Ingat Ini Sebelum Percaya Orang Lain

Banyak kata dan tanya yang ingin kulontarkan bak gelas yang terisi penuh dan terus diisi: hampir tumpah dan tak terjaga. Seiring dengan berjalannya waktu aku menyadari banyak hal yang harusnya disikapi sejak dini dalam kehidupan ini. Tidak seharusnya diabaikan apalagi dibiarkan tanpa ada tindakan.

Mereka berlaku seenaknya bak burung terbang tak punya rumah untuk pulang.  Datang dan pergi seakan akan hanya bertamu sesekali, namun sebenarnya meninggalkan lebih dari sekedar kenangan. Waktu yang berjanji untuk menyembuhkan malah memperparah 
keadaan. Siapa yang disalahkan?

Aku.

Karena mereka tidak mau tahu bagaimana aku melewati ini semua.

Mereka merasa pantas menghakimi, padahal dirinya sendiri harus dihakimi. Mereka merasa paling benar sendiri, padahal dirinya sendiri bertanya tanya apa yang benar dalam hal seperti ini?

Aku berhenti melibatkan perasaanku dan orang lain ketika mereka juga tidak memikirkan perasaanku lagi. Apakah aku bodoh? Mungkin, karena diriku ini menjadi orang lain. Tetapi hal yang kuingat adalah ketika sepasang mata berani melihat dari banyak perspektif sementara ribuan mata lainnya hanya peduli dari pandangan biasanya, siapa yang memenangkan pertarungan ini?

Mungkin ini bukan tentang menang dan kalah, namun sudah pasti mereka menang dan aku kalah. Mereka menang karena mereka banyak. Meski mereka kalah, mereka akan tetap menang.

Sulit untuk hidup menjadi orang benar sendirian, karena sendiri itu satu, satu itu sendiri. Lalu satu dibanding seribu bukan sekedar angka, namun hasil yang tidak bisa diragukan jua.

Yang harus selalu aku ingat adalah berbuat baik bukan untuk berharap. Tidak boleh lagi berharap. Mereka yang baik mungkin akan jahat. Tapi aku tidak perlu jahat, aku hanya perlu berhati hati dan membangun tembok pertahananku sendiri.

Karena rasanya aku sudah sulit membuka hati dan percaya lagi kepada orang baik yang baik, sangat baik. Namun baik tidaklah cukup untuk menunjukkan bahwa dia orang yang baik untuk kamu.

Teruntuk kamu yang merasa berhak menghakimi orang lain dan kamu yang atas nama kebaikan malah menyakiti orang lain. Mari memaknai memiliki dua telinga berarti lebih banyak mendengar, memiliki satu mulut berarti manfaatkan dengan baik. Jangan lagi terlalu baik, terlalu naif, terlalu pikirin perasaan orang. Semua yang terlalu tidak pernah baik.

Bahkan terlalu memperjuangkan pun tidak menjanjikan kebahagiaan.



You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}