SPEAK NOW chapter 10

Heyya! Alhamdulilah sampai ke chapter 10 juga. Sesuai rencana, masih ada 16 chapter lagi nih-__- Banyak yang bertanya tanya, siapa yang akhirnya sama Alice? Apakah Jasper atau Seth? #eh Okey back to Speak Now. For more information, keep read and wait until chapter 26 ya! Enjoy it ;)

***



LOGAN LERMAN’S POV

Jam tanganku menunjukan pukul 11.00 ketika terdengar pengumuman akan ada free class selama 1 jam karena ada rapat guru. Aku melirik sahabat karibku, seseorang yang sangat menyukai Taylor Swift lalu mengangguk ketika Ia memintaku untuk menemui Taylor. Wajahnya gembira sekali ketika aku bilang bahwa Taylor malam ini akan datang ke café dimana ia biasanya bernyanyi.

Tidak terlalu sulit untuk menemukan letak kelas 7D. Kelas itu ada dibarisan keempat dikoridor kelas 7. Aku mengentuk pintu kelas itu lalu menunggu sampai ada yang membukanya. Tiba-tiba seorang cowok tinggi berkulit cokelat keluar setengah dari pintu lalu berdehem.

“Cari siapa ya?” Tanyanya ramah.
“Aku mau bertemu Taylor.” Jawabku pelan. Ia tersenyum lebar.
“Kau mau menemuiku?” Tanyanya dengan nada heran.
“Bukan. Aku mau menemui Taylor Swift –Taylor Alison Swift.” Kataku sambil mencoba mengingat ingat nama lengkap Taylor. Wajah cowok itu terlihat kecewa lalu membuka pintu kelasnya lebih lebar.
“Oh, I see. Aliceeeeeee ada yang mencarimu!” Seru cowok itu sambil berlari ke kerumunan murid murid dibelakang. Wait, apa yang dia katakan? Alice?

“Hey, aku mencari Taylor bukan Alice!” Seruku ketika Taylor berdiri dihadapanku.
“Aku Alice, Logan.” Kata Taylor sambil tertawa. “Masuklah, jangan berdiri didepan pintu seperti itu. Nanti Miss Alix marah lho kalo ngeliat murid kelas 8 main disini.” Sambung Taylor sambil menarik tanganku. Ia mengajakku duduk dibangku paling depan.

“Kenapa kau dipanggil.. Alice?” Tanyaku heran.
“Karena ada cowok itu.” Kata Taylor sambil menunjuk cowok yang tadi membukakan pintu untukku. Aku melihat mata Taylor, pandangannya pada cowok itu berbeda. Jangan-jangan cowok itu yang selama ini dia sukai.

“Cowok itu orang yang tadi pagi kau ceritakan ya, Al?” Tanyaku pelan.
“Iya, Gan… Taylor Daniel Lautner.” Jawabnya sambil menunduk sedih.
“Alice jangan sedih. Masa gara-gara cowok sedih sih. Bukan Taylor Swift banget.” Kataku sambil merangkulnya. Kurasakan murid murid 7D mulai memerhatikan kami berdua. Banyak yang berbisik tetapi bisikannya terlalu keras untuk disebut berbisik.
“Hahaha aku tidak akan bersedih. Dia juga tidak tau aku menyukainya. Jadi apa gunanya bersedih untuk sesuatu yang sia sia?” Tanya Alice sambil tertawa.
Good girl.” Kataku sambil membalas tawanya.
“Panggil aku Alice, ya. Semua orang di PELHA juga memanggilku Alice atau Swift. No Taylor again here.” Pintanya dengan nada ditekan diakhir kalimat.
Okey, I’ll try to call you Alice.” Sahutku sambil tersenyum jail.
Well, for a while, aku berfikir untuk tidak datang ke café Hampavala. Tapi melihat Daniel tadi bermain bersama Selena dengan… mesra, aku mengurungkan niatku. Aku langsung mengirim SMS pada Yana, memintanya mengantarkanku ke café nanti malam.”

