Belakangan ini gue sering mendengar teman teman gue yang ngeluh "cari yang pas tuh susah buat jadi pacar." Ada yang kriterianya kebanyakan, ada yang teguh pendirian pengen sama satu orang tapi ada juga yang kebanyakan milih jadi ngga dapet dapet. Sedihnya, sering banget orang bersembunyi dibalik kata "ngga ada yang pas" ketika emang ngga mau buka hati aja. Lalu gue jadi dipenuhi pertanyaan, "emang pacar yang pas itu harusnya kayak gimana sih?"

Di beberapa postingan sebelumnya gue sudah sempat cerita tentang Station Manager di LSR yaitu Babeh yang sering kasih petuah bahwa kita harus pacaran sama orang yang suka sama kita. Menurut beliau kita akan lebih bahagia ketika dicintai, dan belajar mencintai jauh lebih mudah daripada membuat orang mencintai kita. Maka dari itu beliau paling ngga suka kalo gue bilang "iya nih Beh belum ada yang saya suka!" Pasti gue dicecer buat cari yang sayang sama gue duluan.

Kalo bicara tentang hal ini, gue jadi teringat drama favorit gue, While You Were Sleeping. Drama itu menceritakan kisah cinta klasik di mana Nam Hong Joo (Bae Suzy) yang jatuh cinta dengan Jung Jae Chan (Lee Jong Suk), namun di sisi lain ada Han Woo Tak (Jung Hae In) yang jatuh cinta juga pada Hong Joo. Di sini bagai sebuah perumpamaan bagaimana dalam hidup ini kadang kita diberi dua pilihan oleh Tuhan; memilih dengan orang yang kita sukai atau yang menyukai kita?


Yang kita suka...

Yang suka sama kita...

Nah, gue pun membuka polling di Instagram lalu menemukan...


Ternyata 65% dari followers gue lebih memilih untuk bersama orang yang suka sama mereka dibanding sama yang mereka suka. Setelah ditelusuri, katanya sih emang lebih enak sama yang suka sama kita karena kita akan diperjuangin. Kalo suka sama kita, kita akan dijamin kebahagiaannya. Tapi, kan meh banget nih kalo kita diperjuangin ketika kita sendiri ngga sreg sama dia..

Jadi gue pun lihat reaksi teman teman lain lewat instagram message dan menemukan...


Jadi guys, pacar yang pas itu kayak gimana?!


"Punya pacar harus lebih baik.
Punya pacar harus lebih keren.
Tapi keren nggak cukup.
Yang paling penting kita harus bahagia."


Mengacu dari lagu Yura Yunita di atas, menurut gue punya pacar itu harus yang bisa bikin kita bahagia. Akan sangat menyenangkan jika kedua belah pihak benar benar saling suka di awal hubungan. Rasanya pasti seperti mimpi jadi nyata ketika orang yang kita suka itu bisa jadi pacar kita. Tapi bukan hal yang buruk juga, malah cenderung menyenangkan ketika diperjuangkan banget oleh orang yang suka sama kita. 

Jadi siapapun pilihan lo, punya pacar itu harus yang membawa bahagia! Lagi stress, tetep bisa dibikin bahagia. Lagi pengen nangis gara gara tugas, tetep bisa dibikin bahagia. Lagi pengen ketawa, jelas bisa bahagia sama dia. Pokoknya orang yang bisa membawa bahagia kepada kamu dan dia juga bisa merasa bahagia.

Jangan pacaran ketika kamu merasa terpaksa, ketika dia terlihat tersiksa atau ketika dua duanya hanya coba coba. Carilah orang yang pas di hati, pas di logika. Orang yang tepat adalah orang yang tidak membawa "pertanyaan" lain saat kamu menerima dia. Pertanyaan seperti "kalo gue sama dia gimana masa depannya ya?" "kita beda agama, terus gimana?" "gue harus gimana ya sama temen temennya?"

Carilah orang yang membuat kamu bahagia, okay?

"Kalo elo sendiri udah ketemu belum?"

Belum, tunggu ya. Hal baik itu ngga perlu diburu - buru kok. Pasti ada waktunya;)

"Think I'm all grown up now,
I'm free to make my own choices, but why
Why can't I have it my way?
The more I try to push you away,
The more I'm drawn and attracted to you Baby."

