To The Guy I've Loved Before; Inadvertent

Siang itu, seorang Aluna Serena akhirnya lupa sejenak akan kehadiran Gerardo Wijaya di muka bumi ini.

Aku menyadari apa yang aku lakukan hanya menambahkan luka pada kami berdua. Luka yang tercipta karena ekspektasi pada masing - masing; Gerry punya 100 persen standar tentang cewek yang dia inginkan, ia berhadapan denganku yang menurutnya hanya mampu memenuhi 20 dari 80 persen ekspektasinya padaku. Sementara dari 100 yang aku punya, tanpa usaha terlalu banyak, Gerry bisa memenuhi 80 persennya selain kebiasaannya yang menarik ulur dan perbedaan di antara kami.

Kata orang, kita cenderung mendengarkan segala nasehat yang masuk ke dalam diri kita ketika orang yang memberikannya sudah pergi. Gerry tidak pergi, ia masih ada di sekitarku. Tapi Gerry yang ada di sekitarku tidak lagi sama dengan Gerry yang dulu. Amarah di antara kami dan sikap tidak pernah mau mengalah menimbulkan hasil sama - sama menyerah.

Gerry selalu seperti itu, seenaknya datang dan pergi tanpa pernah memberikan tanda. Ada kalanya di mana aku dan Gerry sangat dekat. Saat di mana ia akan membawa bunga untuk Ibuku dan bercanda denganku sampai langit dimakan senja. Tapi pada saat aku mulai mengutarakan apa yang kurasakan, Gerry hilang ditelan bumi dan ia merasa itu baik baik saja ketika sebenarnya sikapnya telah membunuh orang lain.

Aku sering protes padanya sampai akhirnya ia marah dan kali ini tidak ada satupun penjelasan dari segala hal yang ia lakukan padaku. Hanya sebuah kata "terserah" pada pesan singkat yang aku terima 10 jam setelah aku mengeluarkan segala unek unekku. Gerry berekspektasi dimengerti; iya aku tahu kehidupannya sangat sibuk. Dia duduk di tahun pertama dan berkuliah di salah satu universitas swasta terkenal di Jakarta. Harusnya aku bersyukur masih punya waktu bersama Gerry. Tapi aku juga ingin Gerry mengerti; aku hanya butuh penjelasan untuk setiap hal yang ia lakukan, aku hanya butuh peringatan sebelum ia menarik diri karena kesibukannya.

Kita berekspektasi untuk dimengerti, namun pada akhirnya tidak ada yang mengerti satu sama lain.




Gerry dan segala hal yang terjadi mampu membuatku berekspektasi untuk bersamanya jauh lebih lama daripada ini. Persetan dengan menunggu perasaannya yang jelas jelas tidak pernah pasti, tapi tanpa memilikinya pun aku sudah memiliki Gerry. Kalimat yang terdengar rumit namun itu yang selama ini aku rasakan, aku sudah punya Gerry-ku. Aku tidak butuh sesuatu yang lebih rumit dari dirinya, cukup Gerry ada di tempat di mana ia seharusnya berada di hidupku. Tapi Gerry marah dan memilih pergi.

Celakanya aku terlalu menyayangi Gerry untuk terus memendam amarah dan kecewa ini padanya. Aku ingin semua baik baik saja, tapi Gerry tidak pernah bisa dengan mudah di kembalikan ke kehidupanku. Ia akan datang dengan sendirinya di saat saat tak terduga. Bahkan ketika aku merasa sudah bisa berdiri sendiri tanpanya, Gerry akan muncul dan membuat benteng pertahananku buyar.

Lalu hari ini aku bertekad untuk tidak membuka handphone-ku yang jelas tidak akan ada pesan muncul dari Gerry, tidak membuka facebook atau yahoo messanger-ku, tidak melakukan apapun yang bisa mengingatkanku pada Gerry. Aku menyibukkan diriku dan mengerjakan segala hal yang aku bisa kerjakan di klub TV. Semenjak aku menjadi vice president, aku harusnya jauh lebih aktif daripada hari ini.

Aku berhasil lupa bahwa di dunia ini ada seorang Pratama Gerardo Wijaya, cowok termanis yang membawakan bunga lili untuk Ibu, bicara sangat sopan pada Ayah, mencoba mendekatkan diri pada Ko Axcell dan bisa berbaur sangat cepat dengan teman temanku, terutama Serafine Sharon. Aku lupa pada Gerry. Ya, ini adalah langkah yang baik. Karena Gerry dengan segala kesibukannya pasti tidak ingat juga padaku.

