SPEAK NOW chapter 12

Sebenernya gue udah ngepost chapter 10 & 11 tapi karena Okky penasaran gimana kelanjutannya, gue kasih nih chapter 12nya! Harusnya sih ini untuk minggu depan, tapi enggakpapa deh:p Semoga pada suka dan tetep ngebaca sampai akhir cerita Speak Now ini. Terima kasih untuk setia membaca Speak Now! I love yoooh! ;)



TAYLOR ALISON SWIFT’S POV



            Pandanganku langsung tertuju ke arah panggung ketika seorang cowok berambut pirang, tinggi, dengan gitarnya menyanyi sebuah lagu. Lagunya sangat bagus sekali, artinya dalam. Suaranya bagus banget, aku saja kalah.



            Give me the chance to love you

            I’ll tell you the only reason why

            Cause you are on my mind

            I want to know you feel it

            What do you see when you close your eyes

            Cause you are on my mind



            Aku benar benar menikmati cowok itu menyanyi sampai-sampai tidak terasa lagunya sudah berakhir. Aku ingin berjalan kepanggung sana dan menyanyikan sesuatu seperti cowok itu. Mungkin kalau bisa jadi penyanyi disini setiap malam minggu, aku bisa ketemu cowok cowok ganteng. Aku bisa ajak Edward, dia pasti seneng disini. Bakal banyak cewek yang memerhatikannya. Lamunanku buyar ketika cowok itu tiba tiba melepas kaca matanya. Ya Tuhan! Aku seperti mengenalinya. Dia itu….



            “Lagu ini aku tulis khusus untuk gadis yang ada disana. Aku sudah memerhatikanmu sejak 2 tahun yang lalu. Give me the chance to love you, Taylor Swift…” Katanya sambil menunjuk kearahku. Semua mata diruangan lantai 2 café Hampavala menatapku lalu bertepuk tangan. Ya Tuhan.. Cowok itu…. Cody.. Cody Simpson yang selama ini menyukaiku?



            “Jadi… Sahabatmu.. Cowok yang selama ini kau bilang memerhatikanku adalah… Cody Simpson?!” Tanyaku tak percaya. Logan hanya mengangguk lalu mengacungkan jempol pada Cody. Cody berjalan menuju meja kami lalu berdiri menghadapku.



            “Taylor, ini aku Cody Simpson. Apa kabar, cantik?” Tanya Cody ramah. Aku mengangguk. Cody sedikit berbeda, tapi masih ganteng seperti dulu sih.

            “Baik..” Jawabku pelan. Aku masih shock, masa sih seorang Cody Simpson yang menyukaiku? Ini seperti mimpi!

            “Ayo duduk, Dy!” Seru Logan sambil tersenyum. Cody duduk ditengah tengah kami lalu ia menatapku.

            “Cody, yang tadi kau katakan dipanggung.. Itu semua bohong kan?” Tanyaku terbata bata. Aku benar benar kaget. Serius.

            “Demi Tuhan itu serius.” Kata Cody sambil tertawa. Logan tiba tiba berdiri lalu berjalan menjauhi kami.

            “Logaaan, mau kemana?” Tanyaku panik.

            “Toilet, Ali.” Jawabnya singkat lalu berlari menuju toilet. Yeah great, sekarang tinggal aku dan Cody. Aku merasa gugup, serius. Dulu aku sempat menyukai Cody, tapi karena Ia menyukai Ashley, jadi aku berhenti menyukainya. Lalu aku masuk SMP dan bertemu Daniel. Okey, kenapa harus ada Daniel dikepalaku disaat seperti ini?!



            “Well, kamu single?” Tanya Cody memecahkan keheningan.

            “Yeah, bisa dibilang begitu.” Kataku sambil tertawa.

            “Bukannya kamu pacaran sama Taylor Lautner?” Tanya Cody heran.

            “Maunya sih begitu.” Kataku malu-malu.

            “Aku memerhatikanmu semenjak SD, Tay.” Katanya dengan tatapan serius.

            “Ya, aku tau.” Kataku pelan. Lho, Tay, kenapa kau bilang begitu?!

