Hannah Baker merupakan karakter fiksi dari buku 13 Reasons Why karangan Jay Asher yang dirilis pada 2007. Sepuluh tahun kemudian Netfllix mengangkat karya Jay menjadi sebuah TV series berjumlah 13 episodes pada setiap seasonnya. Hannah Baker diceritakan sebagai seorang pelajar kelas 2 SMA (sophomore year) yang memilih mengakhiri hidupnya karena menjadi korban bullying di sekolah. Sebelum meninggal, ia merekam 13 tapes berisi cerita mengenai orang orang yang menjadi alasannya merasa tidak nyaman, terkucilkan, tidak dihargai serta tidak dibutuhkan. 

Untuk kamu yang belum menonton season 2, you better step back. I didn't mean to spread a spoiler, but I'd finally find the reason why Hannah shouldn't end her life that easily. Sebenarnya tidak semudah itu juga, sih. Tapi.. Let's talk!

***

Ketika gue menonton season 1 dari 13 Reasons Why, di kepala gue cuman keluar satu kalimat, "oh shit, teman curhat itu penting ya." 


Jika diperhatikan lebih lanjut sebenarnya apa yang Hannah lakukan adalah refleksi diri dari seorang individu yang kehilangan cara untuk mempertahankan kepercayaan dirinya. Hannah memilih untuk pergi meninggalkan dunia karena dia merasa semua hal yang terjadi di dunianya sudah terlalu berantakan untuk sekedar dibereskan. Kalo kamu nonton season 2, kamu akan tahu masih banyak cerita kehidupan Hannah yang kelam dibanding apa yang ia ceritakan. Masalah yang dia alami cukup pelik apalagi untuk gadis berusia 17 tahun; pertemanan, percintaan dan juga keluarga.

Manusia di usia belasan memang benar benar sedang mencari jati dirinya. Pengakuan diri di publik dan rasa cinta kasih serta dukungan dari orang sekitar adalah faktor penting untuk membangun dirinya menjadi pribadi yang kuat dan dapat berpikir logis. Maka dari itu kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Hannah akibat perbuatannya apalagi setelah kejadian yang terjadi di hidupnya. Hannah mengalami banyak sekali trust issues dalam kesehariannya yang membuat dia merasa sudah cukup lelah untuk memulai percaya lagi kepada seseorang.

Tapi bukan berarti gue mendukung perbuatan Hannah. Gue jadi teringat obrolan gue dengan salah satu teman gue, namanya Ellen. Ketika itu kita lagi mendiskusikan salah satu teman kita yang selalu membuat dirinya terlihat paling sibuk yet paling punya masalah di dunia. Then she ended up said like this, "sorry ya bukannya gue gak mau peduli, tapi yang punya masalah bukan dia doang. Harusnya dia bisa keep up."

Nah kata "harusnya" itu pada kenyataannya tidak semudah diucapkan. Ketika gue belajar Persuasive Communication, gue baru mengerti kenapa Attitude seseorang benar benar muncul dari lingkungan, bukan bawaan dari lahir walau mungkin secara genetis satu dua sikap bisa didapatkan dari Ibu dan Ayah. Tapi Attitude yang ada di hidup ini bisa terbentuk jika kita punya nilai nilai dalam kehidupan dianut dan juga kepercayaan pada suatu hal. 



Lalu ketika gue nonton season 2 di beberapa episode terakhir (kalau gak salah ya hehe), gue baru tahu bahwa Ibu Hannah tidak percaya dengan adanya Tuhan. Sementara bisa disimpulkan Hannah juga tidak menganut ajaran apapun. Yang berarti menurut gue... Hannah gak punya pegangan dalam hidup makanya ketika manusia membuat dia merasa tidak berharga, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Jadi ketika teman teman lebih memilih gue membahas "Kenapa tidak boleh menyerah seperti Hannah Baker" di postingan kali ini, gue akan berkata...

Karena kita punya Tuhan, kita punya kepercayaan.

Gak bisa bohong bahwa dalam hidup selalu ada orang yang mengecewakan kita, bahkan kita pun mengecewakan orang lain. Karena pada dasarnya manusia akan selalu mengecewakan, mereka akan selalu berbuat salah, hanya saja bagaimana mereka menyikapi kesalahannya. Apakah mereka mau berubah atau tidak.