Aku baru selesai membantu tim produksi news ketika aku sadar aku belum membayar siomai yang aku makan di kantin. Lalu aku memutuskan untuk keluar dari ruang TV dan entah mengapa pandanganku langsung tertuju pada tangga di dekat ruang medical center di mana seorang cowok dengan hoodie birunya sedang duduk bersama tumpukan kertas dan kamera di lengan kanannya. 

Tidak, aku tidak boleh kabur. Hal tersebut adalah kalimat pertama yang muncul di benakku kala aku mengenali rambutnya yang acak acakan dan jemarinya yang terlihat dari jauh. Aku menghampirinya dan berkata, "hey.. Kamu ngapain?"

Matanya sontak menatapku, melirik ke tumpukan kertas kertasnya dan kembali menatapku lagi. Aku menatap matanya untuk memastikan dia baik - baik saja. Jelas sekali kantung mata dan wajahnya yang lelah tidak bisa membuatku merasa lega. Khawatir itu ada, tapi apa dayaku. Gerry kan sedang marah padaku.

"Eh, iya.. Yang baru-"
Sebelum aku membiarkannya bicara, aku menyodorkan tanganku terlebih dahulu, "Happy Vesak Day, Gerry. Semoga kamu selalu bahagia."
"Iya, Happy Vesak Day, Luna. Semoga kamu juga bahagia.." Sahut Gerry sambil tersenyum canggung, mungkin dia bingung kenapa aku bisa baik - baik saja padahal baru beberapa hari yang lalu aku marah padanya.
"Hehehe aamiin. Yaudah, dadah!" Seruku lalu berbalik meninggalkannya.




Seakan akan Tuhan dan alam semesta berkonspirasi untuk mempertemukan mereka yang berharap tidak dipertemukan. Aku merasa menyesal menyudahi percakapan itu begitu saja. Harusnya aku menyinggung pertengkaran kami yang terakhir kali, harusnya aku mengklarifikasi keadaan kami. Namun mengingat wajah Gerry yang terlalu lelah untuk bertengkar denganku membuatku mengurungkan niatku.

Namun aku rindu padanya.

Jadi aku pun berbalik dan melihatnya lagi, mencoba mencari pertanyaan yang bahkan tidak perlu aku tanyakan padanya. "Kamu liat Lina?"
"Hah? Enggak."
"Oh, okay."

Aku pun berjalan meninggalkan Gerry menuju ke kantin. Sebenarnya bukan itu yang ingin aku katakan. Sebenarnya aku tidak mau membuatnya marah lebih lama. Sebenarnya aku ingin mengerti dia dan segala kesibukannya karena aku tidak ingin dia tidak ada di hidupku. Gerry bukanlah pacarku, ia bukanlah seorang sahabat, tapi dia bukan hanya teman bagiku. Gerry adalah Gerry. Tempatnya tidak akan tergantikan meski ada seribu orang yang berusaha menggantikannya.

He will always be my Gerry.

Dari kaca besar yang ada di kantin, aku bisa melihat bayangannya berjalan menjauh menuju parkiran. Mungkin urusannya sudah selesai di SMA-nya. Mungkin dia harus kembali ke dunianya yang terlalu luas untuk aku mengerti. Mungkin dia benar benar terlalu sibuk untuk sekedar membagi dunianya denganku.

Sebenarnya aku sudah sangat senang berhasil lupa pada Gerry, namun aku tidak bisa berbohong.. Kejadian itu adalah sebuah ketidaksengajaan, namun aku bahagia. Bahagia karena masih bisa melihat senyum separuhnya, bahagia melihatnya masih bernapas dan baik baik saja, bahagia untuk sekedar mendengar suaranya menyebut namaku.

"Jangan marah terlalu lama... Aku rindu." Sahutku ketika bayangan sosok Gerry sudah hilang dari jarak pandangku. Gerry akan selalu begitu, datang dan pergi. Tapi aku percaya Gerry mengerti kenapa aku begitu menjaganya, seperti akupun sebenarnya mengerti kenapa ia berusaha untuk tidak selalu ada.

Karena begitulah Gerry menjaga supaya hatiku tidak lagi patah karena pengharapannya, karena begitulah aku menjaga supaya ia tidak lagi membuatku merasa kehilangan.


To: gerardo.wijaya@gmail.com
Subject: Hey

Missing you comes in waves.
Now, I'm drowning, Gerry.
-Aluna


(saved on draft)


***


Baca cerita tentang Luna dan Gerry dari To The Guy I've Loved Before di Turning Page by Tipluk. Bisa langsung pesan di aku dengan menghubungi:

WhatsApp / Line: +82127072712 / rizkirahmadania
e-mail : rizkirahmadania@yahoo.com

atau langsung klik website nulisbuku dan pesan bukumu. Happy reading!







Sudirman Park, July 4th 2017
"Mau ditelpon?"
Iya, mau.


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}