Overlook episode 6

He was the best thing that ever happened to me,
but also the hardest lesson I've ever learnt.

***




1. Should've Been Us - Tori Kelly (Alex G)



Since then, he breaks his wall and let me in bit by bit.

Seperti malam ini setelah jam pulang kantor selesai, seharusnya aku lembur sendirian. Tetapi lampu meja di sampingku masih menyala dengan musik klasik kesukaannya. Pemiliknya hanya sedang meninggalkan sejenak untuk pergi ke Musholla dan sembahyang Maghrib. Seketika aku teringat wajahnya dan sedetik kemudian aku menemukan diriku berada di depan Musholla kampus sambil membuka laptopku.

De javu lagi?

Bak dimensi masa lalu tanpa permisi lalu lalang membawaku kembali ke masa itu. Masa masa di mana kami berdua ternyata masih terlalu muda untuk menyadari bahwa perasaan yang kami rasakan seharusnya diperjelas, bukannya dibiarkan berjalan begitu saja. Dengan segala konsekuensi dan perbedaan yang ada, sejatinya kami tahu tidak ada masa depan yang lebih pasti selain memilih untuk saling mengejar atau pergi. Mengejar dalam artian kami harus memilih satu sama lain atau tidak ada yang berpindah sama sekali. Tapi akhirnya Gibran memilih pergi walau pada saat itu aku berharap aku bisa mengucapkan kalimat perpisahan itu lebih dulu darinya.

Setidaknya yang kupercayai adalah ketika kamu meninggalkan, kamu tidak akan sesakit saat ditinggalkan. Itu yang kulihat dari Gibran dan kuyakin rasa sakitku bertahun tahun tidak pernah ia rasakan sedikitpun.

Ah, pikiranku terlalu jauh mengawang awang.

Beberapa detik kemudian, aku beranjak untuk berdiri dan melihat keadaan sekitar. Memastikan ke mana arah dari de javu ini kembali membawaku. Kutemukan cermin di depan ruang 12 yang bersebrangan dengan ruang Musholla kampus kami. Aku menemukan Revina Lana Allezia Wijaya dengan rambut hitam panjang yang digerai dan kaca mata hitam yang selalu dikenakannya setiap kali sedang bertugas. Aku berada di tahun 2013, masa masa di mana keretakan itu mulai muncul. Gibran tidak sama lagi.

Menunggu Gibran sembahyang bukan lagi hal yang asing untukku. Tapi aku ingat hari ini aku sedang menunggunya datang setelah ia selesai bimbingan judul skripsinya. Banyak hal yang berkecamuk di kepala ini seperti bagaimana penampakan Gibran 4 tahun yang lalu dan bagaimana aku bicara dengannya membuatku tidak sadar ia sudah memandangiku dari jauh.

Gibran menghampiriku lalu tersenyum, "kamu udah lama, Na? Maaf yaa."
"Gakpapa kok Gib.." Ujarku sambil tertawa. "Kamu capek ya? Gimana judulnya? Diterima?"
"Hmm.. Coba lagi. Masih ada beberapa waktu lagi kok." Wajahnya terlihat begitu letih namun ia berusaha untuk tertawa disela kekecewaannya.
"Kamu belum makan kan?" Tanyaku mencoba mengalihkan fokusnya. Gibran menggeleng.
"Belum sempat, aku tadi ngurusin banyak hal-"
"Yaudah kamu solat dulu, ya. Aku tungguin, sebentar lagi Asharnya mau selesai." Kataku sambil mendorongnya pelan menjauhi diriku -hal yang selalu aku lakukan ketika aku menyuruhnya sembahyang namun kami tidak pernah bisa sembahyang ke tempat yang sama.

Gibran mengangguk kecil lalu mengusap kepalaku, "iya, Bawel. Tunggu ya." Ia pun berbalik dan berjalan meninggalkanku.

