Overlook episode 8

Sekarang sibuk sibuklah perbaiki diri dan kirimkan doa,
setidaknya untuk memperbaiki hati yang terluka.
Masalah ia kembali atau tidak biarkan Yang Maha Esa berkuasa.
Karena hati yang tulus ikhlas akan selalu punya kekuatannya.
Dan yang terbaik tidak akan datang begitu saja: butuh pengorbanan.

-Ditulis untuk belajar menghindari pengharapan, 
buka diri dan jalani saja hidup ini.
Kamu pantas bahagia,
ada ataupun tidak ada dia.

***


SEBELUMNYA DI OVERLOOK: If you could turn back the time, what would you do?


Jika waktu benar benar bisa menyembuhkan luka, namun kenapa itu tidak terjadi pada Lana?

Setelah hampir 4 tahun ia mencoba membangun tembok pertahanan, Gibran Putra Rayya, laki - laki pertama yang membuatnya gila kembali muncul di kehidupannya. Hubungannya dan Gibran tidak pernah benar benar bisa dikatakan sebagai hubungan, namun satu sama lainnya selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik dari yang mereka miliki. Hanya saja perbedaan di antara mereka dan beberapa faktor lain membuat Gibran memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka tanpa berdiskusi dengan Lana.

Setelah pergi secara sepihak, Gibran tiba tiba muncul di samping meja kerja Lana dan menjadi partner kerjanya. Lana sempat berniat memagari diri, tapi Gibran terus masuk ke ranah masa lalu yang membuatnya semakin terjebak pada banyak penyesalan. Semenjak saat itu, Lana mulai mengalami de javu tentang kejadian kejadian yang ia rasa memicu dirinya kehilangan Gibran. Hal tersebut kembali membuka luka lama Lana yang sudah lama ia usahakan untuk tidak terusik lagi.

Namun bila ia bisa kembali ke masa lalu dan memperbaikinya, akankah hal tersebut membuat Gibran tidak pergi?

***


1. Tulus - Tukar Jiwa


Are we going to hurt each other over and over?

Menjelang hari sidangku, entah kenapa aku rindu padanya. Padahal sudah puluhan hari aku tak melihat wajahnya bahkan bicara dengannya pun tidak pernah. Aku hanya memandangi timeline Twitter-nya tanpa memberikan respon apa-apa. Namun seakan ingin memberi kabar, kami sering berbalas balasan tweet ala anak SMA tanpa membubuhkan username satu sama lain. Setidaknya aku tahu, Gibran dan pekerjaannya sekarang baik baik saja. Setidaknya Gibran tahu, aku dan skripsiku berjalan sangat luar biasa.

Namun hari ini satu balasan tweet darinya seakan merubah segalanya. 

@revinalana
Duh, kalo dia sih enak ngerjain ginian pasti lancar. Kalo gue? -_-

replied by @gibranputrarayya
Skrispi udah sampe mana, Na?

replied to @gibranputrarayya by @revinalana
Minggu depan aku sidang, Mas.

replied to @revinalana by @gibranputrarayya
Alhamdulillah cepat juga yaa. Udah beres semuanya? Kamu udah siap?

replied to @gibranputrarayya by @revinalana
Yaa gitu. Nanti aku mau ngomong ya.

replied to @revinalana by @gibranputrarayya
Mampir ke kantor aja yaa. Aku jam 4 udah kelar.


And what the hell am I thinking.. Aku lobby kantor Event Organizer tempat Gibran bekerja. Padahal maksud hati hanya ingin mengirim direct message malah berakhir di kantornya seperti ini. Gibran tiba - tiba mengirimkan BBM memintaku untuk naik ke lantai 1 ruang Lily tepat beberapa langkah dari tangga. 

Aku mengetuk pintu ruangannya dan masuk sambil membawa bundel skripsiku. Gibran rupayanya duduk sendirian di dalam sana di Hari Jumat sore. Ia melambaikan tangannya padaku dan memintaku duduk di sebelah kubikel miliknya. Ia tampak sibuk dengan design yang sedang ia kerjakan, seperti kartu undangan yang elegan dengan nuansa biru navy kesukaannya.

"Itu kartu buat kamu apa buat client? Kok warnanya warna kamu." Ujarku membuka percakapan karena Gibran tak kunjung bicara apa - apa.
Ia tersenyum malu, "masih inget aja."
"Minggu depan aku skripsi, dut. Eh..." Tanpa sengaja aku menyebutkan nama panggilanku padanya saat kami masih bersama. Gibran menoleh lalu bergumam, "udah lama gak denger kamu manggil begitu."
"Nama adalah doa, jadi aku masih berdoa supaya kamu gendut, sehat dan bahagia." Sahutku sambil tertawa. Ia pun ikut tertawa.
"Denger denger ada yang punya pacar baru ya?" Tanyanya pelan.

Aku mengerutkan dahiku kebingungan. Kok sesi pertemuan kami terdengar interogasi?

