Overlook episode 12

"The dream was real.. 
Or maybe the feeling of miss him was too real.
It kills me."

***




1. How Not to Love You - Leroy Sanchez


REVINA LANA ALLEZIA WIJAYA


Aku tidak pernah suka tempat ramai; atau aku memang orang aneh seperti yang Gibran bilang? Tapi Evan tidak pernah mengerti setiap tanda yang ku tunjukkan kala ia mengajakku ke tempat tempat ramai di tengah hari kerja. It kills me, you know? 

Sudah hampir 3 minggu aku tidak bicara pada Gibran. Aku membiarkannya di sampingku tanpa pernah sedikitpun mengusik kehidupan pribadiku. Oh well, ini bukan aksi pergi untuk dikejar. Tapi aku dan dia tidak bisa begini terus; saling memainkan hati satu sama lain padahal tidak pernah ada keinginan untuk melanjutkannya.

Seminggu pertama Gibran benar benar mencoba meluluhkan hatiku, bertanya tentang semua hal bodoh yang seharusnya ia tahu jawabannya hingga berusaha membuatku tertawa. Setiap Gibran melakukan hal yang membuatku tertawa, aku berjuang setengah mati untuk menutupi ekspresi wajahku. Tapi Gibran tahu dia yang terbaik. Dia tahu bagaimana cara mencuri hatiku kala aku membuatnya dingin seperti es batu.

Hanya saja tidak bisa. Tidak bisa begini terus.

Aku berusaha membuat jarak supaya Gibran berhenti seenaknya mempermainkan perasaanku. Aku membuat tembok supaya Gibran harus meruntuhkannya jika dia benar benar menyayangiku. Tapi aku bersembunyi di balik tembok itu, dengan menaruh Evan sebagai penjaga di hadapannya sambil menangis menahan rindu setiap kali dia berusaha mengajakku pergi untuk mencairkan suasana.

I miss you, Gib. I couldn't miss you more than this.

But things get better since that girl is finally here. Namanya Adela Hanjaya, seorang anak magang dari kampus kami dulu. Keberadaannya cukup mencairkan kecanggungan antara aku dan Gibran yang kubuat sendiri. Perawakannya benar benar beda banget sama aku. 100% gadis Jawa yang Tante Indah pasti jatuh cinta kalo lihat dia. Wajahnya mungil, suaranya lembut, ada tahi lalat kecil yang mempermanis wajahnya, senyumnya cantik, giginya rapi dan pertanyaan pertamanya padaku adalah "Mba Lana solat gak ya? Aku gak berani di Musholla sendirian." Oh she is perfectly perfect for My Gibran kecuali rambutnya yang dipotong pendek.

Have I ever told you that My Gibran never like a girl with short hair?

Dia pernah marah saat adiknya, Tristania (atau Dede -panggilan dari Gibran) minta izin untuk memotong rambutnya di atas bahu. Gibran tidak pernah suka gadis dengan rambut pendek. Dan iya, jangan lihat rambut hitamku yang semakin panjang sekarang. Tidak perlu bertanya, it was all about him.

Talk about Adela Hanjaya, she's right there talk to Gibran with her wide smile. Semakin lama aku melihat mereka, semakin aku ingin memuntahkan semua ini rasanya. Tampaknya Gibran lebih bahagia dengan Adel... Wait, why could I say those words?

"Ah.. Mas Gibran ini. Enggaa.. Gak gitu, aku paham kok."
Gibran tertawa menggoda, "kalo paham gak mungkin salah dong, Del?"
"Yaa.. It just another exception." Sahut Adel malu - malu.
"Makan bareng yuk, Del?"


Oh shit.

Why?

Masa sih Gibran akhirnya...

***

GIBRAN PUTRA RAYYA

Gue sama sekali gak peduli.

Persetan dengan orang bilang gue brengsek karena dekat dengan banyak cewek atau Lana yang akhirnya lebih milih jalan dengan cowok cupu itu. Gimana gak gue katain cupu? The last time we talk, she mentioned how Evan ask her about me. Gue gak peduli dia sekarang udah mapan kek, seagama kek sama Lana, berani deketin Lana lagi secara terang terangan...

Oke, fakta terakhir memang gak bisa gue pungkiri bahwa itu satu satunya hal yang gak bisa gue kasih ke Lana. Mungkin itu alasannya kenapa Lana menjauh beberapa hari belakangan ini atau dia memang sudah jatuh kepada Evan?

Tapi Tuhan dan semesta alam memang selalu sebaik itu pada gue. Ketika Lana bertingkah seperti ini, mereka akan memberikan keajaiban dengan mendatangkan orang orang lain yang mengisi kekosongan hari ini. Let's say the girl who sits in front of me with her own meals is one of God's gift.

Adel menyenangkan. Dia selalu tahu caranya membuat gue tertawa dan yang lebih menyenangkannya kita punya batasan antara satu sama lain. Dia selalu tahu bahwa fast food is the best way to boost my mood. Even the beloved Revina Lana Allezia Wijaya knows it, ia selalu mencoba untuk mengurangi jatah makan fast food gue yang enggak pernah dilakukan oleh Adel.