Satu hal yang Gibran tidak pernah tahu adalah betapa beratnya aku untuk mencoba mempelajari dirinya dan kepercayaannya. Betapa sulitnya mulut ini untuk berbicara tentang jadwal ibadahnya karena perbedaan yang nyata di antara kami berdua. Betapa melihat orang yang kamu sayangi tidak percaya kepada Tuhanmu tapi mencoba menghormatinya adalah...

"Na, aku antar kamu ke Vihara ya minggu ini?" Pinta Gibran dari depan pintu Musholla.

"Ah..."

That was the day we fought.

Aku masih ingat betul jawabanku hari itu membuat Gibran tidak pernah mengungkit tentang Vihara lagi. Beberapa kali Gibran mengantarku ibadah dan aku baik baik saja, bahkan Mama dan Ko Gerry pun menerimanya. Namun tidak begitu dengan keluarga besarku dan teman temanku yang lain saat mengetahui kepercayaan kami yang tidaklah sama. Sulit untukku mengenalkan bahwa Gibran, dengan segala yang ia miliki pada dirinya adalah apa yang aku sayangi. Gibran dengan segala perbedaannya adalah orang yang berharga untukku. Gibran dengan segala kekuragannya adalah orang yang tak tergantikan bagiku.

Kata jangan merupakan awal mula di mana Gibran menarik diri dari bahasan tentang agamaku. Padahal selama ini dalam hubungan kami,  toleransi beragama cukup dijalankan dengan baik. Hanya saja semakin lama usia hubungan kami, sejujurnya semakin aku takut...

Takut akan hal yang kami anggap bukan masalah ini yang membuat semuanya jadi masalah.

Gibran tampaknya masih menunggu jawabanku dan sama seperti de javu sebelumnya, aku bisa menggendalikan apa yang terjadi. Aku bisa mengubah masa laluku, walau hanya dalam pandanganku. Tapi jika perubahan kecil ini bisa membuat Gibran bertahan, kenapa tidak aku lakukan?

"Iya kamu boleh anter aku ibadah. Tapi kamu solat dulu, ya.."

Senyuman yang merekah terpancar dari wajah Gibran. Ia lalu mengangguk seraya berbalik dan masuk ke dalam Musholla. Seketika aku merasakan mataku kembali berkaca kaca..

Andai aku hanya berpikir tentang kita pada masa itu, andai aku tidak terlalu takut dengan apa yang terjadi di masa depan, akankah kamu tetap bertahan untukku?

***

"Na, kamu mau makan apa?" Tanya Gibran sembari melihat lihat menu yang ada di tangannya. Ketika aku membuka buka menu tersebut, seakan tawa itu tercipta dengan sendirinya kala melihat wajahnya yang letih dan kelaparan bercampur menjadi satu.

Hari ini Gibran nampak lebih istimewa daripada biasanya. Aku tidak pernah suka dengan baju merah bercoraknya ini, namun kali ini ia padu padankan dengan celana bahan warna cream dan lengan bajunya dilipat sesiku. Duh, mantan siapa sih ini!

Gibran kembali menginterupsi rasa kagumku pada penampilannya hari ini dengan memanggil pelayan restoran. Kali ini Gibran tampaknya lebih kelaparan daripada beberapa malam yang lalu saat kami makan malam di rumahku. Gibran memesan satu porsi ayam penyet dan roti bakar coklat keju, kebiasaannya yang tidak pernah bisa aku lupakan. Untuk seorang Gibran, tidak pernah ia lewatkan satu makan malampun tanpa hidangan pencuci mulut. Sedangkan aku memilih roti bakar keju susu dan secangkir coklat panas.

