Overlook: Apa pilihan yang kita punya?

Hey, there.

Kamu tau kan aku gak suka nulis? Jadi ini adalah kali pertama aku menulis dan ini untuk kamu. Di tengah kemacetan Jakarta sebelum sampai ke venue tempatku kerja hari ini, aku baru sadar belakangan ini aku mengingat kamu lebih sering daripada biasanya. Mungkin karena kegiatanmu yang lebih bisa kulihat dari akun Snapchat atau kita yang terlalu sering bertemu di event besar padahal tempat kerja kita berbeda.

"Apa kabar kamu, Lana?"

Andai aku bisa melontarkan pertanyaan itu tanpa harus memikirkan apa dampak ke depannya. Banyak yang datang dan pergi, tapi Na.. Tidak ada yang seperti kamu. Kamu masih beda dan paling unik di antara mereka yang pernah singgah, meski tetap saja harus berakhir. Oke, gue merasa cheesy sekarang.

Na, aku baca surat terakhirmu. Mei 2015. Surat yang kamu kirimkan ke e-mailku. Potongan kata demi katanya membuatku terbanyang bagaimana sulitnya kamu melewati hari hari setelah malam itu kita berpisah. Tapi, Na.. Kita memang harus begini. Tidak ada kompromi lagi, tidak ada pilihan lain.

Apa yang harus dipertahankan dari hubungan yang tidak punya ujungnya? Untuk apa kita terus mencoba jika akhirnya sama sama pergi? Jadi jangan memperjuangkan yang sia sia, lebih baik berusaha untuk sesuatu yang ada hasilnya.

Sesekali aku mendapati kamu masih duduk di cafe tempat kita sering minum kopi. Mungkin kamu tidak lihat aku, tapi aku masih sering melihat kamu. Aku masih melihat perjuangan kamu menuju semua mimpimu. Aku masih ingat setiap mimpi kamu, aku masih ingat semua keinginanmu.

"Kamu gak nyesel kan, Gib?"

Aku menyesal tidak sempat menjawab pertanyaan kamu malam itu. Selama hampir 2 tahun kita berpisah, aku tidak pernah sekalipun menyesal akan kehadiran kamu. Aku hanya berpikir jika bisa kembali ke masa lalu setidaknya aku akan menjaga kita supaya tidak terlalu menyakiti satu sama lain. Aku akan mengurangi apa yang bisa kukurangi. Aku akan menghilangkan apa yang bisa kuhilangkan. Jadi, ketika kita berpisah, kita tidak sesakit ini.

Iya, Na. Kita.

Karena berpisah dengan kamu juga tidak semudah yang kamu bayangkan.

Iya, aku senang karena aku tidak perlu lagi berpikir harus bagaimana menghadapi kamu dan kita yang tidak punya masa depan.

Tapi iya, Na.. Iya..

Terkadang aku rindu dan ingin kembali merasakan.. Walau mungkin hanya sekejap mata.


Semangat ya, Na. Anggap saja kamu membaca surat ini. Surat dariku yang tidak akan pernah kuberikan. Surat dariku yang akan selalu aku simpan. Surat dariku untuk seseorang yang pernah mengisi hariku. 

Terima kasih, Revina Lana Allezia Wijaya.



Best Regards,
Gibran Putra Rayya.


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}