Fakta selanjutnya adalah dia searah pulang dan seagama dengan gue. Kenapa lo harus sama orang yang jelas beda agama dan rumahnya agak lebih jauh dari rumah lo kalo ada yang jelas di depan mata seperti ini? Oke gue merasa brengsek sekarang.

Tapi jujur semenjak kehadiran Adel, gue udah gak pernah lagi berusaha untuk mendekatkan diri kepada Lana. Kurang brengsek apa sih Gibran Putra Rayya di mata orang orang? Gosip di kantor yang mengatakan bahwa gue dan Adel punya hubungan khusus pun tidak pernah kami bantah sedikitpun. 

Gue selalu mau mengakui Adel sebagai orang yang dekat dengan gue. Di depan semua orang kecuali satu orang yang ada di sampingku saat ini. Tapi herannya dia gak komentar apapun tentang gue dan Adel di saat gue berharap dia akan ngomel ngomel karena bukan dia lagi yang gue antar pulang.

Gue melirik meja dia yang masih penuh dengan tumpukan file ketika gue sudah bersiap untuk pulang. Hari ini gue ada janji untuk makan bareng Tania jam 7 malam. Tapi sebenarnya gue ingin mengajak Lana untuk bertemu Tania karena selama ini mereka hanya saling menitip salam dan bertegur sapa lewat sosial media. Hanya saja...

"Na.. Masih lama?" Sebuah kalimat tanya berhasil membuka percakapan pertama gue dan Revina Lana hari ini.
Tanpa menoleh Lana mengangguk, "pulang aja lo sama Adel."
"Lho? Kok ketus gitu?" Tanya gue keheranan.
"Ya enggak.. Pulang aja. Gue masih lama."
"Gue gak nungguin juga." Sahutku sambil beranjak dari kursiku. "Gue mau balik."
Lana menghela napas, "ya balik lah sana ditungguin Adel tuh."
"Iya emang gue mau balik bareng Adel." Jawabku kesal.
Lana menoleh, "lo ada apaan sih sama Adel?"
"Lho kok masih posesif?"

Pertanyaan gue berhasil membuat Lana berhenti bernapas selama beberapa detik lalu kembali menatap layar laptopnya. Ia terdiam cukup lama dan membuat gue berhasil senyum - senyum sendiri. Girl, kenapa sih lo selalu membuat permainan ini semakin seru? Padahal gue gak niat untuk bikin dia cemburu, tapi..

"Jawab.. Kok masih posesif?"
Lana menggeleng, "gue cuman nanya."
"Emang kalo gue sama Adel kenapa? Seagama ini..."

Lana menoleh dan menatap gue cukup dalam lalu ia berujar, "baguslah semoga lo puas sama dia."

Gue memilih diam lalu berbalik dan meninggalkan ruangan. Entah haruskah gue merasa kesal karena dijutekin melulu atau senang karena tahu cintanya gak pernah habis buat gue. Bahkan meski lo bersikap gak peduli, gue tahu, Na seberapa lo peduli tentang gue. And I found myself relief about it.


***

REVINA LANA ALLEZIA WIJAYA

3 weeks ago...

Percakapan tolol ini berhasil membuat mataku berkaca - kaca. Namun sampai detik detik terakhir pun aku tidak bisa menebak Gibran ingin membawa kami kali ini kemana. Rasanya ingin berhenti mencintai dia; dia, dunianya, hidupnya, cara bicaranya, suaranya, rambutnya, semuanya. Tapi berhenti mencintainya sama dengan memutar waktu dan menghentikan langkahku menuju seminar PR waktu itu. 

Sarah bilang, tidak ada waktu untuk menyesali masa lalu. Yang harusnya aku lakukan adalah jalani masa ini dengan sebaik mungkin selama Gibran masih ada digenggamanku. Namun entah apa yang lebih menyakitkan sekarang; pernah memilikinya atau tidak pernah memilikinya sama sekali?

"Gue rasa Evan orang baik kok. Gakpapa kali Na, coba aja sama Evan.. Dia ke Vihara juga, kan? Mama sama Kokoh pasti senang tahu Dede dapat pasangan seagama. Mama pasti gak pusing lagi. Sudah gakpapa, cobalah buka hati."

"Kenapa sih lo selalu maksain gue buat ketemu orang lain, Gib? Kenapa lo biarin gue ketemu orang lain tapi lo selalu ada di sekitar gue?"

Gibran tersenyum, "karena gak ada kepastian buat kita berdua, Na. Semua masalah yang kita lewatin cuman usaha kita untuk nutupin masalah utama kita. Walau keluarga kamu menerima konsep perbedaan, tapi aku gak akan pernah cocok dengan kultur budaya keluarga kamu. Walau keluargaku menerima kehadiran kamu, tapi kamu gak pergi ke Masjid seperti aku. Itu kenyataannya, Na.. Maka dari itu kita harus selalu siap untuk kehilangan satu sama lain."



Kenapa Tuhan menciptakan perasaan ini jika tidak ada jalan untuk kami?


Koh Gerry benar. Aku tidak boleh terjebak lebih lama lagi.



To be continued...




Bahkan lihat kamu senyum saja
sudah bahagia kok. Semudah itu kan
membahagiakan aku?


You may also like

No comments:

Leave me some comment! Thank you, guys:}