dia. Lalu gue memilih tidur dan terbangun tanpa pesan dari dia. Dan apa yang gue lakukan? Gue buka laptop gue dan berpikir..

Gue gak bisa gini terus, gue gak bisa nyakitin diri gue sendiri karena itu berdampak sama dia juga. Gue percaya time will heal the pain. Gue percaya kalo hubungan kami baik, pasti ada jalan untuk kembali baik.

Jadi...

Gue berani membenahi apa yang perlu dibenahi, menghilangkan apa yang perlu dihilangkan, membuang apa yang tidak perlu disimpan.

I set my boundaries to heal the pain he gave. I set my boundaries to take another step of my life.

Gue gak mau lagi membiarkan apapun yang dia lakukan mempengaruhi mood gue, bagaimana cara dia approach teman teman gue dan mengabaikan gue mempengaruhi rasa percaya diri gue, bagaimana dia tidak menghargai apa yang gue berikan seperti apa yang gue harapkan mempengaruhi kebahagiaan gue.

Gue tidak akan membiarkan dia membuat gue merasa sia-sia melakukan segala kebaikan. Gue percaya yang dia mau adalah melihat gue fokus dan bahagia dalam hidup gue. Bukan berusaha approach dia dan sedih karena dia. Gue percaya dia akan baik baik saja. Dan gue percaya gue pun akan baik baik saja.

Karena sebelum dia ada pun, gue baik baik saja, kan?


But I tell you dude, you hurt me too much. And I hurt you too.


So let the time heal our pains.







With love,
your little trouble maker.


You may also like

1 comment:

  1. Artikel ini sangat kreatif semoga bermanfaat bagi semua terima kasih admin :)

    Agen poker online
    Enam Dewa

    ReplyDelete

Leave me some comment! Thank you, guys:}