Hal yang harus kamu ingat ketika hidup kamu sangat berat adalah jangan menyerah, apalagi hanya karena manusia disekitar kamu menyakiti kamu. Ketika kamu menyerahkan hidup kamu, berarti kamu berhenti bersyukur atas nikmat Tuhan yang tidak bisa dibayarkan dengan apapun.

Kadang gue berpikir kalo aja Hannah Baker bisa selamat, mungkin gak heboh kali ye satu Liberty High School.. Terus gak ada deh 13 Reasons Why.. Gak ketemu deh kita sama Zach HAHAHAHA. Tapi mungkin dari Hannah Baker kita bisa belajar bahwa sebenarnya ketika hidup ini penuh cobaan, kita bisa kok membereskannya. Mungkin apa yang berantakan tidak bisa kembali seperti semula, tapi setidaknya lo bisa beresin pecahan kacanya dan mencoba mengganti dengan kaca yang baru.

Menyerah seperti Hannah Baker sama saja kalah dari peperangan. Gue sangat percaya bahwa gue sedang hidup dalam Hunger Games Arena, di mana teman saja bisa makan gue. Tapi kalo gue menyerah gitu aja, apa gunanya usaha yang kemarin kemarin?

Dan satu lagi teman, setiap orang punya sudut pandang dan cara berpikir masing - masing. Menurut gue Hannah itu baperan banget, tapi kalo lo ketemu sama orang kaya gitu, cobalah untuk menjadi dewasa. Sekedar mendengarkan ceritanya dan bilang "you've done good things, everything gonna be alright" saja udah cukup kok. Daripada lo meninggalkan mereka dan ngatain mereka "drama."

Dari Hannah Baker gue jadi sadar bahwa mungkin banyak orang di luar sana yang kelihatan baik baik saja, tapi sebenarnya mereka sedang sakit dan hampir tidak bisa bernafas lagi. Jadi apapun yang kamu lalui dalam hari harimu.. Be Kind. Jangan menyakiti orang lain, belajarlah memaafkan.

Karena Tuhan selalu punya jalan terbaik untuk umat-Nya.




Jadi.. Siapa yang udah nonton 13 Reasons Why Season 2?!


PS: Semua yang gue tulis itu cuman opini gue yaa.. It's okay if you have different point of view;)
"Pada akhirnya mereka akan berkumpul sesuai dengan pribadinya.
Kalo kita berhenti berkumpul dengan mereka, 
mungkin kita kurang brengsek untuk ada di sekelilingnya."

***

Setelah berbulan bulan sibuk dan setiap kali pulang gak pernah mampir, gue menyempatkan hari terakhir gue di Cirebon untuk ke rumah salah satu teman terbaik masa SMA, Rahadian Afra Imtiyaz. You may know her as Neng Raa, salah satu anggota PPK (Para Pencari Kesetiaan) dan teman gue di Smanda Golden Voice. Setelah satu tahun gak ketemu, tiba tiba Afra udah jadi Make Up Artist aja:"} Meanwhile gue juga berkembang di dunia gue sendiri.

First impression after a year not meeting her was.. She still feel warm as the last time I hugged her. Kita cerita banyak banget, berbagi apa yang selama ini belum sempat dibagikan, mendengarkan apa yang selama ini belum sempat didengar. Gue bahkan sempet jadi model dia lho buat portofolio make upnya!! HAHAHA.

Tiba tiba gue jadi cakep banget sampe pusing:"}

Waktu Afra lagi dandanin gue, dia sempet berujar kaya gini, "aku tuh gak suka Titi diomongin gara gara kalo make up selalu smokey eye. Pokoknya kali ini Neng mau bikin Titi beda." kata dia sambil ketawa. Gue jadi ikutan ketawa sambil mikir, masih ada aja ya temen - temen SMA gue yang ngurusin gue dan memperhatikan gue. Jadi malu masih diomongin:p

Well, as the smokey eye conversation came up, gue jadi teringat bahwa selama setahun terakhir baik gue maupun Afra melewati struggle masing - masing dalam hidup. Masalah bukan cuman soal cinta, pertemanan atau keluarga -sometimes we have problems with ourselves too. Dan rasanya seneng banget ketika gue cerita ke Afra dan dia juga mempunyai rasa yang sama, ternyata kita melewati fase yang sama:"} Bahwa ada beberapa titik dalam kehidupan di mana kita merasa doubting ourselves dan stress akan masalah yang terjadi. We often thought that everything just too much at that time, but we're ended up saving ourselves from being broken.