- TT, TWICE


Dahyun Twice

***

Ketika patah hati, kita tidak sadar bahwa kita melewati 3 fase ini; penyangkalan, penyadaran dan penerimaan. Seringkali ketika kita sudah patah hati dan tahu bahwa kita dikecewakan, kita tetap saja melakukan penyangkalan. Seperti misalnya pembelaan pada orang yang nyakitin kita atau bahkan nyalahin diri sendiri karena kegagalan hubungan saat itu. Tapi pada dasarnya semua hal yang terjadi di fase penyangkalan akan seperti lirik lagu Twice yang diatas, "gue tuh harusnya bisa nentuin apa yang gue mau, tapi kok gue selalu pengen balik ke elo sih?"

Menurut gue membereskan hati tidak akan pernah mudah kalau elo sendiri belum selesai di fase penyangkalan. Mungkin lo sudah sangat kecewa dan ingin mendorong orang tersebut dari lantai 5 (oke ini ekstrim), tapi hati lo yang masih ngga terima dan sayang sama orang itu akan selalu membawa lo kembali lagi ke titik nol.

Nggak ada gunanya kita baca quotes penyemangat 700 kali dalam sehari untuk move on kalo kita selalu melakukan penyangkalan atas apa yang terjadi; dia selingkuh, dia selalu nuntut lebih, dia ngga hargain kamu, dia selalu bandingin sama orang lain. Semuanya disangkal, dibela dan akhirnya hati kamu ngga sembuh sembuh.

Kalo dilihat dari pengalaman pribadi, gue melewati fase penyangkalan jauh lebih lama daripada manusia normal. Kan orang kalo udah disakitin harusnya sadar ye, bentarlah sebulan dua bulan gitu nyangkalnya. Ini gue hampir 7 bulan kali ada. Lalu ketika gue sadar bahwa dunia itu masih berputar pada porosnya bukan pada si doi yang nyakitin, akhirnya gue masuk ke fase penyadaran. Walau dalam fase ini gue dalam keadaan hancur (marah marah, galau mulu, nangis mulu) pada akhirnya gue sampai ke tahap penerimaan kok. Yah, butuh waktu cukup lama sih. Tapi di fase penyadaran itu rasa sayang sudah menghilang seiring dengan hati yang memanas karena perasaan kecewa.

And here I am, dalam fase penerimaan dan hidup bahagia.



Jadi menurut gue, jika lo merasa hati lo susah untuk disembuhkan, maka belajarlah untuk berhenti melakukan penyangkalan. Fakta, coy. Fakta. Jangan berharap hidup lo itu kayak Drama Korea yang penuh probabilitas. Mungkin dia cuman main main, mungkin dia nanti berubah.. Ngga usah melakukan penyangkalan. Pakai fakta. Kalo dia sayang sama lo, kalo dia memang ditakdirkan untuk lo, dia akan kembali juga pada lo.

Jangan terlalu sayang atau terlalu memperjuangkan. Karena semua yang berlebihan tidak akan mendatangkan hal baik, melainkan hanya akan membuang waktu kamu pada akhirnya.

Cheers! Happy move on day, girls!
Beberapa bulan belakangan ini gue sudah melihat banyak orang yang lalu lalang stress karena menyusun skripsi, magang beserta detik detik menjelang sidang. Di tahun keempat rasanya semua lebih berat dari yang kemarin kemarin. Ada banyak tuntutan yang berkecamuk di kepala selagi menyusun tugas akhir; habis ini kerja di mana? Ada prospek nggak ya buat jadi karyawan tetap di tempat magang sekarang? Apa gue ambil master (S2) aja? Ini gue kuliah sambil kerja, pengen cepet kelar deh mau kerja aja gak mau ribet sama ginian lagi...



Gue rasa setiap orang pasti berusaha menentukan jalan terbaik setelah resmi sarjana. Ada teman gue, Kak Olga Agata yang dari saat kuliah sudah bekerja. Setelah lulus S1, dia tetap kerja sambil ambil S2. Teman gue yang lain, ada yang setelah lulus lagi coba coba lamar di beberapa perusahaan karena tempat magang dia kemarin ngga memenuhi prospek. Teman gue yang lainnya ada yang sudah di lamar saat skripsi, jadi setelah sidang berakhir dan sudah diresmikan wisuda, dia akan menikah dengan pasangannya. Teman gue yang di atas, Mayke Angelica, lulusan International Relations dari satu setengah tahun yang lalu sudah bekerja di Media Center kampus gue. Jadi saat lulus, ngga terlalu banyak yang berubah. Cuman statusnya pekerja yang sudah sarjana, bukan lagi pekerja yang masih mahasiswa.

Lalu gue? Elo? Apa yang akan terjadi setelah kita resmi sarjana?

