Overlook episode 7

"Sayang sama bego mau sayangin orang yang begonya 
gak mau kita sayangin itu beda tipis."

***



1. Someday - Nina


Hari itu Gibran panik.

Batas akhir pengumpulan proposal skripsinya jam 7 malam namun ia masih terjebak macet denganku sekarang. Jam di dashboard mobil terus ia pandangi padahal ini masih satu setengah jam sebelum loket di tutup dan kami sudah hampir sampai ke tempat tujuan. Kali ini ia jauh lebih diam dari hari hari sebelumnya. Aku asumsikan aksi diamnya hari ini karena dia marah lagi padaku.

Oh shit, Gibran dan egonya yang tinggi. Kapan sih dia mau lihatku dari sisi yang lain?

Apa yang terjadi hari ini benar benar di luar kendaliku. Aku berniat untuk sekedar mampir ke rumahnya dan mengantarkan segelas American Dolce Latte kesukaannya karena kabar terakhir yang ia sampaikan adalah ia belum tidur selama 3 hari. Sementara pekerjaan di tempat magangnya tidak main main. Beberapa hari yang lalu EO tempatnya magang membuat pameran mobil besar besaran dan membuat laki laki ini tidak pulang 2 hari ke rumah.

Niatku hanya memberikan kopi itu lalu bergegas pulang, tetapi Tante Indah, mamanya Gibran, menahanku jauh lebih lama. Alhasil kami berbincang masalah kue dan masakan yang sama sama kami sukai. Karena Mama sering memasak di rumah, aku setidaknya tahu apa saja bumbu bumbu dasar untuk membuat makanan kesukaan keluarga kami yang ternyata juga sering Tante Indah masak untuk keluarganya. Perbincangan itu terus berlanjut sampai akhirnya jam 5 sore Gibran baru bisa keluar rumah karena tertahan oleh obrolanku dan Mamanya.

Aku sudah bersiap siap untuk pamit ketika Tante Indah menyuruh Gibran untuk mengantarkanku pulang setelah memberikan proposal skripsinya. Aku bisa melihat wajah Gibran yang menerimanya dengan setengah hati. Namun akhirnya ia membukakan pintu mobilnya untukku dan kami berangkat ke kampus sekitar pukul 5 sore.

Hubungan kami sudah mulai renggang, ada rasa canggung ketika aku harus duduk di sampingnya. Apalagi ketika ia mulai mengeluh karena macetnya Jakarta. Gibran dan segala hal di hidupnya haruslah sempurna. Hidupnya penuh dengan tujuan. He is kind of goal oriented person. Dia tidak segan untuk marah ketika seseorang mencoba menghalangi tujuannya.

Mungkin itu yang aku rasakan lagi sekarang. Gibran marah padaku karena aku membuatnya terjebak di mobil ketika seharusnya ia sudah sampai di kampus dari tadi. Dulu jika Gibran sedang marah begini, aku akan diam saja karena aku tidak mau membuat Gibran lebih marah lagi. Tapi sekarang aku mulai lelah dengan hubungan ini. Kenapa Gibran selalu ingin menang, sih?

"Aku tahu kamu marah.. Tapi ini baru-"
Tiba tiba nadanya meninggi, "jangan bilang baru jam setengah 6 sore."
"Gib.. We're not that far, you know?"
"Lagian ngapain sih kamu masih kirimin aku makanan? Aku kan udah bilang, kalo sampe kamu kirim kirim makanan lagi, I will make a space between us. Real space!"
"Kok kamu selalu lihatnya dari sisi negatifnya sih, Gib? Aku kan berniat untuk semangatin kamu. Kamu bener bener capek belakangan ini dan aku gak mau kamu jatuh sakit."
"Aku rasa perhatian kamu udah berlebihan, Na. Aku tahu kok gimana cara mengurus diriku sendiri."

Seketika aku terdiam, ingin bicara pun tidak tahu harus mengatakan apa. Aku mencoba untuk berpikir positif, mungkin saja Gibran sedang lelah..

