SPEAK NOW chapter 13

Ada yang pernah nanya sama gue "Kak Tipluk kok rajin sih nulis Speak Now panjang panjang sekarang?" Okeh! Gue kasih jawabannya nih! "Karena Seth ganteng." 
Ehem, let's reaaad!
_________________________________________________________________________________



TAYLOR DANIEL LAUTNER’S POV

          “Sel, kita mau kemana lagi sih?” Tanyaku sambil mengikuti langkah kaki Selena. Ia berlari memasuki Dairy Queen lalu duduk di salah satu meja. Aku berdiri terengah engah didepan meja itu lalu mencoba tersenyum. Sekarang sudah minggu terakhir liburan dan aku berjanji pada Selena untuk menghabiskan sisa liburan kami berdua. Saling ngobrol dan curhat. Tapi.. Kok lama lama bosen ya bersama Selena terus?

          “Tayyy ayo duduk!” Seru Selena sambil menarik tanganku. Aku duduk lalu mengeluarkan iPhone-ku. Kutatap lekat lekat wallpaper handphone-ku itu. Foto bersama Alice. Aku..
          “Hayooo kangen sama Ali ya?” Goda Selena setelah melirik handphone-ku. Aku tersenyum malu-malu.
          “Eum, sepertinya.” Jawabku terkekeh. Selena tertawa.
          “Tay, kau menyukainya! Masa tidak sadar?” Tanya Selena sambil tertawa. Apa? Menyukai… Alice? Maksudnya? Aku.. Menyukai Alice?
          “Aku? Menyukainya? Masa sih? Tidak ah, Sel…” Kataku sambil melambai memanggil pelayan. Pelayan datang dengan membawa menu lalu kami berdua menunjuk pesanan kami dan pelayan itu kembali ke dapur Dairy Queen.
          “Wait,  kita sampai mana tadi, Tay?” Tanya Selena bingung.
          “Sampai kau bilang aku menyukai si Swift.” Kataku dengan ragu ragu. Selena menatapku lalu tersenyum licik.
          “Jadi.. Kau menyukai Alice?” Tanya Selena dengan tatapan licik. Aku menggeleng.
          “Tidak… tau.” Kataku sambil mengunci iPhone-ku.
          “Bukan ‘tidak suka’ tapi ‘tidak tau’ ya, Tay? Hm… KAU SUKA PADANYA!” Seru Selena sambil tertawa lepas. Orang orang melihat Selena lalu tersenyum mengejek.
          “Sel, please, berhenti mempermalukanku.” Kataku setengah berbisik. Aku ingat hari pertama aku jalan dengannya di liburan kali ini, sikapnya benar benar berlebihan. Centilnya keterlaluan. Aku jadi tidak nyaman lagi jalan sama Selena.

          “Ups, I’m sorry, TayLaut.” Kata Selena sambil nyengir. “Tapi, menurutku, kau suka padanya, Tay. Kau sering sekali membicarakan Alice. Dan aku sering melihatmu memerhatikannya. Kenapa sih tidak kau tembak saja dia?” Tanya Selena heran.
          “Omonganmu ngaco. Mau di aku taro dimana mukaku jika ia menolakku?” Tanyaku dengan nada menantang. Ups, Tay, apa yang kau lakukan. Dengan bicara seperti itu kau…
          “TAAAAAAAAAAAAY! Akhirnya kau jatuh cinta juga pada seorang wanita!” Seru Selena heboh. Oh my God, please deh Sel.
          “Aku masih normal, Selly.” Kataku sambil memanggil Selena dengan nama kecilnya.
          “Maaf lagi, Tay. Tapi coba deh kau dekati dulu si Alice. Barangkali ia juga menyukaimu. Who know?” Kata Selena sambil tersenyum.
          “Aku tidak yakin bisa dekat lagi dengannya. Ia sudah bersama Logan Lerman.”
          “Logan Lerman? Demi apa?” Tanya Selena kaget.
          “Kenapa gitu, Sel?” Tanyaku heran.
          “Logan kan sudah pacaran dengan… Siapa namanya, aku lupa.” Kata Selena sambil mencoba mengingat ingat. Ia lalu bercerita tentang Justin dan teman temannya. Huh, Selena jarang sekali membahas topik tentang aku. Aku harus memulai ceritaku duluan tapi tetap Selena memotongnya. Aku jadi sering kesal. Ia tidak seperti Alice. Kalau Alice pasti selalu mendengar ceritaku dan bertanya padaku. Kami bersahabat dan berbagi dengan adil. Tidak seperti Selena, Selena selalu saja mau jadi pusat perhatian..