And I realize that we never really broken, because when you have faith, you won't giving up easily.

Masalah gue dan Afra cukup kompleks setahun terakhir ini, but here we are, kita berusaha bangun dan mengais pundi pundi kehidupan sambil membangun istana kita sendiri. Semakin kamu dewasa semakin kamu dapat merasa bahwa ada beberapa hal di dunia ini yang harus kamu hentikan keberadaannya dari hidup kamu. Bukan karena kamu berhenti jadi orang baik, tapi karena kita sudah beranjak dewasa. Teman yang entah kemana saat dibutuhkan, teman yang menyakiti, disagreement yang berakhir meremehkan kita bahkan hal hal yang gak kita capai. We are not giving up over those things. We just move on and let it go because we realize that it doesn't matter anymore for our life.

Karena hidup yang semakin rumit ini gak perlu makin dirumitin sama masalah yang gak penting.

Kenapa gue bisa bilang kita gak berhenti baik? Well honestly, lets think this way. Hidup itu tentang menanam benih, tapi kalo emang ladang yang kita tanam udah gak baik kualitasnya, why we keep trying hard, then? 


As my good High School friend was painting with her brush on my face, I thought that it's gonna be easier next time; when I have people around, then they hurt me, they I have to try to turn the page, then it goes and goes and goes. By the time, teman yang paling cocok untuk kitalah yang bertahan. Karena bersyukur untuk kamu yang dijauhkan kepada hal buruk, dan kepada kamu yang akhirnya bertemu hal baik;)


Thank you, Afra!!
Go check her account @by.afraimtiyaz on Instagram and book your seat, now!
Selagi berpikir bagaimana nasib UTS Sosiologi gue besok, gue pun menyadari bahwa ini merupakan Ramadhan gue ke 20 di dunia!!! So happy yet so excited karena tahun ini teman teman untuk buka bersama pun bertambah dan gue punya teman taraweh di Masjid hehehe. Gue bareng teman teman CACEPMIKTON (terutama Aly dan Marlinda) sudah janjian untuk pergi ke Masjid bareng bareng. Tadi sih udah dan gue sudah #TarawehGoals banget karena pulang ibadah langsung jajan depan Masjid hahahahaha.




Setiap Ramadhannya gue pasti punya target.

Tahun ini gue pengen bener - bener memaknai Ramadhan gue dan belajar untuk jadi orang yang jauh lebih dewasa dari sebelumnya. Rasanya gue pengen langsung kasih bendera menyerah, tapi kok kayanya cupu banget ya? Kali ini berdamai dengan diri sendiri untuk lebih menghargai hidup dan berhenti mengutuk orang lain adalah tantangannya. Gue menyadari pribadi gue jadi gak kalah menjijikkannya kalo gue terus nyinyir dan suudzon dengan orang yang ngomongin gue “drama queen” tapi gak menghasilkan apa apa lol dan beberapa orang jahat yang tega umbar janji kek pemilu taunya malah menginjak injak castle gue.



Intinya gue bener bener gak terima dengan mereka yang menyakiti pasukan hidup gue bahkan mencoba meruntuhkan castlenya. Tapi gue gak mau berfokus pada orang jahat yang mereka sendiri gak mau berhenti bersikap seperti itu. Gue mau kayak dulu semester 3... Tenang, damai, penuh tawa...

Gue mungkin belum bisa memaafkan, tapi semoga Ramadhan membantu gue menenangkan hati yang bawaannya pengen ngelindes mulu orang orang gak tau diri yang besar mulut doang hehehehe.



