Question of The Week: Kenapa Mempertahankan Seseorang?


"We need to talk" adalah kalimat yang paling gue benci dari hubungan gue dengan dia. Meskipun kedengarannya jauh lebih baik daripada gue harus nyanyi "We Don't Talk Anymore" milik Selena Gomez dan Charlie Puth lalu di-medley dengan lagu "Don't Wanna Know" milik Maroon 5 saat kami lagi diem dieman. Rasanya setiap kali kalimat itu keluar dari mulut masing masing, yang ada hanyalah emosi bercampur rasa kecewa.

Most of the time yang bikin kami berantem adalah ekspektasi masing masing yang gak terpenuhi atau janji yang gak ditepati. Dia adalah orang paling penyabar dan penyayang yang pernah sama gue. Kenapa? Karena gue itu gak pernah sesuai dengan keinginan dia, tapi dia selalu bisa berusaha kompromi dengan keinginan dan standarnya terhadap gue. Sampai akhirnya hampir 11 bulan kita terjebak pada hubungan siapa yang paling bisa kuat bertahan.

Seringkali orang yang melihat gue hanya bisa menatap gue dengan penuh tanda tanya setiap mereka tahu gue masih sama dia. Like literally they couldn't understand why after all those 11 months of dramas, we're still running back each other -or for the good word, i think stay is the right one. We stay to each other. 

Then the question come over when he met my family: "why? What happened to both of you? Don't you guys just get tired of each other? Or have you guys finally decided to be together?" I honestly don't know how to explain the situation, but the one day someone asked me this question and I think.. I need to answer it.

"Kenapa mempertahankan dia?"

Okey, here's the deal.

Di dunia ini ada beberapa hal yang gak bisa lo jelaskan begitu saja dengan kata - kata dan gak semua orang harus tahu alasannya. Terlepas dari segala perbedaan kedua belah pihak, terlepas dari siapa yang lebih memperjuangkan siapa, selalu ada alasan yang kuat lebih dari kata "aku sayang kamu" untuk mempertahankan sebuah hubungan yang dalam kesehariannya gak punya cerita super manis kayak di Korean Drama atau Disney Princess Stories di mana sang pangeran akan rela mati demi putrinya.

Gue belajar untuk berhenti menjelaskan kepada orang orang kenapa dia penting untuk gue, kenapa gue bertahan untuk dia, kenapa kami masih berhubungan sampai sekarang. Kenapa? Karena semakin gue beranjak dewasa, semakin gue tahu siapa yang pantas untuk gue pertahankan dan gue sadar bahwa apapun yang gue pilih, resikonya pun harus gue yang tanggung sendiri. Meanwhile banyak orang yang akan bilang, as a "good friend", dengan nada agak kasar, "gue sih terserah lo ya. Gue udah bilang dia gak baik buat lo. Gue gak mau denger lagi lo nangis karena dia." Padahal menurut gue, temen yang baik itu akan mendengarkan, kasih saran dan jadi rumah untuk pulang. Whatever happened sama si orang yang memilih, ya terserah dia. Tapi sebagai teman, kita gak boleh memaksakan kehendak atau malah pergi karena orang tersebut gak mau nurut sama kita.

Kalo mau bicara tentang meninggalkan, gue pengen ninggalin dia, despite of every differences between us. Gak cuman masalah identitas yang kami hadapi, tapi personality, dunia kerja yang berbeda, lingkar pertemanan yang berbeda sampai cara memilih tempat makan yang berbeda. Banyak banget beda di antara kami dan tentu saja dia sering membuat gue kecewa. Selain itu, banyak banget yang komporin gue, apalagi komporin dia. Mostly menganjurkan untuk meninggalkan satu sama lain. Sampai ada kok beberapa temen gue yang gak mau lagi ngobrol sama gue apalagi dengerin cerita gue soal dia karena mereka ngerasa gue batu dan gak mau make advice mereka.

Tapi kenapa gue mempertahankan dia bukan cuman sekedar faktor "aku sayang kamu" atau "terlalu  banyak kenangan manis di antara kita." Gue bertahan karena gue tau dia adalah orang yang pantas gue pertahankan dan siapa yang tahu kalo dia pantas ya gue sendiri, bukan orang lain. Bukan teman teman gue. Bukan teman teman dia. Bukan pembaca gue. Bukan lingkungan dia.

Kalo bicara tentang beda yang bisa memisahkan, dari awal mulai kenal juga udah beda. Udah jelas kami tuh gak punya kesamaan kecuali gue yang mengerti dunia dia dan dia yang paham akan dunia gue. Dunia di mana gak ada jam pulang tetap, cari inspirasi, comot kerjaan sana sini. Dunia yang penuh hal hal baru. 

Kalo bicara tentang capek yang bisa memisahkan, gue mah capek ngehadepin dia. Gue capek minder masuk ke dunia dia. Gue capek gak pernah paham akan kode kode dia. Gue capek. Dia pun capek ngehadepin gue yang katanya childish setengah mati. Dia juga capek ngurusin gue. Dia capek ngeladenin manjanya gue. 

Tapi gue bertahan, karena gue tahu dia pantas gue pertahankan.

Gimana caranya gue tahu dia pantas gue pertahankan? Ada beberapa orang yang datang ke hidup lo cuman buat hura hura, bikin lo bahagia, nyakitin lo doang, bikin lo insecure sama cewek lain, bikin lo nangis, bikin lo marah, jadi sunshine di tengah tengah badai lo, ngerubah segala perilaku buruk lo, bikin lo kuat sama dunia ini, bikin lo menghargai hidup lo atau malah pengen mengakhiri semua perjuangan lo. Terkadang lo cuman dapetin satu, dua sampai tiga hal tersebut dalam satu orang. Tapi ketika lo bertemu satu orang yang tepat, orang baik yang nyakitin lo untuk merubah hari lo jauh lebih baik, sudah pasti dia adalah orang yang pantas lo pertahankan. Karena gak semua hubungan itu tentang sunshine and rainbow, sometimes kita harus ketemu sama rain and strom to make them stay alive. Right?

Jadi kalo lo sayang sama seseorang, coba berpikir rasional, apakah kalo lo disakitin lo akan disitu situ aja atau berkembang jadi lebih baik? Apakah secara logikanya dia pantas untuk dipertahankan dengan segala hal yang dia berikan ke elo?

Pertanyaan ini bukanlah pertanyaan yang harus lo tanya sama orang lain. Ke sahabat lo, nyokap lo, bokap lo, adek dan kakak lo. Pertanyaan ini adalah pertanyaan setiap lo selesai beribadah, pertanyaan ketika hati lo tenang dan murni semurni murninya. Tanyakan pada diri lo, Tuhan pasti bantu menjawabnya.

Yang jelas hasil tuh gak pernah mengkhianati perjuangan kok. Tapi tentu saja, meski lo mempertahankan orang yang berharga untuk lo, jangan pernah lupa.. Ini hubungan tentang kalian berdua, bukan tentang lo doang atau dia doang. Belajar untuk kompromi dan jangan membebani. Belajar untuk mendewasakan diri bahwa ini hubungan kalian, it has nothing to do with you guys pasts relationship or your friends thought. Eventhough gue percaya opini orang terdekat di hidup kita akan pasangan kita itu penting. Tapi kembali lagi, untuk tahu siapa yang pantas dipertahankan, tanya sama diri lo sendiri. 

Is he worth enough for me?


A post shared by Rizki Rahmadania Putri (@rizkirahmadania) on




You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}