"Aku rasa kita udah gak bisa kaya gini terus, Na.."
Aku langsung menoleh melihatnya, "maksud kamu apa?"
"Aku.. Udah cukup bersabar sama kamu. Tapi kamu.. Gak pernah berubah untuk aku."

And there it was, the day where all the dramas started.

***

"Gibran! Bisa gak sih lo berhenti pake kemeja merah dan outer bajunya warna biru? Iyaa gue tau lo suka banget sama biru tapi gak gini juga kali." Seru Kak Andrea setelah kami selesai meeting.

"Yee, ini fashion, Mba namanya! Ntar juga Mba Andrea ikutan begini." Ujar Gibran sambil tertawa. Kak Andrea menyahut, "ngeles mulu ah, Gibran. Udah udah balik ke ruang kerja sana." 

Setelah Kak Andrea keluar dari ruang meeting, aku menoleh ke arah Gibran lalu refleks tertawa sinis. Kadang sering heran dengan orang ini. Ada kalanya lagi ganteng banget.. Ada juga seenaknya begini. Gibran menatapku lalu menatapku dengan tatapan menggoda, "apa lo liat liat gue? Ganteng ya gue?"

"Idih amit amit!" Seruku sambil membereskan buku agendaku. "Udah cukup ya gue 2 tahun liatin muka itu terus." Aku dan Gibran sepakat untuk memakai lo-gue di lingkungan kantor seperti teman teman yang lainnya. Kami merasa akan canggung untuk memakai sebutan aku-kamu seperti biasanya. 

"Tapi kan dulu gue masih cupu, Na.. Lihat gue yang sekarang deh, gak nyesel?" Tanya Gibran sembari menutup MacBook abu abunya. 
"Enggak, ngapain gue nyesel? Kan elo yang ninggalin gue, Gib! Masa gue yang nyesel juga. Yang ada elo harusnya nyesel, lihat gue sekarang.. Gue udah gak sama kaya gue yang dulu."
"Buat gue lo gak pernah berubah, Na."
Aku mengerutkan dahiku, "apanya sih yang gak berubah?"
"Ya elo masih sama.. Sama sama kayak anak kecil yang bertumbuh dewasa di mata gue."
"Elo tuh ya.. Selalu mandang diri lo paling bener, paling bisa-"
"Tapi emang bener kan? Siapa coba yang bisa bikin lo gak move on selama ini?"

Aku tertawa, "lho lho.. Yakin banget gue belum move on?"

Gibran tidak menjawab pertanyaanku. Ia bangkit dari duduknya, menenteng MacBook abu abunya lalu tersenyum kecil, "kalo kamu udah move on, harusnya gak ada foto kita lagi di buku agenda kamu."

Ia lalu berjalan meninggalkanku yang membatu setelah mendengar kalimatnya. 

Gibran always know how to win the battle.

***

Bicara tentang belum move on, Sarah Esterlita Theo memang jagonya buat aku tidak move on. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 2 pagi tapi kami dengan bussiness suit yang masih lengkap, duduk di salah satu restoran cepat saji dan menghabiskan 3 gelas soda dan beberapa kentang goreng. The bussiest woman on earth is here! Kapan lagi coba bisa duduk berdua lebih dari 2 jam seperti ini.

So basically she listened to my wholes stories: what happened in the past 3 weeks with me and Gibran. Pergerakanku dan Gibran cukup cepat untuk dua orang yang berpisah secara tidak baik baik, tapi tetap saja masih ada yang mengganjal di diriku.

"Jadi lo sekarang bingung mau memposisikan hati lo seperti apa?" Tanya Sarah sambil meneguk Coca Cola-nya. Aku mengangguk pasarah.
"Karena rasanya lucu aja gitu kalo dia mampir lagi lagi hanya untuk singgah, bukan untuk menetap."
"Pernah mikir gak sih, Na.. Mungkin dia kaya Ko Gerry yang cuman ngecek apakah Luna baik baik aja atau enggak?"
Aku mengerutkan dahiku, "maksud lo apa, Sar?"
"Iya.. Dia cuman dateng kesini buat lihat lo baik baik aja atau enggak, lalu dia mau melanjutkan hidupnya. Jadi lo sebaiknya gak usah pake hati sama dia, karena Gibran dan perasaannya gak pernah jelas -masa lo mau terjebak di ketidakpastian ini terus?"

