Terima kasih, kamu.

Terbangun di tengah malam bukan lagi hal yang asing buat gue. Tapi malam ini gue gak sendiri lagi. Bos besar yang sudah lama hilang kembali lagi. Meski mungkin obrolan kita semakin "penting", tapi cukup banyak yang berubah di antara kita. Di mana bete betean yang kemarin kami rasakan berubah jadi canda dan tawa yang bisa mencairkan suasana. Di mana rasa kecewa gue akan ketidak hadiran dia tidak lagi terasa dan "iya, kamu berubah sedikit lebih baik" akhirnya keluar dari mulut dia.




Dia gak sempurna, bahkan dia bukan orang yang mungkin membuat kamu dengan mudah jatuh hati. Tapi dia membuat gue yang duduk jam 3 pagi ini menjadi seperti ini.

Back to 11 months ago waktu gue baru pindah ke Jakarta.. Gue baru aja putus di bulan Juli, di mana gue diselingkuhin hahaha (apa kabar kamu dan selingkuhan kamu? #nyinyir2017). Gue baru aja kehilangan banyak teman teman gue karena baru pisah. Gue baru aja masuk ke dunia yang ajaib di mana bilang mau jadi PR, penulis, bussinessman sampai jadi artis pun gak lagi dipandang sebelah mata. Gue bener bener fresh graduate yang masuk kuliahan deh.

Lalu gue ketemu dia, orang yang di hari pertama pertemuan kami udah bikin gue underestimate. Orang yang gue gak menyangka kehadirannya akan se-powerful ini. Orang ini berhasil bikin gue tertawa setengah dengan jokes super garingnya pas nge-MC dan buat gue degdegan setengah mati pas sebelahan sama gue (and I never knew kenapa sih gue sedegdegan itu, bahkan sampai sekarang!!).

Orang ini nemenin gue 24/7 dan ngajarin banyak hal buat gue. Dia adalah orang termanis yang gue kenal selama ini. Semanis itu untuk hanya tanya "kamu kenapa belum makan?" dan membawa seporsi siomai enak di lingkungan dekat rumah gue. Semanis itu untuk hanya telpon jam 12 malam, sekitar 13 menit, sekedar memberi kabar, menanyakan kabar dan menyuruh gue tidur. Semanis itu untuk bercerita segala hal yang terlalu cepat untuk diceritakan pada orang yang baru kamu kenal selama 2 minggu.

Kurang lebih 1 bulan hidup gue sangat manis, semanis itu dengan punya dia, cukup ada dia, lengkap sudah hari gue. Meski setelah sebulan pertama.. Ada beberapa kali di mana kami saling meninggalkan satu sama lain, tapi alam semesta seakan membiarkan gue dan dia bump into each other tiap kali magnet kami berusaha menjauh. Atau lucunya gue sengaja ada di dekat dunia dia dan dia sengaja masih mau menarik gue masuk.

Sampai akhirnya ada satu insiden di akhir tahun lalu saat dia memutuskan untuk shut me up setelah memaki gue karena kesalahan gue. For your information selama gue deket sama cowok, gak pernah ada satupun yang marah sampe ngemaki gue. Dan cuman dia, orang yang baru gue kenal kurang lebih 4 bulan, berani maki gue dan ngata ngatain gue childish di saat hampir setengah dunia gue memuji karya gue dan bilang, "wow lo sedewasa itu sekarang."

Gue kira kami berhenti disitu. Iya, seharusnya, normalnya, kalo kami sama sama normal, no one bump into each other anymore. Lalu kami bermain permainan siapa yang lebih bahagia daripada siapa di mana setiap jam 2 malam gue terbangun karena gue masih selalu merasa bersalah sama dia karena bikin dia marah, tapi yang dia lakukan adalah buat gue berpikir keras akan kebahagiaan yang ia rasakan pada saat itu. Bayangin aja ketika gue lagi struggling, dia malah happy happy. Satu satunya cara ya gue berusaha kelihatan happy juga. Kami jadi orang yang pengumbar kebahagiaan, di mana akhirnya mungkin kebahagiaan yang sebenarnya kami rasakan jatuhnya hanya untuk saling memenangkan ego masing masing.

Kejadian paling epic adalah ketika jam 2 malam gue kangen banget sama dia. Waktu itu sedang masa masanya snapchat di mana gue akan kode luar biasa, bukan cuman kode sih, curhat malahan, di snapchat. Gue bilang, "i really miss your night call." Lalu gue lihat 15 menit kemudian nama itu muncul di list viewers, dan dia langsung update lagi grup call dengan teman temannya. Besoknya gue juga update grup call dengan teman teman gue di jam yang sama. Permainan itu cukup melelahkan sebenarnya, di mana siapa harus terlihat lebih bahagia atau yang lain setidaknya tidak boleh sebahagia itu.