"Hah? Apaan deh? Kamu kali.."
"Enggak, aku denger kamu punya cowok baru. Anak mana dia?"
Aku tersenyum sinis, "gak usah tahu, nanti kamu merasa tersaingi lagi."
"Ye.. Just checking whether you are happy or not."
"Aku selalu bahagia kok. Buktinya skripsi aku selesai dan aku cuman mau ngomong minta doa aja sama kamu. Kamu gak perlu takut aku masih mikirin kamu kok. Aku gak akan aneh aneh lagi seperti mau kamu. Kamu gak perlu khawatir, aku gak akan nyusahin kamu lagi kayak dulu karena aku udah bisa berdiri sendiri sekarang.."

"Na.. Na.." Gumam Gibran disela tawa renyahnya.
Aku mendorong bahunya pelan, "kok kamu ketawa sih,  Gib? Aku kan lagi ngomong. Aku gak mau ya kamu ngerasa kasihan sama aku atau apapun lah itu, toh aku bahagia kok setelah kita gak bareng bareng. I'm fine with it. Ada ataupun gak ada cowok baru, aku gakpapa kok. Toh aku bisa bahagiain diri aku sama Mama, Papa, Ko Gerry, Sarah.."
"Lana..." Gibran akhirnya memutar kursinya dan menatapku dalam dalam. "Udah ngomongnya? Udah cukup?"
"Habis kamu selalu anggep aku anak kecil yang gak bisa ngurus diri sendiri-"
"Karena buat aku, kamu akan selalu begitu.. Jangan kamu kira aku gak seneng kamu bisa magang di PR Consultant impian kamu, lihat kamu aktif lagi di Vihara, lihat kamu punya banyak temen sekarang. Aku seneng kok, tapi aku gak perlu harus nunjukin lagi kan? Kamu udah cukup berubah kok, Na.."

Kata demi kata yang keluar dari mulut Gibran berhasil membuat mataku berkaca kaca. Ini bukan tujuan utamaku untuk bicara dengannya hari ini. Aku sebenarnya hanya ingin meminta doa restu kepadanya karena ini salah satu hal yang penting untukku. Namun aku tidak menyangka Gibran dan segala katanya kembali bisa memancingku untuk bicara. Padahal aku ingin memagari diri supaya tidak menangis lagi. Hanya saja...

"Gibran tahu kok Lana sudah berusaha.. Tapi sekarang bukan Gibran lagi kan tolak ukurnya? Kamu harus bisa bahagia tanpa aku, Na. Karena bagaimana pun cerita kita gak pernah bisa lanjut kemana mana."

Aku menggeleng, "enggak kok. Aku bahagia tanpa kamu. Apa aku harus kenalin cowok yang kamu bilang itu? Nanti kalo udah jadian aku kenalin ya sama kamu."

"Iya.. Kenalin aja. Asal habis itu jangan putus -jangan berhenti lagi dengan orang lain karena aku."
Aku menggeram pelan, "aku.. Gak gitu lagi.. Gibran.."
"Insya Allah aku akan percaya, Na. Selama isi timeline kamu gak lagi tentang aku. Selama kamu gak diam diam datang ke tempat tongkrongan kita untuk cari aku. Selama kamu gak menanyakan kabarku kepada teman temanku. Aku selama ini tahu kamu masih cari aku, walau kamu gak pernah ngomong langsung sama aku. Itu cukup jadi bukti untuk aku kalo kamu masih saja menggantungkan segala aspek kehidupan kamu sama aku."

Kali ini Gibran membuat air mataku kembali terjatuh bahkan setelah hampir satu tahun aku berusaha untuk menahan rinduku padanya sendirian. Seakan Gibran membuka semua aibku bahkan untuk menatap matanya lagi aku tidak mampu. Namun jemari Gibran meraih jemariku lalu ia menggenggamnya, pelan dan begitu hangat.

"Aku tau kamu kangen aku, Na. Aku juga sejujurnya gak mau jutekin kamu terus, diemin kamu kayak gini. Kamu sudah sangat baik sama aku -bahkan aku tahu kok kamu tanya detail keadaan aku sekarang sama temen temen aku. Secemas itu kamu sama aku takut aku sakit, ya aku pun begitu Na. Aku masih mantau kamu, kok. Tapi gimana Na.. Aku bisa berbuat apa? Keadaannya sekarang sudah beda -kita gak bisa lagi sama kaya dulu."

Seakan ia mengetahui rasa rindu ini sehingga ia memintaku datang setelah satu tahun panjang tanpa sepatah kata pun terucap. But unfortunately, it was our last conversation.

***

So last night was a lit.

Setelah makan bakmi ayam favorit kami, sedikit nostalgia tentang teman teman kuliah dan beberapa momen manis di antara kami, Gibran mengantarku pulang dan memberikanku bunga tidur yang cukup manis. Lagi lagi aku bermimpi tentang pertemuan terakhir kami. It was beautiful yet painful. 

