Overlook episode 4

"If you break someone's heart and they still talk to you with the same excitement and respect, believe me, they really love you."

But loving you was harder than loving anyone else.

You're loved, but you just couldn't believe someone to love you.

***




1. Kali Kedua - Raisa


After 2 late night calls like the old day and one unplanned lunch with he bussiest man I've ever known, I met his mother. It was accidentally meeting which is lead us to a cup of espresso and a glass of chocolate green tea ice blend. Bukan kali pertama Ibunya berbelanja di Gandaria City and we bumped into each others. Tapi kali ini mungkin yang pertama kalinya Tante Indah malah mengajakku untuk duduk di salah satu kedai kopi setelah beberapa tahun aku dan Gibran berpisah.

Obrolan klasik dibuka sebelum satu setengah jam selanjutnya ia menanyakan perihal hubunganku dengan Gibran. Kenapa Gibran tidak pernah datang lagi ke rumahku, kenapa aku tidak lagi mengirimi makanan ke rumahnya. Aku kira ia tidak akan memperhatikan renggangnya hubunganku dengan Gibran karena Gibran sendiri tidak pernah mengenalkanku lebih dari sekedar teman. Tapi Tante Indah tampaknya menyadari apa yang terjadi selama ini.

"Mama sehat, Lana? Beberapa minggu lalu Tante ke toko bunga mau beli untuk pernikahan saudara, eh ada Koko dan juga Mama kamu." Ujar Tante indah sambil membenarkan hijabnya. Aku mengangguk kecil, "mama baik, Tante. Ya kayak biasa aja, sibuk senam, arisan, kerja, masak, ibadah..."
Tante Indah tersenyum kecil, "kalo Lana sendiri sehat? Kok udah lama banget yaa Tante gak denger cerita Gibran main sama kamu..."
"Ugh.. Gibran sama aku kan beda setahun, tapi porsi kegiatannya juga jadi beda jauh. Makanya aku sama Gibran udah jarang main Tante."

"Tapi kalian masih bareng bareng?" Tanya Tante Indah dengan suara begitu tenang. Suaranya yang bertanya tanpa keraguan membuat aku ketakutan sendiri. Harus jawab apa kalau begini? iya Tante kami masih ketemu kok, buktinya kemarin Gibran makan siang denganku? Atau enggak Tante kami sudah pisah, karena Gibran bilang dia gak bisa jalanin ini lagi sama aku?

"Lana.." Tante Indah tertawa geli, "hahaha jangan grogi gitu dong.."
"Aduh Tante, aku bingung harus jawab apa.."
"Habis Tante bingung, kok gak ada kue lagi yang dikirim dari Lana.." Ujar Tante Indah mencairkan suasana. 
Aku terpancing dan ikutan tertawa, "habis sama si Mas gak boleh lagi kan kirim makanan." Sahutku akhirnya. Mas adalah panggilan untuk Gibran yang berasal dari background keluarga Jawa. Tante Indah merengutkan dahinya keheranan.
"Lho.. Kenapa? Kan kalian kirim kiriman, toh?" Tanyanya menyelidik.
"Gak tahu.. Katanya itu egonya dia aja sebagai cowok, gak mau dikirim kirim lagi hahaha."
"Ah si Mas itu suka begitu anaknya. Tapi Lana enak dong sekarang kalian satu kantor.."
"Hmm.. Enak gak enak sih, Tante.."

Tiba tiba tatapan mata Tante Indah berubah menjadi jauh lebih lembut namun ada aku merasakan ketegasan yang terasa dari ucapannya. Ucapan yang membuatku seperti memiliki harapan. Ucapan yang membuat jantung ini berdetak tidak karuan. Ucapan yang membuat kata kata, "kalo Mama tau tentang kita, aku takut kamu gak siap. Mamaku kalo nanya masalah ginian pedes, nanti kamu nangis lagi. Dia selektif banget."

"Selama beberapa tahun terakhir ada beberapa yang dekat dengan si Mas, tapi rasanya usaha dan ketulusannya gak seperti Lana. Namanya cinta memang gak selamanya manis, barangkali sekarang setelah berpisah bisa kembali lagi, siapa yang tahu coba?"

Andai saja aku bisa memutar ulang waktu...

***

Keadaannya tiba tiba terasa lebih nyata dan juga membingungkan. Tapi aku menyadari ini adalah mimpi, mimpi yang sama seperti hari hari sebelumnya. Namun bisa jadi ini hanya semacam de javu sesaat setelah menghadiri pertemuan para alumni jurusan Public Relations di kampusku. 