Aku langsung menunduk, "tapi dia tahu, Sar.. Gue masih simpen foto dia di agenda gue."
"Nah kalo itu bego namanya!" Bentak Sarah. "Yang bener aja dong, Revina Lana.. Lo udah disakitin, udah ditinggalin, tapi kok masih mau kelihatan lemah di depan dia?"
"Sar gue juga bingung kenapa jadi gini.."
"Gue lebih bingung lagi kenapa lo sampe ajak dia ke rumah lo, lo sampe mau makan sama dia.. Udah dong, Na. Move on! Kalo dia suka sama lo, dia mau sama lo, dia gak akan bolak balik gak jelas begini. Terlebih kalian kan beda-"
"Udah.. Udah Sar gak usah diingetin lagi."
Sarah menggenggam tanganku, "gue tahu seberapa sayangnya lo sama Gibran, tapi lo harus realistis, Na. Jangan mau cuman ikutin perasaan doang. Gue gak melihat usaha Gibran-"

"Jadi belakangan ini gue sering mimpi.. Bahkan de javu, tentang kami, Sar." Aku akhirnya memberanikan diri menceritakan apa yang terjadi sejak aku bertemu Gibran. "Dan anehnya, gue bisa merubah apa yang terjadi di masa lalu ketika gue mengalami hal hal itu. Kayak misalnya.. Lo inget kan pas Gibran mau anter gue ke Vihara dan gue bilang enggak? Setelah itu dia mulai jauhin gue, kan? Nah, gue merubah jawaban gue hari itu dan kami jadi baik baik aja.."

Sarah menatapku dengan pandangan tidak percaya, "lo kalo udah cinta sama orang jadi bego ya, Na. Jadi gila!"

"Gue gak gila! Ini yang gue rasain dan semuanya seperti nyata, Sar.. Apa jangan jangan dia balik lagi ke kehidupan gue sekarang untuk kasih gue kesempatan.. Memperbaiki apa yang terjadi.."

"Lana Lana.. Tunggu.. Seinget gue.. Bukannya lo sendiri yang marah ketika Gibran balik lagi ke kehidupan lo? Kok sekarang gue dengernya seakan akan lo berharap sama dia? Na, dia udah ninggalin lo, nyakitin lo, bikin semua orang menganggap lo yang paling salah padahal kesalahannya ada di komunikasi kalian berdua. Gibran pergi saat lo butuh dia, dan sekarang ketika lo sudah mulai menata hidup lo, dia balik lagi.. Apa gak sebaiknya lo tutup pintu juga sama seperti apa yang dia lakukan dulu ke elo?"

Air mataku mulai menggenang, "tapi, Sar.."

"Kalo dia bilang lo belum move on, justru dia yang jauh lebih belum move on. Dia yang ninggalin lo, tapi dia masih peduli dengan segala hal yang terjadi di antara kalian pada masa lalu maupun sekarang. Jangan mau terjebak di ketidakpastian, Na..."

"Tapi gue sayang Gibran, Sar.. Sesayang itu untuk tetap tinggal meski gue yang disakiti.. Bahkan mereka yang berusaha menggantikan Gibran pun gak pernah ada yang berhasil.."

"Tentu aja gak berhasil, sayang." Ujar Sarah pelan, "karena lo gak membiarkan mereka berhasil. Tapi mirisnya lo menunggu orang yang gak pernah jelas buat lo. Kenapa sih Na? Kenapa harus nunggu Gibran terus?"





To be continued..



Kadang gue cuman pengen lihat dia bahagia,
tapi karena gue sayang,
gue jadi pengen temenin dia sampai dia dapat kebahagiaannya.


You may also like

1 comment:

Leave me some comment! Thank you, guys:}