Overlook episode 9

"If I can love the wrong person this much, 
think of how much more I could love 
the right one."

Well, they said. but then, think about this:

Kalo kamu udah tahu kamu mencintai orang yang salah, apakah kamu akan pergi dan mengabaikannya atau tetap tinggal karena mencintainya?

Siapa yang tahu tentang benar dan salah jika memang itu tentang perasaan?


***



1. Water Under The Bridge - Adele


Siang ini The Busssiest Woman on Earth Sarah Esterlita Theo berhasil membuatku bete setengah mati. Dia yang kemarin malam telpon sambil maksa untuk makan siang tapi dia sendiri yang kali ini membatalkan. But still, it's better than being trapped with Evan a few days ago. Sarah langsung kena semprot habis habisan dariku. She knew that I'm trying to getting back with the guy who is eating his Kentucky Fried Chicken in front of me but what the hell was she thinking to set me up with Evan?

Anyway, I found that the best escape from both of us is fast food. Aku rasa trik yang sama masih akan selalu bisa aku pakai sampai kapanpun; kalo Gibran mulai ngeselin, tarik aja dia ke konter KFC. Dia pasti diem deh.

"Dut, makannya yang rapih dong. Kayak anak kecil deh lo." Ujarku sambil mengambilkan tissue dan menyodorkannya pada Gibran. Yang diomelin hanya nyengir lalu kembali menyantap dada ayamnya.

Jika melihat dia dengan suasana yang bagus seperti ini, aku merasa selalu senang sama Gibran. Gibran bagaikan kotak kebahagiaan dan kejutan. Dia selalu tahu bagaimana menyenangkan orang orang di sekitarnya. Tapi untuk kembali bersama Gibran memang belum menjadi tujuan utamaku. Aku hanya ingin menikmati waktuku dengan Gibran.

"Naa, makan. Habis ini kita harus ngurusin presentasi untuk client baru." Sahut Gibran ketika mendapati diriku hanya memperhatikannya. Hari ini Gibran ganteng banget. I couldn't blink my eyes for awhile. Dia selalu tampak manis dengan kemeja hitam dan jaket denim andalannya. Maklum hari ini hari Jumat dan seperti biasanya outfit kantor kami lebih santai dari hari hari lainnya.

Aku mengangguk, "bawel ya lo. Udah lo makan aja dulu. Cape kan habis jalan jauh dari Masjid?"
"Iya sih.. Tadi panas banget, gak dapet ojek online lagi." Gerutunya. "Kapan kapan anter gue dong ke Masjid, biar adem."
"Ye ngapain gue nganterin lo? Pergi sendiri aja, udah gede kan-"
"Belajar lah ke Masjid, kali kali betah." Sahutnya enteng.

Eh?

Gibran dan kalimatnya selalu membuatku berpikir keras dengan apa keinginanku.

Pernah gak sih kamu sayang dengan seseorang tapi kalian gak bisa bersama? Lalu katanya kalo kamu mencintai orang yang salah (dalam artian salah karena mau gimana pun kalian gak bisa bersama), kamu sebaiknya berpikir untuk mencari orang yang benar dan belajar mencintainya. Padahal aku sendiri gak habis pikir, kenapa kalo kita beda atau kita gak bisa bersama, kita langsung seenaknya memberikan titel salah pada orang tersebut? Bukannya perasaan itu datang begitu saja dan tidak pernah memandang siapa orangnya? Lalu kenapa harus ada orang yang salah dan benar?

Once, Gibran had asked me what it felt like to be with him. Jelas, rasanya agak sulit apalagi dengan adat dan kepercayaan kami yang berbeda. Keluarga Gibran benar benar tipikal Jawa banget. Walau aku sudah bertemu dengan Tante Indah (dan dia terlihat menyukaiku walau aku juga heran, kok dia setuju setuju aja si Mas main denganku), tapi tetap saja minder itu pasti ada. Tapi aku tidak pernah membiarkan Gibran tahu tentang perasaan itu. Karena aku takut Gibran makin kepikiran atas perbedaan kami.

Tapi akhirnya pun kami berpisah karena Gibran bilang tidak akan ada jalan untuk kami sampai kapan pun. Untuk cinta tapi beda seperti ini, siapa yang bisa menyelamatkan hati yang butuh kepastian?

