10 Surat 19 Tahun #4

10 Surat 19 Tahun: keempat

Gue gak suka ke tempat ramai. 

Itu satu hal yang gak semua orang tahu. Itu alasan kenapa kalo di tempat ramai gue lebih suka main handphone atau baca buku. Bahkan gue lebih suka nulis di tempat ramai. Yang jelas gue adalah tipikal orang yang suka dengan segala hal yang fokus, intim dan spesial. Semacam me, my self and I banget orangnya.

Jadi hari ini gue menyambangi Candi Prambanan which is Candi tertinggi Hindu di Indonesia. Dalam setahun gue mempelajari dan memperdalam ilmu gue tentang dua Candi sekaligus (karena dalam perjalanan ke Prambanan ini gue ngajarin Deniz banyak hal, jadi gue juga ikut belajar lagi), Borobudur dan Prambanan.

Kalo lo denger kata Candi, mungkin agak rancu kalo gak menilik dari desain dan ukiran ukiran yang ada. Salah salah lo bisa mengkategorikan Candi Borobudur adalah Candi milik Hindu, padahal itu milik agama Buddha dan sebaliknya. Nama dan bentuk mereka sama, tapi kepemilikan dan kegunaannya berbeda. Orang Hindu memakai candi biasanya untuk penguburan au jenazah. Sementara untuk orang Buddha memakainya untuk pemujaan.

Hampir sama tapi beda.

Gue melewati banyak perbedaan tahun ini. Datang ke banyak acara peringatan keagamaan orang lain, pergi main dengan banyak orang yang latar budaya dan agamanya beda sama gue sampai jatuh hati sama orang yang berbenteng dengan gue. Jelas, gue gila dan naif untuk jatuh cinta pada dia yang berbeda agama. Tapi seperti pergi ke dua Candi tersebut, gue jadi belajar banyak. 

Gue belajar bahwa bagaimana pun gue berusaha untuk membuat perbedaan itu tidak terasa, tapi sebenarnya akan selalu ada. Bagaimanapun gue menganggap perbedaan itu bukan penghalang, namun tetap saja kadang itu yang memecahkan. Tapi gue belajar kompromi dan toleransi. Ketika gue mau orang lain menghargai gue, gue juga harus belajar menghargai dia.

Contohnya ketika gue menghadapi orang yang gak bisa jujur sama perasaannya, gue hargai aja setiap usaha dia untuk menjaga supaya gue gak sakit hati atau malah kabur saat dia gak bisa tanggung jawab sama perbuatannya sendiri. Gue hanya berusaha untuk menghargai orang lain. Meski sering kali orang lain gak menghargai gue.

Karena hidup menebar kebahagiaan jauh lebih membahagiakan, kawan;)



Tertanda,
Titi










You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}