Gue kira kami benar benar tidak akan bicara lagi. Apalagi kejadian di hari ulang tahun gue di mana setelah satu semester gue kenal dia, pertama kalinya gue papasan sama dia di depan kampus LSPR B yang ada di Supark saat gue akan berangkat ngampus. He didn't even say hi, or worst, dia bahkan gak ucapin gue happy birthday meanwhile his friends did. Sampai akhirnya jam 11 malam dia chat gue, tapi gue udah keburu mati rasa and I thought, yes we're done.

Tapi sialnya, dia gak hilang gitu aja (well I wished he did, but honestly I wished he wont hehe). Karena dua hari kemudian ada insiden yang membuat gue harus malu di depan dia, tapi mungkin enggak di depan orang lain. Lalu adalagi insiden yang dia lakukan semacam membalas ke childish-an gue pas Desember bikin dia marah, dia bikin gue marah dan kecewa banget sama dia. Gue memutuskan untuk nulis Turning Page setelah kejadian tersebut. Tapi dari hari itu, gue percaya bahwa ada sesuatu di antara kami yang gak pernah bisa diungkapkan meski lewat kata kata. Its just our unusual attention even after we hurting each other. But he liked it as I did.

Dia muncul lagi dan membuat pernyataan. Perminta maafan yang gue gak pernah suka kalo inget lagi. Itu akhir Januari 2017 di mana gue baru sadar bahwa mendengar orang yang lo sayang memohon akan pengampunan lo karena gak bisa memenuhi ekspektasi lo adalah sesuatu hal yang rumit, sakit dan jelas mengecewakan buat diri lo sendiri. Ini adalah sisi yang gak pernah dia tahu, bahwasanya setiap gue membuat dia kecewa dan dia yang minta maaf karena gak bisa memenuhi keinginan gue adalah momen yang paling gue benci. Gue tidak pernah ingin lihat dia marah dan kecewa pada gue, tapi gue lebih tidak ingin dia meminta maaf akan apa yang dia lakukan demi menyelamatkan perasaan gue.



Lalu kami pura pura sibuk, tapi sebenarnya saling memperhatikan satu sama lain. Itu adalah masa liburan semester di mana gue sedang dalam  perjalanan ke Malaysia dan akan menulis buku Turning Page. Beberapa hari sebelumnya adalah kali pertama gue mengambil foto bersama dia, dengan warna baju senada dan kemeja birunya berubah alih menjadi pakaian favorit gue selain polo shirt warna putih. Kami jadi berbincang lagi setelah pertanyaan singkat darinya di snapchat pagi itu, sekitar jam 9 pagi saat gue sedang di Bandara Soekarno Hatta.

"Any good story?"

Akhirnya dari bulan Februari sampai Juni kami intens ngobrol di chat dan telpon. Berantem berantem bego yang membuat bete beberapa jam lalu kembali tertawa lagi. Saling bikin senyum, saling kirim semangat, saling perhatian dengan caranya masing masing. Sebenarnya bukan hanya gue, tapi dia juga sudah sadar bahwa kami masih memperhatikan satu sama lain. Intensitasnya sama, hanya saja cara penyampaiannya beda. Lalu gue teringat, itu adalah April saat dia bilang dia akan mulai sibuk lagi. Gue lagi kangen kangennya dan gue nulis insta story, "couldn't miss you more than this." And what a surprise when he repiled mine karena dia gak pernah bereaksi apapun dari insta story gue. What he never knew is.. Reaksi gue saat terbangun dan baca direct message itu juga sama seperti saat dia telpon gue jam 12 malem di tengah eventnya cuman buat ngabarin doang.

Brengsek kan dia? Emang. Makanya gue sayang banget sama dia.

Sesayang itu untuk percaya ketika dia bilang, "nanti Juni udah gak sibuk kok." Padahal gue tahu dia itu hanya basa basi -atau bohong karena sebenarnya dia juga sadar ini tidak akan terus bertahan seperti ini. Suatu hari nanti kami akan terpisah oleh jarak dan kesibukan masing masing, di mana waktu yang seharusnya menjadi peluang untuk tetap mempersatukan malah tidak lagi ada dan entah hilang ke mana.

Tapi dia selalu ada di sekitar hidup gue, bahkan ketika gue mencoba membencinya. Percaya gak? Mungkin terdengar seperti mengada - ada, tapi kemana pun gue pergi selalu ada nama dia sebagai bayangannya, atau parahnya dia adalah bagian dari apa yang gue tuju. Lalu kesibukan itu melanda dan gue sebagai anak freshman year jelas kaget melihat dia yang sibuk dengan masa depan dan pekerjaannya. 