"Kalo gue main ke Masjid, kita masih bareng gak?" Tanyaku spontan. Tiba tiba Gibran terbatuk batuk hingga mengeluarkan air mata. Aku segera menyodorkan air mineral botolku. Namun Gibran menepisnya dan meraih gelas sodanya. 
"Kamu jangan minum sodanya, minum airku aja!" Seruku agak kesal. Ia menatapku memelas sambil terbatuk lalu akhirnya meraih air mineralku.
"Aduh, pedas banget sampe tersedak gini." Katanya mencoba ngeles. Aku menatapnya sinis lalu tersenyum.
"Kamu kalo mau ngibul ya jangan sama Lana dong, Dut. Aku udah tahu kamu.."

Dia tertawa, "abis pertanyaannya tiba tiba gitu."
"Ya abis kamu ngapain juga ngajakin aku ke tempat ibadah kamu."
"Ya.. Aku gak tahu, Tuhan yang tahu jawabannya Na."
"Memangnya kalo kamu bisa balik ke masa lalu, kamu mau merubah apa?"
"Aku gak akan rubah apapun. Aku gak nyesel sedetik pun untuk sama kamu. Tapi seperti yang kamu tahu, emang keadaan kita waktu itu gak ada jalan keluarnya. Kita sama sama terlalu berekspektasi antara satu sama lain dan berkali kali dikecewakan."

Aku membenarkan posisi dudukku, "kapan kamu berekspektasi sama aku? Kamu sama sekali gak pernah minta apa apa dari aku."

"Kan aku gak harus selalu bilang, Na.. Aku udah kasih tau kamu, aku akan selalu memperhatikan kamu. Aku harap kamu sedewasa itu untuk tau apa maunya aku. Tapi kamu gak begitu, kan? Kamu cuman mikirin maunya kamu tentang aku? Ditambah lagi kamu sevokal itu, kamu kadang gak mikirin keadaan aku yang lagi capek berantem, capek nenangin emosi kamu. Lama lama aku nyerah lah. Aku bisa gila ngurusin kamu terus hahahaha."

"Ugh..." Aku mulai merasa sedih, "segitu bebannya ya Gib saat sama aku?"

"Beban banget, gila! Lihat kan aku gak gendut gendut dulu?" Katanya sambil tertawa.

"Tapi Lana jangan sedih.. Gibran sudah lihat perubahaan kamu kok. Kamu banyak banget berubahnya, bahkan lebih dewasa dari terakhir kali kamu nyelundup masuk ke kantorku-"
"Gak nyelundup ya! Kan kamu yang minta aku datang!" Seruku kesal.
"Hahaha, iya Na.. Makanya Aku senang Lana sekarang seperti ini."
"Aku juga senang Gibran sudah bisa santai lagi sama aku."
"Karena coba pikir deh Na, kalo kamu mencintai aku yang jelas salah aja sudah sebesar itu, gimana kamu mencintai orang yang tepat untuk kamu? Kita ketemu untuk belajar jadi dewasa dan mempersiapkan satu sama lain ketemu dengan orang yang lebih baik."

"Kamu udah ketemu?" Tanyaku pelan.
Gibran tersenyum lebar, "kalo udah sih pasti ada gandengan sekarang."
"Kalo aku yang ketemu duluan gimana?"
"Ugh.. Lupainlah aku dulu." Ujar Gibran agak kelabakan. "Baru mulai sama yang lain. Kasihan kalo kamu udah mulai terus aku masih ada.. Nanti putus lagi."

"Seriusan, kalo ternyata aku udah punya pacar gimana?"

Gibran menghela napas lalu tersenyum, "kalo pun punya, ya silahkan saja. Tapi jangan harap dia bisa menandingi aku. Emang dia bisa bikin event planning yang selalu oke tanpa revisi untuk atasan dan client?"

"Jadi secara gak langsung, Gibran itu yang terbaik ya?" Tanyaku sambil tertawa.
Dia tertawa terbahak, "yaiyalah. Mau cari kemana pun juga gak akan kali kamu nemuin orang kaya Gibran Putra Rayya."
"Jadi gak salah dong kalo sukanya sama Gibran?"
"Jelas gak salah." Sahutnya sambil menyomot ayamnya kembali. "Wong kamu mau tanya sama siapapun juga pasti mereka lebih milih aku daripada Evan-" 

Aku dan Gibran saling bertatapan ketika ia menyebutkan nama Evan. Demi Tuhan aku sama sekali tidak pernah mengatakan padanya jika aku bertemu dengan Evan lagi!

