Mendukung Untuk Didukung

"Harusnya kamu bersyukur kalo kamu tahu dia sibuk kerja buat masa depannya. Daripada dia 24/7 selalu ada ngechat dan telpon kamu, kapan dia bangun masa depannya? Suatu kesalahan untuk marah karena dia sibuk untuk masa depannya, tapi wajar juga kalo kamu minta sedikit waktu. Tapi coba ngertiin dulu biar dia ngertiin kamu juga."

-Kakak gue, tiba-tiba, dan gue makan donburi aja.

***

Punya hubungan sama orang paling sibuk daripada presiden Republik Indonesia bukan perkara mudah. Ketika gue mengharapkan untuk diperhatiin tapi dia punya kesibukan yang jauh lebih penting daripada gue. Ketika gue mengharapkan untuk dia ada tapi dia juga punya keluarga dan orang orang terdekat lainnya yang lebih harus diperhatikan daripada gue. Singkat cerita gue sering banget ngambek sama dia padahal dia selalu berusaha kasih waktu dia buat gue walaupun hanya sebentar. Kami pun terjebak dalam hubungan yang gak sehat di mana gue selalu nuntut sementara dia sendiri yang tadinya peduli berubah menjadi masa bodo. Lalu sampai di mana dia marah banget sama gue karena menurut dia gue gak ngertiin dia.

Hanya saja perubahan yang tiba tiba dan dunia dia yang menjadi jauh lebih luas daripada biasanya membuat gue yang biasanya jadi prioritas tentu saja kaget ketika tidak lagi punya nomer nomer pertama dalam harinya. Dari marah, kesel, nangis sampai berusaha bersyukur sendiri udah gue lalui tapi gue tetep aja ngerasa kecewa. Apalagi mengingat dia yang hilang ketika gue lagi butuh butuhnya dia.

Sampai akhirnya, dia balik sendiri. Walau gak seutuhnya seperti dia yang dulu, tapi dengan kedewasaannya dia balik lagi. Tapi sayangnya hubungan ini gak semanis dulu, dimana pertanyaan klasik khas dua orang yang sedang perhatian tidak lagi bermunculan. Jarang gue mendengar dia bertanya gue dimana, dengan siapa, sudah makan belum. Hal hal yang selalu gue anggap sebagai tolak ukur perhatian seseorang. Lalu gue pun membaca beberapa novel dengan latar kantoran dan melihat kakak kakak gue yang sudah menikah. Amazingly, cara dia ngetreat gue dengan orang orang dewasa yang gue lihat itu sama persis. 

Gue tau dia jaga gue, gue tau dia perhatian sama gue. Tapi rasanya untuk dia yang mendekati 21 tahun dan segala kesibukannya, udah gak lucu lagi buat absen setiap saat, nanya nanya posesif.. I know, for some people, dan buat gue sendiri, itu sangat menyenangkan. Tapi orang yang di hadapan gue bukanlah tipe yang seperti itu (lagi, dulu pernah, lalu cape kayanya wkwk). Dan gue menyadari untuk bisa dimengerti sama dia, gue harus ngertiin dia dulu. Karena hubungan ini bakal terus menerus panas kalo gak ada yang ngalah, dan selama ini, dia sudah sering mengalah untuk gue....

Lalu ini faktanya, bahwa ketika cowo kamu sibuk gak punya waktu buat chatan atau telponan atau sekedar ketemu, tapi kamu tahu mereka kerja, berhenti curiga dan overthink. Lucunya suatu malam gue pernah nanya, "kamu ada deket sama cewek lain ya?" dan dia ketawa, "kerjaan aku aja banyak, ngeladenin kamu aja gak bisa, gimana mau deket sama yang lain?"

Sama dia, gue percaya bahwa kalo guenya aja curigaan sama dia, gimana dia bisa dipercaya? Gimana gue bisa tahu kalo dia gak akan macem macem dan akan ada buat gue? 

Sama dia.. Gue belajar berhubungan layaknya orang dewasa. Ngambek sebutuhnya, manis manis sewajarnya, dan rasanya dengan jarak yang ada di antara kami.. Dengan ruang yang melebar.. Gue jadi ngerasa bener bener seneng kalo ketemu dia, dapet chat dari dia, ditelpon sama dia. Jatuhnya seperti jatuh cinta berulang ulang kali,  bukan lagi sebuah keharusan untuk mengabari dan sekedar absen harian. Jadi ada sesuatu yang ditunggu, ada yang dirindukan, ada yang bisa mengisi di sela sela kesibukan.

Toh seperti katanya, kata orang kita bertemu dengan orang lain, saling berhubungan, kadang memang bukan untuk menikah, tapi untuk memotivasi satu sama lain. Betul?


Ini cheesy sih, tapi gue sangat beruntung punya orang sabar yang mau menemani gue 10 bulan ini. Meski dia datang dan pergi, marah marah, maki maki, tapi gue tau.. Dia patut gue pertahankan. Karena terlepas dari apapun itu yang dia berikan jauh lebih berharga daripada orang orang sebelumnya, yang bisa mengisi dan memanjakan gue sesuai yang gue mau. Dia membuat gue merasa bahagia dengan caranya sendiri, membuat gue belajar berkompromi dan menerima bahwa gak selamanya di hidup gue selalu sama seperti apa yang gue mau.

Dia yang membuat gue tahu bahwa perasaan dan perhatian gak selalu diungkapkan dengan cara yang cheesy, malah bisa secara kasar atau tersembunyi. Dia yang membuat  gue bisa berdiri sendiri dan memahami arti kerja dan berusaha sesungguhnya. Dia yang membuat pemimpi ini bisa berubah menjadi pekerja keras untuk mewujudkan segala keinginannya.

Semoga mendukung segala langkahnya adalah cara terbaik untuk memahaminya karena lucunya dengan segala kekurangan gue, dia selalu ada untuk melindungi dan mendukung gue tanpa pernah lelah.





Terima kasih, bos besarku.


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}