Namun karena aku membiarkan mimpi semalam berjalan begitu saja tanpa berpikir untuk mengusiknya, aku jadi teringat Evan, cowok yang mendekatiku saat aku sedang menyusun skripsi. Cowok yang Gibran kira adalah penggantinya, namun bahkan sampai sekarang pun Gibran tidak tergantikan.

Namun sesuatu yang gila terjadi pagi ini kala Gibran baru saja pamit akan bertemu client dan aku tetap tinggal di kantor. The bussiest woman on earth, Sarah Esterlita Theo, tiba tiba mengabariku untuk makan siang bersama Evan dan beberapa teman lama. I was wondering how does he look like. Apakah dia masih sekaku saat kuliah atau sudah lebih luwes dari yang terakhir kali aku lihat di hari Graduation?

Kak Andrea mengetuk pintu ruang kerjaku lalu masuk sambil membawakan sebungkus coklat. Ia lalu tersenyum kecil, "duh jam segini make up.. Mau kemana, sih?"

"Hehe.. Aku makan di luar ya, Kak!"
Kak Andrea mengerutkan dahinya kebingungan, "lho kok gak pergi sama Gibran? Kamu kan biasanya apa apa sama Gibran, Na.."

Aku tersenyum kecil, "aku rasa jangan terlalu sering ada karena nanti keberadaan kita yang sudah biasa akan sulit disyukuri sebagai anugerah luar biasa. Padahal kita sudah berjuang segenap hati untuk memberikan yang terbaik, yang ada kita malah tidak diapresiasi dengan baik. Lalu kita diliputi rasa kecewa karena pengharapan. Jadi lebih baik sekali kali ada jarak, supaya bersyukur. Setuju gak, Kak?"

***

I don't have any words to tell except.. Terkutuk ya lo, Sarah!

Ternyata Sarah merancang makan siang ini hanya untukku dan Evan yang untungnya tidak berakhir canggung sama sekali. Makan siang jebakan seperti ini bukan kali pertama dari Sarah. Namun tidak banyak yang kami bicarakan selain pekerjaan dan update kehidupan setelah beberapa tahun tidak bertemu. Hanya saja dari sekian banyak makan siang jebakan yang Sarah buat untukku, hanya kali ini aku bisa merasa nyaman. Mungkin karena Evan yang ada di hadapanku tidak asing untukku.

"Jadi lo masih suka baca komik?" Tanyaku sambil mengaduk es kelapa yang baru saja sampai di meja kami. Terdengar klise tapi bukannya sangat menyenangkan untuk tahu kepribadian orang lain lebih jauh?
Ia mengangguk, "masih kok.. Kalo hari hari senggang gue baca komik.."
"Emang lo punya hari senggang?" 
"Iyalah punya.. Gue pakai hari Minggu gue buat have fun, bukan buat kerja. Capek kali kerja mulu. Kalo lo sekarang sibuknya ngapain aja, Na?"
"Hm.. Kerja.. Di rumah.. Bantu toko bunga Mama.. Berantem sama Koko-"
"Eh lo punya kakak, Na?"
"Lho kan gue udah cerita gak sih dulu?"

Kami berdua terdiam lalu tertawa terbahak, "gila ya hampir 3 tahun gak ketemu aja lo banyak lupa soal gue, Van."

"Tapi gue masih inget kok kalo elo suka makan bakso depan kampus! Hahaha."
"Ih udah lama banget yaaa.."

Tiba - tiba handphoneku bergetar tanda 2 pesan masuk. 

WhatsApp message from Gibran Putra Rayya
Kenapa kita sering ninggalin satu sama lain? 

WhatsApp message from Gerardo
Koko mau ajak Luna ke WO untuk jadi bridesmaid-nya Natasha.

Seketika aku terkejut melihat kedua pesan yang muncul di layar handphoneku. Terkadang aku bingung dengan Gibran. Apa sih yang dia mau dari kami? Teman? Tapi teman macam apa yang kerjaannya flirting sana sini? Ini lagi, Ko Gerry! Kenapa dia mau bawa Luna ke WO untuk pernikahannya dengan Natasha? Memangnya gak ada cara lain?

"Na.."
"Hah?"
"Na.."
"Apa?"
"Kalo gue mau deketin lo lagi boleh gak?"

Seakan jantungku berhenti berdetak beberapa saat. Aku mengalihkan pandanganku dari handphone dan menatapnya dalam dalam, "gak salah ngomong lo?"

"Lo.. Udah gak ada hubungan sama.. Kakak tingkat itu, kan?"

There you are, setiap mereka yang tahu ceritaku tentang Gibran akan selalu takut melangkahinya. Gibran dan segala pesonanya ternyata bukan hanya memikatku namun membuat orang lain ragu untuk bersaing dengannya. 

Lalu bagaimana aku membuka lembaran baru kalau semua yang ingin memulai denganku takut padamu, Gib?



To be continued..




Kadang aku tanya "apa kabar"
bukan untuk cari topik,
tapi benar benar ingin tahu.
Karena terkadang rasa rindu ini terlalu sulit
untuk disimpan sebatas sebagai teman.


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}