"Kok Evan? Kamu ngikutin aku ya waktu aku makan siang sama dia?!"
Gibran menggeleng, "ye.. Enggak kali. Aku inget aja dulu kamu sempet deket sama Evan-"
"Kenapa Evan doang yang diinget? Aku kan deket sama yang lain juga?"
"Duh kok jadi bawel juga." Sahutnya kesal. "Pokoknya jangan bandingin aku sama Evan. Emangnya Evan bisa jadi stage manager buat dua panggung sekaligus? Ngurusin sound tapi tetap bisa jadi MC atau tiba tiba jadi lighting buat event client? Enggak kan?"

Aku tersenyum lebar, "kalo gitu.. Kenapa bukan kamu aja yang sama aku?"

Wajah Gibran langsung merona merah. Kurasakan pipinya memanas seketika.

Skakmat. I win!

***

Namanya Ester dan ia yang membuatku bertengkar hebat malam ini dengan Gibran.

Tiba tiba aku kembali ke beberapa tahun lalu saat hubunganku dan Gibran masih di bulan bulan pertama. Kala aku mengenal gadis yang sebelumnya bersama Gibran namun akhirnya pergi begitu saja. Kesalahan malam itu diawali oleh cemburu yang tak berujung tentang Gibran dan Ester sejak seminggu sebelumnya. Namun Gibran tampaknya sudah tidak bisa membendung amarahnya padaku.

Malam itu aku menangis setelah ia marah marah padaku melalui telpon. Sambil mendengar suaranya, aku mencoba mengingat ingat apa yang salah dari kejadian ini. Karena seperti biasanya kilas balik macam ini akan selalu memberikan tanda untukku mengingat apa yang telah terjadi di antaraku dan Gibran pada masa lalu.

"Kalo kamu masih begini tentang Ester, berarti kamu gak percaya sama aku kalo aku udah gak ada apa apa sama Ester. Kalo aku udah move on dari Ester.."
"Ya abis aku juga kan gak tahu gimana kamu sama dia sekarang."
"Lagian Ester udah punya cowok dan dia teman baikku sekarang. Kenapa sih kamu gak percaya sama aku?"
"Kamu kan tinggal jelasin baik baik, gak perlu-"
"Ya kamu udah aku kasih tahu masih aja begini. Grow up, please, Lana. Jangan begini dong, kamu nyusahin aku tau gak."
"Ya.. Kan dulu kamu suka-"
"Kalo aku bilang dulu dan sekarang cuman temenan aja,  ya I mean it. Kenapa sih harus dipermasalahkan?"

Semakin keras isak tangisku, semakin tinggi nada bicara Gibran.

"Aku gak mau lagi ya kamu begini. Aku capek ngehadepin kamu. Di dunia ini gak semuanya tentang kamu, Na! Jangan cuman mikirin diri kamu sendiri! Pikirin perasaan aku juga!"
"Tapi Gib.."
"Jangan telpon aku!"

Gibran memutuskan sambungan telponnya lalu meninggalkanku yang menangis terisak. Beberapa saat kemudian ketika aku mengedipkan mataku, aku sudah terbangun dari mimpi itu. Mimpi yang terasa begitu nyata, mimpi yang seharusnya bisa aku rubah namun aku tidak tahu bagian mana yang harus dirubah.

Kalau dipikir pikir lucu juga. Ketika kita cemburu dan malah kita yang dimarahi. Namun jika malam itu Gibran tidak bertindak, mungkin aku tidak bisa mengendalikan rasa cemburuku pada cewek cewek lain. Karena pada dasarnya aku orang yang cemburuan banget! Niatku tidak ingin jadi posesif, tapi karena takut tergantikan, aku jadi mulai mengikat dan membuatkannya pagar.

Jika sudah seperti ini aku jadi bingung...

Hal buruk yang terjadi di masa lalu terkadang membawa dampak baik untuk hidup kita tapi tentu saja mengubah satu aspek. Seperti setelah kejadian itu, Gibran tidak pernah menggubris lagi diriku yang cemburu pada teman teman perempuannya. Sementara aku yang harus melewati rasa sakitnya dulu, berkembang menjadi lebih dewasa. Namun akhirnya aku merasa Gibran jadi seperti tidak memperdulikan perasaanku.

Kalau aku bisa kembali ke masa lalu dan mengubah hal hal yang membuat Gibran memilih untuk pergi, akankah dia memilih untuk menetap dan tidak hilang lagi?



To be continued...




Kenapa menyayangi itu membuat orang jadi bodoh?
Seperti seharusnya sudah pergi dari lama, 
tapi masih memaksa untuk menetap.
Hanya untuk melihatnya bahagia.
Tapi dia sendiri memangnya peduli 
dengan kebahagiaan kita?


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}