Gue memutuskan untuk menikmati hidup terakhir gue berkuliah normal, jadi anak yang bernapas sangat banyak dari kiriman Nyokap dan work hard - play hard di tahun ketiga gue. Sebelum di tahun ke empat gue harus pusing skripsi - magang - akselerasi S2, gue pengen nikmatin apa yang belum gue capai di tahun pertama dan kedua.

Gue terlalu sering hidup in a rush. You know what I mean? Lihat orang punya apa, gue juga harus punya. Lihat orang sudah sampai mana, gue akan kejar biar gue juga bisa di sana. Hidup gue asyik dan seru karena penuh target. Tapi kadang, gue lupa apa yang sebenarnya buat gue merasa satisfied?

Hingga akhirnya keputusan gue adalah tahun ini merupakan tahun terakhir gue main sambil mencoba cari jati diri gue; sebenarnya gue mau ngapain habis sarjana? Gue mau kerja di media kah? Atau mau ke penerbitan, jadi editor buku dan nulis buku juga? Atau gue mau ke promotor karena gue suka banget rasa hectic mau matinya bikin event?

Atau apa?

I'm trying to figure it out.

Tapi yang jelas, setelah tahun ketiga ini lewat, gue akan hidup di another level of adult life; cari kerjaan, desperate dimaki bos, project yang panjang.. Gue harus menata diri gue, keinginan gue dan impian gue sebelum nantinya akan menjalani itu.

Walau ada beberapa teman gue yang sudah memulai merintis karir dari sekarang, mulai dari jadi volunteer sampai cari kerja beneran.. Kalo diperspektif gue, gue pengen apa yang gue lakuin satu tahun ke depan itu enggak useless, bisa jadi bahan buat latihan sebelum ketemu dunia baru, tapi gue masih bisa nikmatin itu. Jadi gue milih sebagai mahasiswa biasa, belajar, ambis, di UKM dan juga main sama temen temen. Dan temen gue yang lain ada yang udah ambis kerja.

Ngga ada yang salah. Semua orang punya pilihan masing - masing kan?

Well, inginnya setelah sarjana nanti gue bisa mendapat pekerjaan yang di luar lingkungan LSPR. Ketemu orang baru dan belajar hal hal baru. Melakukan yang gue suka dan mengerjakan apa yang membuat gue tertantang. Sembari menata hidup dan kalo sudah waktunya, nanti ketemu orang baik yang mau nemenin gue dan mau ditemenin gue;)

Don't do anything in a rush, babe. Good things take times;)

Kemarin malam sebelum gue tidur, gue membuat sebuat instagram polling dengan pertanyaan dan hasil seperti ini :



Mantap ngga tuh sistur brotherrr? *berguling*

Anyway, ekspektasi gue adalah followers akan memilih Social Media sebagai toxic mereka. Tapi ternyata kamu kamu orang terlalu kaum millenials yah, gengs. Jadi kalian lebih ngerasa manusia in person yang menjadi toxic di hidup kamu dibanding orang orang jahat yang bikin insecure di social media:"}

Okay, karena issue ini sangat menarik dan gue baru saja menyelesaikannya beberapa bulan yang lalu, jadi gue akan memberikan tips & trick ala Alice in Tipluk's World untuk kamu yang ingin membuang racun dalam hidup kamu a.k.a manusia dengan aura aura negatif!

***

1. Hadapi lalu Hapus

Kalo orang yang menjadi toxic dalam hidup lo itu adalah teman sendiri, coba hadapi dan luruskan masalahnya. Kalo dia udah ngga ketolong dan ngga bisa diperbaiki lagi baik sikap maupun sifatnya, serta membuat lo ngga nyaman, langsung cut the line saja, guys. Kalo gue sih tipikal yang "tegur" lalu diemin dan anggap dia angin lalu. Hapus semua akses untuk dia masuk ke kehidupan lo dan buka hari baru dengan teman teman lo.

Dalam kasus gue kemarin, toxic gue satu ini udah unfollow gue duluan. Kayanya ngga tahan gitu ngerasa salah dan isi postingan gue tuh yang quotes ala ala untuk mencerahkan hidup macam "janganlah kamu hidup dalam kebohongan, nanti bohong itu balik ke kamu" atau lagu Taylor Swift yang judulnya "This Is Why We Can't Have Nice Things" gitu. Jadi gue tertolong karena racun itu pergi sendiri, terima kasih sudah sadar diri.

Akan sangat sulit kalau toxic kamu once in a while adalah teman dekat kamu. SUSAH UNTUK BEDAIN DIA TOXIC ATAU MANUSIA NORMAL. Tapi manusia normal ngga akan menyakiti atau bikin kamu jadi buta akan hal hal benar. Camkan itu sister!