Tapi rasanya begitu nyata dan dia yang berjalan ke arahku pun sama nyatanya.

Gibran dengan jaket berwarna biru dan kemeja merah kesukaanku itu menghampiriku dengan semangkuk bakso dari depan kampus. Bakso favoritku yang cukup memakan waktu untuk membelinya tetapi Gibran selalu mau mengabulkan permintaanku. Senyum separuhnya dan suara khasnya memanggil namaku dengan hangat. Momen favoritku adalah ketika ia menyebut namaku sembari memberikan makanan yang aku minta.

"Revina Lana emang manja." Ledeknya kesal. Aku tidak menggubrisnya dan meraih mangkuk itu. Namun alangkah terkejutnya aku saat melihat di pergelangan tangan kananku masih ada gelang berwarna coklat yang diberikan olehnya. Gelang yang aku lepaskan dan aku tinggalkan di meja cafe malam itu saat Gibran memutuskanku begitu saja.

"Kok masih ada.." Ujarku.
Gibran yang duduk di hadapanku kali ini menaikkan satu alisnya, "apanya yang masih ada, Na?" Tanyanya heran.

Ups. Kenapa dia bisa dengar? Bukannya ini mimpi?

"Ah.. Enggak. Makasih ya, Mas." Ujarku pelan.
Ia mengangguk, "kamu makanlah yang bener."
"Kamu juga. Udah tau lagi sibuk tapi males makan. Itu lagi.. Ngapain sih Gib pake kemeja merah tapi jaketnya warna biru?" Komentarku sambil tertawa nyinyir.
"Ih kok kamu gak suka aja, Na? Biarin dong, orang aku lagi seneng. Lagian ini juga kemeja kesukaan orang." Sahutnya tidak kalah nyinyir. Kami berdua saling menghindari mata lalu berakhir tertawa bersama.

Gibran Putra Rayya dan tawa renyahnya, siapa lagi yang bisa memberikan kebahagiaan semacam ini untukku? Ia selalu tahu bagaimana caranya membuatku tersenyum lagi.

"Eh iya, Na. Minggu depan aku udah mulai bikin event lagi." Ujarnya hati - hati.
"Ugh.. Di mana?"
Dia tersenyum, "Bekasi sih.. Tapi ini acara besar gitu. Dari Majelis juga. Aku ikutan ngurus acara."
"Kamu jadi apa?" Tanyaku pelan. Nadanya sama persis dengan tempo hari; posesif dan menyelidik. Sejujurnya aku tidak pernah serela itu melihat Gibran sibuk dengan dunianya, karena sudah pasti ia tidak punya waktu untukku.
"Floor Director..."
Huh, aku tahu sih. Tapi dulu ini yang aku tanyakan,"Itu ngapain?"

Seperti biasanya Gibran akan tertawa jika aku tidak mengerti hal hal semacam ini. Gibran selalu memperlakukanku bak cangkir kosong yang mengisinya perlu berabad abad lamanya. Ia bergumam, "MacBook-nya dipake browsing dong pinter, jangan dipake main The Sims mulu."

"Yee." Ujarku kesal sambil melanjutkan melahap baksoku.
"Aku bakal sibuk banget, Na... Aku bakal jarang ngehubungin kamu."

Shit.

I remember it all too well.

Kalimat Gibran tersebut yang membuat kami bertengkar karena selanjutnya aku menuntut Gibran untuk tetap mengabariku. And he fucked up with my possessive side. Setelah itu Gibran tidak menghubungiku beberapa lama dan itu membuatku rinduku semakin menjadi jadi kepadanya. Jika ini hanya mimpi dan dia bisa berinteraksi denganku...

"Gakpapa kok.. Kabarin aku kalo kamu bisa ya." Ujarku tenang.

Gibran menatapku keheranan. Mungkin ini adalah hal yang langka untuk seorang Gibran mendengar Lana sebegitu sabar dan mengerti dirinya. Mungkin ini kali pertama Lana menyerah masalah kabar yang tidak bisa dikirimkan setiap saat dan Gibran yang akan lebih sibuk lagi daripada biasanya.

Gibran tersenyum kecil, "tapi aku akan usaha kabarin kok."