“Tidak, Al. Aku akan mengantarmu, sungguh.”
“Asyik, jemput aku pukul enam sore.”
“Kita janjian jam 19.30, Al. Jika datang jam segitu, kau sudah bosen duluan menunggu cowok itu.” Kataku sambil mengetik SMS. Alice mengangguk.
“Emang cowok itu aku kenal tidak sih, Gan?” Tanya Alice pelan.
“Eum.. Iya.” Jawabku pelan.
“Tapi, Gan.. Aku hanya ingin mengenal dia dulu, ya. Aku belum bisa benar benar berpaling dari Daniel. Apalagi sebentar lagi dia ulang tahun…”
“Kapan ulang tahunnya? Pasti kau sudah membuat lagu untuknya.”
“26 Mei.” Ujar Alice sambil tertawa.
“Sekarang bulan apa?” Tanyaku heran.
“Akhir Desember.” Jawab Alice sambil cengengesan.
“Alice! Itu masih 5 bulan lagi. Ya Tuhan.”
“Hahahaha, iya aku tau. Tapi aku masih mau single sampai hari ulang tahunnya. Aku masih berharap dia akan menyadari bahwa aku menyukainya lewat laguku itu. Aku harap dia juga masih single sampai ulang tahunnya. Aku harap dia akan membalas perasaanku.”
“Boleh berharap, tapi kau harus juga membuka untuk yang lain. Kau harus move on.”
“Itu pasti, Logan. Tapi aku tidak bisa membuang Daniel begitu saja. Aku akan membuka untuk semua cowok, termasuk untuk cowok yang nanti malam aku temui..”
“Dia sangat baik, sungguh. Kau mungkin bisa menyuruhnya menunggu sampai kau siap menjadi kekasihnya –jika kau mau serius dengannya.”
“Sungguh?” Tanya Alice tak percaya.
“Demi Tuhan.” Jawabku dengan muka serius.
“Untung café Hampavala tidak jauh dari rumah. Mom tidak akan marah kalau aku pergi.. Eh iya, apa kabar Cody?” Tanya Alice sambil mengikat rambut ikalnya. Aku tersentak.

“Cody? Cody Simpson maksudmu?” Tanyaku dengan gugup.
“Iya. Cowok itu, sahabatmu itu lho. Apa kabar dia? Sekolah disini juga, kan?”
“Baik, Al. Iya, dia sekolah disini.” Jawabku seadanya.
“Dia kenal dengan cowok itu tidak?” Tanya Alice penasaran.
“Eum, iya.. Al, aku harus kembali kekelas. Aku jemput jam setengah tujuh malam ya. Telfon aku setelah pulang sekolah, okey? A.S.A.P! Bye, Al.” Kataku sambil mengusap kepalanya lalu keluar dari kelas Alice secepat kilat. Aku bersandar ditembok depan kelas Alice lalu menghela nafas. Alice masih ingat pada Cody?

“Alice!!!!!!!!!!!!!!!! Logan Lerman itu pacarmu?” Tanya seseorang. Suara dari dalam terdengar berisik, banyak yang menyebutkan namaku. Rupanya benar dugaanku, mereka semuanya penasaran kenapa tiba-tiba aku dekat dengan Alice.
“Hey, Alison Swift. Cowok itu pacarmu, huh?” Tanya seorang cowok. Suaranya seperti aku kenal… Taylor Lautner ! Seisi kelas tiba-tiba hening. Aku mengintip dari kaca, melihat bagaimana ekspresi Alice. Ia melihat Taylor dengan mata sinis lalu berdiri menghadap cowok itu.

“Kalau pacarku memangnya apa urusanmu?” Tanya Alice sambil berjalan menuju bangku paling belakang. Taylor terlihat kaget. Masa sih Taylor tidak merasa kalau Alice menyukainya? Cowok itu menoleh kearah Alice lalu keluar dari kelas dengan wajah merah.


To Be Continued....

Tidak ada komentar:

Leave me some comment! Thank you, guys:}

Diberdayakan oleh Blogger.