ADUUUUH BESOK PUASAAA:( Sahur apa gueeee:(
Pernah gak sih lo dalam keadaan sudah lama kosong atau mungkin masih terpaut dengan yang lama, lalu seketika lo ingin punya orang baru tapi gak bisa? 

Pernah? Oke, lo punya temen kok. Tapi bukan gue sih orangnya.. HAHAHAHA.

Ada beberapa di antaranya yang dengan sangat beruntung dihampiri banyak orang, jadi tinggal milih. Ada beberapa yang berusaha mencari, lalu menyesal ketika ingat satu dua orang baik yang kita lewati demi memperjuangkan hubungan yang kandas kemarin (dan tentu saja diiringi perumpamaan, "kalo aja dulu gue sama dia"). Ada beberapa orang yang emang merasa "I have no idea sama siapa, nyet. Emang ada yang suka ama gue?" setiap kali mencoba cari seseorang untuk mengisi kekosongannya.

Sudah hampir 1,5 tahun gue ikut belajar bersama station manager gue, Bapak Dana a.k.a Babeh. Dari Babeh yang rajin banget nasehatin gue sampe Babeh udah cape saking gue batunya, beliau selalu memberikan wejangan yang sama untuk gue :

"Jangan membabi buta. Realistis aja. Kalo udah benteng jangan dilawan. Pilihlah orang yang suka sama kamu, Bu. Bukan cuman yang kamu suka. Kamu sih dari kecil udah diajarin untuk memilih yang kamu suka. Tapi coba deh, percaya sama orang yang suka sama kamu. Pasti kamu bahagia."

And well yes, the-Rizki Rahmadania Putri-super batu ini akan menjawab..

"Lah emang ada yang suka sama saya Beh?"

And booms! Gue dimaki.

Huh, padahal kan gue realistis ye. Siapa yang suka sama gue sih? Pernah gak sih di saat lo gak bisa peka sama orang sekitar lo yang tertarik sama lo? Ternyata setelah beberapa saat gue mempelajari teori Babeh... Gue berhasil memahaminya.


***

Di perjalanan pulang menuju Apartemen dari Radio malam ini, gue berpikir tentang seseorang. Dia orang yang spesial, namun bukan yang teristimewa. Dia juga punya kehidupan sendiri sekarang, sama halnya seperti gue. Tapi setelah bertahun tahun gue meragukan kasih sayangnya ke gue, gue baru sadar betapa dia sayang sama gue sekarang. Detik ini. Ketika gue lebih menghargai diri gue. Ketika gue berkembang lebih baik dari terakhir kali ketemu dia tanpa bantuan dia dan tanpa ingin mempesonakannya.

Gue sadar gue disayangi ketika gue menyayangi diri gue sendiri.

Ketika elo terus terpuruk akan kegagalan masa lalu dan mempertanyakan terus apakah ada orang lain yang bisa mengisi kekosongan itu, lo akan mulai menyakiti diri lo sendiri. Perlahan hati lo akan semakin rapuh dan cenderung pesimis akan dicintai orang lain. Lalu ketika rasa pesimis itu muncul, hal pertama yang lo salahkan adalah diri lo yang kurang becus mempertahankan dan menyelamatkan apa yang berantakan di masa lalu. Jika hal itu terjadi lo berhenti mencintai diri lo.

Lalu bagaimana orang lain mau mencintai diri kita jika pemiliknya sendiri ragu dan tak mau berjuang untuknya?

Dikutip dari buku Boy Chandra berjudul "Origami Hati" yang gue bawakan di siaran PIKANEKA gue beberapa minggu lalu, gue menyadari bahwa memang membuka hati itu adalah pilihan yang sulit. Karena meski kita mengikuti teori Babeh, membiarkan orang mencintai kita disaat kita tidak mencintai diri kita adalah hal yang melelahkan dan berakhir sia - sia.

"Kamu harus memilih dan menetapkan hati. Jangan pulang ke belakang, kalau kamu enggak mau menemukan luka yang sama. Jangan maju ke depan jika kamu enggak siap dengan hal hal baru dan kejutan yang mungkin enggak pernah kamu duga. Urusan perasaan, dalam keputusan apapun akan selalu diiringi risiko. Kita enggak pernah tahu bagaimana masa depan, tapi kita bisa belajar dari kejadian masa lalu."
-Origami Hati, Boy Chandra.