2. Jangan ditanggepin serius

Tahun lalu gue berurusan sama orang orang yang kerjanya "talk behind" macam habis ngomongin gue langsung dapet gaji gitu, ye. Untungnya hidup gue sampe sekarang lurus lurus aja, kagak ada keinginan lagi ingin tau hidup orang "untuk disebarkan ke orang lain." Nah tuh, kalo di lingkungan kamu banyak orang muka dua macam gini, belajar untuk jadi dewasa ya! Dengarkan apa yang mereka omongin untuk introspeksi diri, bukan untuk jadi pedoman hidup. Lalu jangan dibales dengan minyak tanah juga, sister. Biasanya orang macam gini dari api kecil, ngebul ngebul asap gitu, terus bisa jadi kebakaran hutan kalo kitanya ngga pinter nyikapi.

Pokoknya jangan malah bales nyindir, nyinyir atau ngomongin kejelekan dia ke orang lain. Stay neutral and enjoy your life;)

3. Let it be your blessings

Mungkin kedengarannya munafik, tapi daripada sibuk mengutuk mereka dengan curse words, mending disyukuri aja "pernah" dihampiri toxic macam begitu. Jangan nambah dosa kamu dengan hal hal ngga worth it kayak gini. You're life is much bigger than that!

4. Kalo dimanfaatin, manfaatin balik.

Gue sebel kalo ada orang yang bilang "ah temen tapi kalo dateng pas butuhnya doang." LAH NAMANYA HIDUP KALO DATENG YA LAGI BUTUH! Bersyukur aja lu masih diinget temen pas dia butuh, berarti lu berguna di hidup orang. Biar ngga rugi, manfaatin balik lah! Jadi dia ngga keenakan dan ngga lama lama jadi "parasit" di hidup lu. Itu gunanya belajar Marketing, cuy. Cari profit. Cari profit. Cari profit! WKWKWK ngga deng. Hal macam gini bisa membantu orang tersebut sadar kalo dirinya itu mulai jadi parasit yang nyusahin;)

5. JANGAN ANTI SOSIAL!

Supaya kamu bisa bedakan di hidup bahwa dia toxic atau bukan, dia harus dibasmi atau bukan.. Kamu harus ketemu banyak orang. Jangan cuman temenan sama beberapa orang aja. Coba perluas pergaulan kamu. Masih banyak kok orang baik;)

***

Berikut merupakan beberapa tips yang ampuh dan sudah terbukti berhasil dalam hidup gue. Semoga bermanfaat dan bisa membantu kamu untuk memilih yang mana teman yang baik dan hanya sebagai toxic. Cheer up baby cheer up baby, hidup cuman sekali! Nikmatin yaaa!



Gue nggak ngerti kenapa promotor / akun konser seneng banget bikin gue lemes pas lagi waktu waktunya kerja?

Jadi kemarin malam gue lagi di acara Student League (BEM Kampus) bersama temen temen kabinet gue. Gue baru buka handphone di penutupan acaranya. Selama acara semua aman.. Tenang.. Terkendali.. Tidak ada dugun dugun (degdegan) lagi karena beberapa hari sebelumnya ada kabar seperti ini di Instagram..



Seperti yang sudah gue ceritakan di beberapa postingan sebelumnya kalo girlband yang pengen banget gue tonton konsernya adalah Blackpink. Pilihan kedua Girls Generation dan terakhir Twice. Tapi karena GG / SNSD tinggal berlima membernya, jadi menurut gue kecil kemungkinannya mereka balik ke Indonesia dalam waktu dekat. Sementara Twice baru gue suka ketika mereka sudah meninggalkan Indonesia. Masih lama dong yaa dia dateng lagi:"]

Desas desus Blackpink mau konser di Indonesia sudah muncul dari Juli lalu. Ketika Shopee dan YG Entertaiment bekerjasama untuk membawa Lisa Blackpink dalam acara peresmian offlicial online shop milik agensi tersebut. Jangan salah sister, gue pun sudah ikut war bersama Blink yang lainnya. Tapi naas, gue tidak diperbolehkan ketemu Lisa.

Gue pun galau milih fanmeeting Jongsuk atau tunggu konser BP. Eh ternyata fanmeet si Oppa keluar duluan dan gue udah war nih untuk beli. Tiba tiba... Ada kabar mereka mau dateng November juga! Which is di bulan yang sama dengan Oppa! NANGIS NGGA SIH GUEEEEE:{

Gue pun mencoba positive thinking karena Blackpink In Your Area Concert di Seoul itu baru diadakan tanggal 10 - 11 November 2018. Terlebih, mereka berempat lagi pada sibuk dengan variety show dan schedule pribadi. Pokoknya gue tenang lah kayak.. Engga deh, ngga bakal sekarang!

