"Waktu yang menyelesaikan."

"Oh, dia jadi pergi?"

Gue selalu merasa kaget sekaligus terharu saat gue menyadari bahwa social media benar benar merubah pola kehidupan seseorang. Saat gue tau cerita orang ketika dia cerita sama gue, sekarang gue tau dari update-an social medianya. Saat kami ketemu, obrolannya akan menjadi, "iya gue tau lo lagi sibuk itu dari insta story elo."

Well.. Here's the story that I shouldn't ever touch again.

Jadi sejujurnya.. Kami gak pernah bicara lagi.

Mungkin semesta alam dan kesibukan masing masing juga tidak lagi mengizinkan gue dan dia punya waktu untuk berbagi kisah seperti biasanya. Yang gue ingat setahun yang lalu gue sedang menghabiskan hampir seluruh waktu gue untuk ngobrol dan mengisi waktu gue sama dia. Ketika gue pindah ke Jakarta, gue kira gue akan kesulitan dan mungkin awalnya benar adanya. Sampai akhirnya lama kelamaan dengan kesibukan luar biasa gue, gue mulai lupa dengan hal hal yang ada di kota Cirebon. Jangankan hal buruk yang dari dulu pengen gue lupain, hal baik kayak dia aja ada yang terlupakan oleh gue.

Sampai siang ini, gue lagi buka instagram dia. Gue udah gak mau komentarin hidup dia sama sekali karena di liburan kemarin ketika gue masih expect dia akan kabarin dan hubungin gue sesuai janjinya dan ended up.. Hahaha he didn't even call. Gue mencoba memaklumi, apalagi kami berdua sama sama hidup di tempat yang selama ini kami impikan. But the thing is... Rasanya seperti ironi aja kalo di bandingin tahun lalu di mana dia selalu ada buat gue.

Gue berpikir, dulu dia hanya membalas hari hari di mana dia hilang karena persahabatan kami berada di ambang "lupain perasaan lo atau kita berhenti sahabatan" gitu deh. Jadi dia ada untuk membalas hari hari yang dia lewatkan dulunya tanpa gue. Tapi sekarang...

Bahkan gue gak tahu perkembangan hidup dia;' Di saat dulu gue sama dia sama sama berbagi apapun yang terjadi di hidup kita;'

Awalnya gue sedih banget, kecewa dan sekaligus marah. Bagaimana jarak dapat menghentikan kebiasaan kami dan waktu membuat segalanya jadi berbeda. Tapi hari ini, ketika dia diharuskan pergi ke suatu tempat dan gue taunya malah dari insta story dia (which is ironic lol), gue memutuskan untuk.. Ok, enough. Semua ini, put him on the first place, kasih dia semua waktu gue, perhatian gue, semangat dari gue.. Enough. Because all I gave was totally nothing on him. Jadi selama ini gue seperti menanam bunga di padang pasir, gak ada tanahnya, gak ada air juga. Gak bisa itu bunga cari zat hara yang bisa membuat dia bertumbuh. Gak. Gak. Gak.

I've been wasting my time.

Lalu gue cuman mengirimi dia beberapa pesan, to make sure he is alright and all he need to know that I'm okay with my life now. Even hidup gue di LSPR gak perfectly perfect as people thought, but I'm fine. Dan ketika dia memutuskan untuk gak melibatkan gue lagi dalam kehidupan dia, gak berarti apa yang udah kami lewati dulu adalah bullshit. What's past is past and now, we have our own life which have to be concerned about. Lagi pula hidup kami berdua bahagia bahagia aja, so why it should be a problem?

Then again, gue sadar.. Jarak, waktu dan kesibukan berhasil membuat gue yang tadinya takut kehilangan dia menjadi baik baik saja tanpa dia. Buktinya gue sudah berdiri sendiri, di sini, menyusun tangga tangga menuju mimpi gue dan gue baik baik saja. Sama seperti dia  yang gue lihat juga bahagia dan baik baik saja tanpa gue disana.

What I believe now is.. When the relationship is over because of time and distances, it doesn't mean what happened is a bullshit. It was past, and what is past stay there. 

Jadi di posting kali ini, setelah dari tahun 2013 setiap gue cerita soal dia mungkin ada galau galaunya, sedih, kangen, marah dan kecewa karena perhatian gue yang gak selalu "di notice" sama dia.. Atau saat 2015 2016.. Di mana dia selalu ada 24/7 untuk gue.. Dan kali ini di 2017 gue sudah bisa bilang..

"If it's best for you, just do it. Thank you and take care of yourself."

Kadang kita pergi bukan karena kita kecewa atau kita ngerasa gak pantas ada di hidup orang tersebut.. Atau mirisnya untuk membuat pembenaran akan ekspektasi yang tidak tercapai, kita dengan angkuh bilang dia gak pantas ada di hidup kita. Tapi kadang memang sudah waktunya untuk berhenti dan pergi.

Karena hidup lo tuh indah banget dan banyak orang yang jauh lebih membutuhkan perhatian lo daripada elo buang buang waktu untuk dia yang.. Aduh, bukannya gak notice, tapi gak butuh.. Atau lebih parahnya.. Gak mau lo perhatiin.






So, I'm enough. It's enough. Baik baik ya.


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}