Kurasakan mataku mulai berkaca kaca. Kalimat itu yang seharusnya dulu aku ucapkan pada Gibran. Kalimat itu yang mungkin bisa jadi salah satu cara untuk mempertahankan kami. Kalimat itu yang mampu membuatnya percaya bahwa aku juga sama berusahanya untuk mengerti dirinya.

Buru buru aku mengusap kedua mataku sebelum Gibran melihatku menangis saat makan bakso. Aku yakin betul setelah hari ini hubunganku dan Gibran akan berkembang jauh lebih baik lagi. Kurang dari dua detik setelah aku menghapus air mataku, yang kulihat hanyalah meja kursi kantin tempatku duduk tadi dengan beberapa mangkuk sisa makan anak anak yang belum dibereskan.

Itu de javu. Lagi lagi de javu.

Aku sepertinya benar benar sulit melupakan kamu, Gib.

***

Kami lagi lagi tidak janjian.

Atau sebenarnya aku tahu dia masih sering main basket ke sini. Atau Gibran tahu kadang kadang aku antar Koko pergi main basket ke sini. Atau kami memang sengaja mempertemukan diri satu sama lain. Gibran mengikat tali sepatunya di sampingku setelah menyodorkan sepiring siomai beserta susu coklat dingin saat menghampiriku. Itu dia Gibran Putra Rayya, selalu manis dan penuh kejutan.

Gibran pamit sebentar untuk menjemput siomainya lalu duduk di sampingku. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya memakai baju basket andalannya seperti sudah lama juga aku tidak mendapatkan kiriman siomai darinya.

"Besok kita ketemu client ya?" Pertanyaan klasik khas Revina Lana Allezia Wijaya pun keluar begitu saja, sengaja memecah keheningan atau lebih tepatnya melindungi diri dari salah tingkah.
Gibran malah bergumam, "koko masih aktif basket ya?"
"Iya." Sahutku mengangguk kecil. "Dia habis ini mau ketemu Luna lho. Masih inget gak?"
"Luna? Yang kata kamu benteng sama Ko Gerry?" Tanyanya pelan.
"Iyaa, Luna balik ke Indonesia dan satu kantor sama Koko."

"Oh ya? Emang mereka balik bareng bareng lagi?"
Aku menggeleng, "Enggak sih.. Cuman Koko sama dia deket lagi. Lucunya Koko masih selalu inget Luna, bahkan setelah 7 tahun mereka pisah. Katanya ada yang belum disampein, jadi mulai sama yang baru juga gak mudah."
"Namanya cinta belum kelar." Kata Gibran sambil tertawa. "Kok kayanya kamu tertarik banget sama cerita Ko Gerry dan Luna?"

He always know how to shut my mouth up!

Aku memutuskan untuk tidak meneruskan pembicaraan ini karena rasanya seperti lingkaran setan -berputar putar di tempat yang sama tapi tidak menghasilkan apa apa. Gibran akhirnya menyerah lalu bergumam, "Mama bilang ketemu kamu kemarin."

"Oh.. Iya, ketemu terus ngopi doang kok."
"Mama tau lho waktu kamu ngerusakin HP aku, dia cerita gak?" Tanyanya sambil tertawa. Aku menyerengitkan dahiku lalu memukul bahunya pelan.
"Ihh Gibran jangan gitu dong.. Kan aku gak sengaja."
"Iya iyaaa.. Makanya aku gak mau main lagi sama kamu, nanti HP ku rusak lagi."
"Ye.. Jangan benci benci amat sama aku." Ujarku sambil bangun dari dudukku. 

Wajah Gibran seketika berubah kemerahan, "aku tau nih ini mau dibawa kemana.."

"Iya, jangan benci benci banget, kita kan sekarang satu kantor."

Aku langsung berbalik dan menutup mulutku. Rasanya jauh lebih malu daripada apapun yang pernah aku alami di muka bumi ini! Kurasakan Gibran menghela napas sebelum bicara lagi. Ia bergumam, "kalo dulu kita gak pisah, kita sekarang udah berapa tahun ya, Na?"

Ya Tuhan..

Dialah orang yang tidak pernah berhenti aku doakan untuk kehadirannya kembali, namun kenapa saat ia kembali aku merasa banyak hal lain yang membuat kami tidak bisa bersama lagi?


To be continued..

***

"Kamu selalu menginspirasi.
Kamu selalu istimewa.
Kamu selalu pergi.
Tapi lihat siapa yang tinggal dan setia?
Ada, dia ada.
Tapi kamu tidak percaya padanya."


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}