"Gib, kamu percaya gak? Kata orang kalo kita udah pisah, orang tersebut bakal berubah jauh lebih baik daripada saat kita tinggalkan." Ujarku setelah pelayan yang mencatat makanan kami pun berlalu.
Gibran menaikkan alisnya lalu mengangguk angguk, "am I look that hot on this shirt?"
"Hahahaha lo gila ya!" Seruku sambil mendorong bahunya pelan. Ia ikut tertawa terbahak.
"You've cut your hair." Ujarnya tanpa melihat diriku.
Aku tertegun beberapa saat lalu berkata, "oh.. Karena yang sebelumnya gak suka aku punya rambut panjang."
"But I like it." Gumamnya pelan, lagi lagi tidak melihatku.
"Kamu sukanya cewek rambut panjang kan?" Tanyaku memperjelas gumamannya. Gak lucu banget kan kalo aku sudah merasa kegeeran dan ternyata dia tidak bermaksud memuji potongan rambutku yang tidak sepanjang dulu?

"You look fine -now, everyday, even since the very first day." Katanya memperjelas sambil melihat mataku. "Jadi gak perlu insecure lagi dengan apapun mauku, kamu dengan segala hal yang kamu miliki.. Sudah cukup."

Hai, alam semesta. Gibranku kenapa ya?

Sebelum percakapan ini membuat makan malam kami menjadi canggung, aku mencoba mengalihkan topik pembicaraan yang ternyata langsung disambut baik oleh Gibran. Pipi Gibran tampak merona bak ia pun malu akan apa yang ia katakan tadi.

"So what's up? Selama ini -the whole 4 years of our separation. Jadi siapa?" Tanyaku langsung kepada inti hal yang menjadi tanyaku selama ini. Apa yang Gibran lakukan selama kami berpisah? Siapa yang menggantikanku sejak ia menyuruhku pergi?

Gibran tertawa, "gak banyak.. Tapi ada beberapa yang lalu lalang. Mereka semua usahanya bagus, tapi-"
"Tapi  belum cukup buat kamu untuk bisa bilang ,'yes she is the one.' iya kan?" Kataku sambil ikut tertawa.
"Tuhkan, kamu udah tahu aku mau bilang apa, Lana.."
"Gibran.. Kamu gak pernah berubah, kebanyakan milih. Nanti satu persatu kabur lho gak pada mau usahain kamu."
"Ah santai.. Nanti juga ada. Kamu gimana?"

Aku menghela napas, "kayaknya sesusah itu lho buat buka hati."
"Huh? Masa sih cewek kaya kamu susah buka hati?"
"Jadi lo mau bilang gue gampang jatuh cinta gitu? Enggak lah Gibran, gak lagi.." Ujarku agak kesal, "susah untuk aku buka hati buat orang lain."
"Jangan bandingin mereka sama aku, Na. Kamu mau cari keujung dunia pun cowok yang bisa kasih kamu kebahagiaan di tengah perbedaan ya cuman aku. Hahahaha."

Shit. Here you go. Pembicaraan tentang Lana, Gibran dan perbedaan yang ada.

"Aku gak pernah berusaha cari yang kaya kamu, Gib."
Gibran yang tadinya melihat handphone langsung menatapku dalam dalam.
"Aku gak pernah.. Membandingkan siapapun dengan kamu."
"Kenapa? Bukannya kalo kita mau cari orang baru kita akan membandingkan dengan yang lama supaya kesalahan yang ada di masa lalu gak terulang lagi?"
"Orang itu akan jauh lebih baik dari kamu atau beda banget sama kamu. Which is.. Unfortunately it was so hard -cari yang lebih dari kamu, atau beda banget sama kamu. Sekalinya beda banget ya bukan tipe aku, sekalinya usaha cari yang lebih.. Ya..."
Gibran mengerutkan dahinya, "ya..?"

"Ya gak ketemu. Karena kamu sudah yang paling baik dari yang terbaik. Sembilan dari sepuluh kriteria terbaik ada di kamu. Sehingga cari yang sama kaya kamu aja sulit, gimana mau yang lebih lagi? Lagian buat aku.."

"Na..."

"Buatku Gibran Putra Rayya cuma satu, ya cuma kamu. Gak ada yang bisa menggantikan atau berusaha untuk menyamakan. Cuma kamu. Satu. Selamanya."



To be continued...



 I used to think..
That we were forever -ever.


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}