DITAMBAH.. Akun JakartaKonser di Instagram bikin pengumuman konser BP di bulan Januari / Februari 2019. Udah tuh, gue langsung ambis aja mau nabung buat beli lightstick. Cuy, once in a lifetime! Kapan lagi jadi fangirl! Mumpung masih 20 tahun!

EH TIBA TIBA KEMARIN SORE GRUP BLINK GUE RAME BETUUUL..



GUE LANGSUNG NANGIS.

Di fanmeeting Lisa kemarin, itu bener bener definis war2018 banget sih. Jadi kayak dulu duluan beli barang dari YG Ent Shop di Shopee terus dapet kesempatan buat ketemu Lisa. Nah kalo captionnya begitu lagi, otomatis gue harus war bersama teman teman Blink lainnya. Gue pengen nangis dah kenapa di November gitu:"}

Gue yang seminggu bisa makan diluar 3 - 4 kali, sekarang cuman 1 kali. Bener bener puasa jalan, deh! Kalo bisa masak di rumah aja udah deh kagak usah keluar keluar.. Bener bener jadi fangirl penuh perjuangan!

Tapi gue takut gue dibohongi oleh hoax kan, jadi gue tanya dong ke akun Shopee Indonesia.. Tapi malah di kasih love doang:"} Sama disuruh follow aja buat update informasi terbarunya:"} GUE KAN MAKIN PANIKKK!

Sekarang gue bingung.. Gue kan emang mau beli lightstick juga, ya. Jadi kalo ikutan event yang ini sih sebenernya gapapa karena sekalian beli kan. Tapi kalo misalnya ngga dapet terus tahun depan Blackpink ngga kesini gimana? 

Aduh, sumpah ini lebih galau daripada nentuin judul karya ilmiah gue!!

Di mulai dari re-watching Another Miss Oh / Oh Hae Young Again di bulan Maret sebelum berangkat ke Korea, gue jadi ketagihan nonton lagi. Entah kenapa Drama Korea itu benar benar obat yang manjur untuk kamu yang lagi punya "penyakit hati." Eits, penyakit hati itu banyak pemirsa. Bukan cuman perkara patah hati habis putus atau ditinggal gebetan saja. Tapi kalau habis kecewa, lagi minder sama diri sendiri atau lupa caranya bahagia. #iniserius

Dari Oh Hae Young Again, gue jadi terbiasa HARUS nonton drama setiap minggunya. Entah lagi on going, udah lama nunggu atau re-watching aja. Kayak sekarang nih, gue nonton Goblin ke 100 kalinya setelah nemuin cuplikan Lee Dong Wook nari TT - Twice di salah satu fan meetingnya. Bisa lebih implusif ngga sih hidup gue?


Tapi lucunya, yang namanya Rizki Rahmadania Putri ini selalu ganti ganti tokoh favorit setiap kali nonton drama yang dia ulang. Layaknya membaca skenario hidup seseorang, semakin sering gue nonton, semakin gue paham kehidupan dia. Bisa jadi akhirnya gue malah berubah pikiran; di kali pertama gue suka banget sama Ji Eun Tak - Kim Shin (Goblin), tapi kali ini gue lebih nunggu nunggu cerita second lead nya yaitu Kim Sun - Wang Yeo. 

Kalo udah nonton drakor bahaya banget deh. Gue sampe ngga sadar dari bangun tidur sampai jam 3 sore cuman duduk di depan laptop sambil makan, dumel, makan, dumel, baper. Gituuu terus. Eh, nanti running late buat rapat lah, siaran lah, ketemu temen lah. Saking gilanya, sempet gue di semester 4 harus belajar buat ujian itu sambil nonton drama. Ngga jelas! Hidup gue terlalu attached sama drama!

Alhasil sekarang gue mulai merasa... Drama Korea bukan lagi sekedar obat penceria hidup gue. Sekarang dia kayak racun, yang kalo kebanyakan gue minum bisa membunuh gue dan semua kewajiban gue yang gue kesampingkan. Jadi untuk menyelamatkan hidup, gue cuman memperbolehkan paling banyak 2 episode dalam sehari. Sekedar untuk kabur dari rutinitas dan beristirahat, bukan untuk jadi "kegiatan utama" lagi.

Nah, gue penasaran nih. Menurut lo drama Korea itu obat atau racun? Tinggalin jawaban lo di kolom komentar yuk!