Yang kalian harus ketahui dalam hubungan ada yang namanya ekspektasi antara satu dan yang lain. Sayangnya ekspektasi kami berdua berbeda, dan manusia ini adalah manusia berlogika tinggi. Sedangkan ia lupa sedang berhubungan dengan manusia berpikiran campur perasaan seperti saya. Alhasil ketika dunianya meluas, membesar dan tiba tiba berbeda dari biasanya, dia lupa atau sengaja melupakan gue. Atas nama kebaikan dan supaya gue menjadi lebih dewasa, dia menyisihkan gue begitu saja dari dunianya dan jelas mendapat penolakan keras dari gue. Tentu saja dia gak suka dengan gue yang gak kompromi dengan keinginan dia (meanwhile dia juga gak mau kompromi sama gue, ngeselin banget kan wakakak). Akhirnya dia pergi lagi.

Tapi ketika kali ini dia pergi, gue diterpa badai yang jauh lebih sering daripada ketika dia pergi akhir tahun kemarin. Gue gak punya waktu untuk nungguin chat dia, nunggu dia punya waktu buat dengerin cerita gue dan kasih advice... (Oke, semanja itu gue sama dia. Percaya gak sih untuk ngomongin mau makan apa aja gue ngomongnya ke dia? Ya ya ya, silahkan hujat gue.) Akhirnya gue terbiasa untuk membereskan masalah gue sendiri TANPA update di socmed atau nangis nangis ambil nulis posting demi mendapat jawaban. Setiap masalah yang ada cuman gue ketawain lalu sialnya masalah lain juga muncul di malam yang sama. Jadi setelah gue ketawain, gue belajar untuk membereskan satu persatu dan akhirnya selesai juga.

Pernah sih satu malam gue fucked up banget sama sekeliling gue dan gue butuh dia, tapi dia bilang "try to solve it, its yours" dan ketika dia bales tuh pas gue udah kelarin masalah gue. Gue pengen banting HP gue terus bilang "GAK BUTUH GUE UDAH KELAR BISA SENDIRI" hahahaha. Tapi selega itu lihat gue sekarang bisa menyelesaikan semuanya sendiri.



Dia itu kotak penuh kejutan dan kebahagiaan buat gue. Kotak yang gue miliki tanpa perlu gue minta untuk jadi milik gue. Kotak yang bersedia menampung kebahagiaan dan kesedihan gue. Kotak yang mau dicari keujung dunia manapun gue gak akan menemukan yang sama lagi. Gue gak perlu tanya "siapa sih gue buat lo?" atau gue gak akan membuat hati gue bertanya "apa hubungan gue sama dia cuman segini aja?" karena buat gue yang gue butuhkan ya dia, bukan status, bukan bunga, bukan makanan yang dia kirim. Gue cuman butuh dia.

Karena pagi ini, di hari terakhir gue jadi freshman year LSPR, gue menyadari bahwa gue yang duduk di depan laptop gue ini bukan lagi gue yang sama dengan gue 11 bulan yang lalu. Banyak hal yang berhasil gue raih dan berhasil gue pilih pilih untuk gue pertahankan. Banyak hal buruk yang sedikit demi sedikit berhasil gue buang dan gue tambahkan kebaikannya (persetan jika semua ini karena saat itu gue insecure dan akhirnya gue pengen jadi lebih baik hahaha). Gue yang sedang bercerita pada kalian ini bukan lagi orang yang akan melihat sesuatu dari sisi positifnya saja untuk hidup  tenang, bukan dari sisi negatifnya saja supaya tidak lagi disakiti, tapi dari kedua sisi yang ada. Middle way, itu ajaran dari Agamanya, sama seperti apa yang Agama gue juga ajarkan.

Pada postingan ini, postingan sebelum sebelumnya bahkan Turning Page pun gak bisa merangkum 10 bulan rollercoster gue bersama dia. How we hate each other tapi masih saling perhatiin, komentarin satu sama lain..  Gimana dia udah fucked up sama gue tapi pas tau gue kelimpungan ngerjain tugas gue dia langsung berubah super manis (i really like this part, bagaimana ego dan gengsinya bisa terkalahkan begitu saja haha). Gimana gue udah fucked up sama dia tapi kalo dia melakukan sesuatu hal yang membanggakan gue akan bahagia.. Atau kalo dia sakit gue akan khawatir.. (seperti dia caper banget bilang gak sempet makan, tapi sekalinya makan dia laporan makan mie. Minta disantet! Masa harus gue kirimin makanan terus?)