            “Bolehkah aku jadi teman dekatmu?” Tanya Cody pelan.

            “Boleh, tentu saja.”

            “Kau terlihat gugup.”

            “Sangat gugup. Sudah lama tidak bicara denganmu, tiba-tiba dinyanyikan lagu itu, kau bilang kau sudah lama memerhatikanku. Aku jadi kaget dan bingung dalam waktu yang bersamaan. Semuanya begitu cepat, aku shock.” Kataku sambil tertawa.

            “Tenang saja, aku bersedia menunggu lama untukmu.”

            “Sungguh? Aku akan menunggu Taylor sampai ulang tahunnya.”

            “Aku akan menunggumu sampai Tuhan bilang aku harus berhenti.”

            “Tapi aku akan serius sekali dalam pelajaran.”

            “Tidak masalah.”

            “Aku tidak ada waktu untuk pergi seperti ini.”

            “Tidak masalah.”

            “Aku tidak bisa menemanimu setiap saat.”

            “Tidak apa-apa.” Jawab Cody yakin. Sial, benar kata Logan. Cowok ini baik sekali, kelewat baik malahan.



            “Dan aku belum bisa melupakan Taylor Lautner.”

            “Aku bisa membuatmu melupakannya.”

            “Bagaimana caranya?”

            “Banyak hal yang akan aku lakukan untukmu, Tay. Pada akhirnya, setelah semua usaha yang kukerahkan untuk mendapatkanmu, aku akan mendapatkan hasil. Mungkin saja kau bisa menjadi milikku atau aku menemukan orang lain dan kau bersama Taylor…” Jelas Cody sambil tertawa. Demi Tuhan cowok ini kelewatan baiknya!



            “Kita berteman dulu, bagaimana? Mom mengizinkanku punya pacar kelas 8.”

            “Baik. Kita lihat saja, apakah kita cocok atau tidak.”

            “Aku tidak suka cowok yang posesif. Menyebalkan.”

            “Begitupun denganku.”

            “Aku ingin move on dari Daniel tapi….. Aku masih sayang Daniel. Dan mungkin selamanya begitu.”

            “Aku tau, tidak mudah menghapus orang yang kamu suka dari hatimu. Just try, Tay. Masalah berhasil atau tidak, itu masalah belakangan. Just try to move to someone.”

            Help me, Dy. I can’t do it alone. I need someone to make me forgot him.”

            I’m here for you, Tay”

            “Aku mau fokus belajar.”

            “Aku juga.”

            “Kenapa sih kau menyukaiku?” Tanyaku penasaran. Segala macam alasan yang kubuat untuk dia menjauhiku dan dia menerimanya. Dia tidak perduli sedikit apapun waktu yang kupunya untuk bersama dia. Sialan, baik sekali!



            “Karena kamu adalah kamu.” Jawabnya pelan. “Aku tau kamu masih punya rasa sama Taylor Lautner, dan menghilangkan perasaan terhadap seseorang itu enggak segampang menghilangkan barang. Dan aku akan menunggu sampai kamu berpaling padaku.”

            “Kata katanya dalem.” Ujarku pelan. Cody tertawa.

            “Okey, give me the chance to love you, ya Tay..” Pintanya sambil menatap mataku. Matanya bagus sekali. Sial, cowok ini ganteng, prestasinya banyak, suka musik, baik hati dan menyukaiku. Kenapa sih Daniel itu bukan Cody?



            Aku menghela nafas berkali kali. Aku tidak boleh member harapan palsu seperti apa yang Daniel lakukan padaku. Cody sangat baik sekali, demi Tuhan baiknya sudah kelewatan. Ia juga bersedia menungguku sampai aku melupakan Daniel. Ia juga tidak mempermasalahkan berapa banyak waktu yang bisa aku habiskan bersamanya. Ini kesempatanku untuk move on dari Daniel…



            I’ll try, Cody.” Jawabku sambil tersenyum padanya.



To Be Continued....


Artikel lainnya:

Tidak ada komentar:

Leave me some comment! Thank you, guys:}