Nah sekarang point utamanya,

"Gimana caranya bisa berani untuk memilih dan menetapkan hati?"

Satu satunya adalah percaya dan cintai diri kamu. Seperti yang gue ceritakan, gue dan sahabat gue ini terjebak friendzone cukup lama bahkan sampai gue kuliah pun gue masih suka mikirin dia. Gue jadi sulit buka hati karena gue ngerasa di cerita sebelumnya aja gue gagal karena diri gue gak pantas untuk dia perjuangkan. Tapi look at me now. Ketika gue ngerasa jauh lebih percaya diri dan mencintai diri gue, gue baru merasakan bahwa sebenarnya dia sayang sama gue -sebenarnya banyak yang menyayangi gue. Karena apa? Karena gue percaya kalau gue pantas disayangi.

Dalam hidup ini akan selalu ada masa di mana lo akan bilang, "iya Nyet move on sih mau. Tapi lu kira gampang? Emang ada yang mau nerima gue dan gak ninggalin gue lagi?" Namun semakin lo cuman lihat ke belakang, semakin sulit lo membuka lembaran baru.

Buka hati bukan berarti harus memaksakan siapapun yang punya kemungkinan untuk masuk diterima dan diusahakan untuk seperti yang sebelumnya. Tapi buka hati adalah ketika lo berlapang dada menerima kegagalan masa lalu lo dan mulai hidup dari apapun yang lo punya. Percayalah semakin lo mencari, semakin sulit lo menemukan.

Justru hari ini gue merasa bersyukur tidak "jadi" dengan orang yang gue sayangi lebih dari sahabat selama bertahun tahun dan tidak memilih gue. Karena setelah gue sadar bahwa selama ini dia memang sayang dan menjaga gue, gue merasa bangga hati. Gue berhasil melewati rintangan dari patah hati sama dia dan maju ke level berikutnya. Kalau kata sahabat gue, Fena:

"Kalo kamu patah hati hari ini, kamu harusnya bersyukur. Berarti Tuhan menjauhkan kamu dari cowok yang tidak tepat untukmu untuk melangkah lebih dekat kepada jodohmu yang sebenarnya."

Cheesy sih kek pizza kebanyakan keju, but its true.

Pada akhirnya jika mereka yang gue sayangi malah memilih orang lain, gue tahu suatu hari nanti mereka akan berbalik dan menyadari sesuatu tentang kepergian mereka meninggalkan gue. Entah mereka menyesal atau mereka malah makin nyaman buat sama gue (kaya sahabat gue ini). Yang jelas apapun yang menyangkut masa lalu biarkan tersimpan sebagai kenangan. Tapi jangan salahkan kenangan bila muncul kala ingatan menginginkannya. Sebab mungkin kenangan itu yang akan membantu kamu mempelajari situasi pada masa tersebut dan membuat kamu lebih bijak.

Gue mengerti kenapa Babeh berkata, "coba sama orang yang suka sama kamu." Karena ketika sudah ada orang lain yang menyukai kita, berarti kita sudah merasa suka dan nyaman pada pribadi sendiri. Apalagi yang lebih menyenangkan jika kita mencintai diri kita dan dicintai oleh orang lain yang mencintai kita tanpa meminta kita berubah seperti keinginannya?

Well, ini hanya teoriku saja. Semua orang bebas berpendapat kok. Makanya aku suka banget sama lagu Hailee Steinfeld ft. Alesso - Let Me Go. Kenapa? 

Because I've been hoping somebody love you in the way I couldn't
Somebody taking care of all of the mess I've made
Someone you don't have to change
I've been hoping
Someone will love you
Let me go



Karena aku berharap aku mencintai diri aku dan menemukan orang yang mencintai diriku apa adanya. Dan semoga doaku pada diriku sendiri berbalik kepada kamu. Bukannya cinta itu saling mendoakan yang terbaik meski sudah disakiti ya? Yang balas kamu biar Tuhan dan alam semesta saja. Aku capek, mau ngurusin yang lain.





Jadi... Buka hati, yuk?