Dia dan segala keajaibannya dikirimkan oleh Tuhan untuk membantu gue melewati freshman gue. 

Gue selalu bingung.. Kata apa yang tepat untuk gue sampaikan padanya? Maafkah? Maaf karena terlalu manja dan hanya ingin dimengerti? Maaf karena gak bisa jadi cewek yang settle dan mendukung dia untuk bangkit karena menurutnya gue sendiri aja belum bisa berdiri dengan baik? Atau terima kasih? Terima kasih untuk pelajaran hidupnya? Terima kasih karena membuat gue menulis buku "best seller" versi Alice in Tipluk's World?

Apa? Kata apakah?

Yang jelas ketika akhirnya dia tertidur setelah 1,5 jam kami chatting tengah malam tadi, gue sangat berharap dia tahu bahwa gue senang usaha gue untuk mencerna setiap pengajaran dia akhirnya dipandang baik juga. Gue gak tahu sampai kapan kami akan terus bump into each other, tapi pelajarannya adalah kalo nanti gue ketemu orang lain, gue gak boleh bandingin orang itu sama dia. Karena sampai kapanpun dia ya cuman ada dia doang. Sama seperti dia harus belajar untuk tidak membandingkan orang;) Hehehe gue nyinyir ya ternyata:p

Jadi di hari terakhir gue jadi freshman... Gue merasa berterima kasih karena hari itu gue datang ke LSPR, merasa underestimate sama dia lalu 2-3minggu kemudian ketemu lagi dan kejadian itu terjadi. Lucu lho how we start the conversation. Gue butuh final cut pro, so I texted him. Dia gak bales, sampe akhirnya dia bales depan muka gue, dan dia gak tau itu gue padahal kami udah kenalan kemarinnya! And we were chatting every minutes sampai kalo cuman di read aja dia marah sama gue hahahaha sampah kamu bikin baper aja.

Tapi emang gitu guys, kalo gak brengsek, pasti gampang dilupainnya:p

Ps: bukan berarti gue belum lupain.. Yaudahlah ya paham sendiri.. 

Well.. What you need to know is.. Kamu berhasil menjadi sunshine untuk hidup seseorang di kala dia gak punya daya untuk merubah her darkest day into a rainbow. Kamu berhasil buat seseorang melampaui batas zona nyamannya dan berubah lebih baik. Don't  give up on yours! Terpenting adalah.. Make a life, don't only make a living;)

So thank you for everything and congratulations for your success and your new world! Semoga kamu bahagia terus, semoga Tuhan dan semesta alam memberkati kamu. Aamiin ya Rabbal Alamin. Selamat tidur bos besarku!;)

Hmm...

And sometimes, there are feelings that don't have a name. You don't have to ask what is it.. Or even ask will it leads you somewhere.. Let it flow, let it fly. Berbaik baiklah sama orang lain, because you never know. You never know.

Happy 21 years old in 25 days.


[original song] When life gets harder And my sky is falling You are the one who is saving me Rise me up and believe me When I have no rainbow You turned to be my sunshine Lights my world up after the storm Be the reason of my smile You taught me How to brave How to survive And reach my dream You taught me Don't give up Working hard This is too shall pass . . . . Ps: Gue nulis ini pas lagi belajar final logic. Once, ada orang yang pernah bilang sama gue "pasang ini jadi wallpaper", sebuah quotes bertuliskan "This is too shall pass." Awalnya gue ngerasa kayak, yaudah aja kaya quotes biasanya dan malah cenderung kurang suka karena "apa sih maknanya?" tapi setelah badai bertubi tubi gak berhenti, kerjaan gak pake jeda gak ada waktu istirahat sampai taraf masalah cuman bisa diketawain saking banyaknya, gue sadar.. Sedikit demi sedikit, gue beresin masalah gue, sabar, sabar dan sabar sampai akhirnya satu persatu selesai. Well lagu yang gue tulis ini hanya ingin mengatakan bahwa, its okay to have those bad days.. Because you really need storm and you'll find your own sunshine to create your own rainbow. This is too shall pass🐨 . . . @indomusikgram @musicbookindo @vokalplus #indomusikgram #musicbookindo #vokalplus #originalsong #goodquotes
A post shared by Rizki Rahmadania Putri (@rizkirahmadania) on




You may also like

1 comment:

  1. Halo Titi, lagunya enakkkk!! tulisan sama lagunya fit each other banget. Good Luck Alice :)

    ReplyDelete

Leave me some comment! Thank you, guys:}