          Ice Cream kami datang tepat ketika segerombol cewek yang kira kira usianya diatasku satu sampai dua tahun. Aku memerhatikan salah satu diantara mereka. Cewek berambut cokelat panjang itu cantik sekali. Aku seperti pernah melihatnya, tapi dimana ya…

          “Tay!” Seru Selena. Suara Selena telah membuyarkan lamunanku. Aku menatap Selena lalu menyuapkan Ice Cream vanilla-ku.
          “What?” Tanyaku pelan.
          “Jadi.. Bagaimana dengan Alice?” Tanya Selena dengan tatapan menggoda.
          “Jujur, aku belum yakin aku menyukainya. Tapi aku akan mencoba dekat dengannya lagi. Berdoalah untukku, Selly.” Kataku sambil tertawa.
          “Selalu, Tay.. Eh, liat deh dipojokan sana. Itu golongan kelas 8 kan? Kayaknya diantara mereka ada pacarnya Logan deh..” Tanya Selena sambil menunjuk cewek cewek tadi. Aku menggeleng.
          “Manaku tau, Sel. Hehehehe.. Tapi, ada yang cantik tuh.” Kataku pelan.
          “Yang mana? Tunjukan!” Kata Selena penasaran. Aku menunjuk cewek dengan rambut panjang dan jaket warna putih itu.
          “Oh aku ingat! Itu dia pacar Logan Lerman, Tay. Namanya Mackenzie Foy ….”

_______________________________________________________
TAYLOR ALISON SWIFT’S POV

          “Cody, mampir dulu yuk.” Ajakku sambil memberikan helm kepada Cody. Ia tersenyum lalu menggeleng. Ia lalu turun dari motornya lalu menatapku.
          “Enggak, Tay. Udah jam 7 malam, kamu harus istirahat lho.”
          “Hehehe iya sih. Enggak mau ketemu Yana atau Austin?”
          “Enggak ah, nanti aku main kesini deh. Jangan makan malam, Tay! Nanti gendut!” Seru Cody sambil naik ke motornya dan memakai helmnya. Aku tertawa.
          “Makasih ya untuk hari ini, lain kali kita masih bisa jalan lagi kan?” Tanya Cody lembut. Aku mengangguk.
          “Malam, Sweetheart. Tidur yang nyenyak.” Kata Cody sambil tersenyum.
          Aku masuk kamar lalu merebahkan diri di kasur setelah perjalanan seharian bersama Cody ketika Yana mengetuk pintuku. Ia pasti penasaran apa saja yang aku lakukan dengan Cody dari pagi sampai malam begini. Yana duduk disampingku sambil menatapku penasaran.

          “Ada apa sih, Kak?” Tanyaku sambil tersenyum malu-malu.
          “Mana kameramu, Tay? Aku mau lihat foto-fotonya! Ada foto berdua tidak?”
          “Enggak. Tadi enggak ada yang bisa fotoin.” Kataku dengan nada sedih. Aku mengambil Canon 550D-ku lalu menunjukan foto-foto yang tadi. 



          “Tadi aku ke Pantai sama Cody. Waktu kita lagi jalan di pinggiran pantai, ada pengamen bawa gitar. Cody minjem gitarnya lalu menyanyikan lagu ‘You Belong With Me’ yang aku buat minggu lalu kak…” Kataku sambil tersenyum bahagia.
          “Demi Tuhan, dia ganteng sekali, Tay!”


          “Habis itu kami ke Café Hampavala. Ganteng banget ya kak.” Kataku sambil tertawa. Yana mengangguk setuju.


          “Kami ke taman lalu foto-foto. Cody mengambil fotoku lalu… Tebak apa yang ia katakan!” Seruku sambil tertawa jahil.
          “Dia bilang apa?!” Seru Yana penasaran.
          “Dia bilang… ‘Tay, pantas saja dari tadi orang memandangku iri. Kau lihat gadis difoto ini, cantik sekali. Pasti mereka juga ingin berjalan bersama gadis cantik dan baik sepertimu.’ Aaaaaaaaaaaaa!” Aku dan Yana berteriak bersamaan lalu ia memelukku.
          “Tampaknya nona Swift sudah bisa menerima tuan Simpson.”
          “Aku bisa menerimanya, Kak. Tapi aku tidak bisa melupakan Daniel.”
          “Bukan tidak bisa, sayang. Kau baru deket dia lagi 3 minggu terakhir ini. Sudahlah, lama kelamaan kau pasti jatuh hati padanya…”
          “Dia sangat romantis, kau tau? Dia selalu menelponku dan bertanya apakah ada PR liburan yang sulit atau hanya sekedar bertanya bagaimana kabarku..”
          “Itu sangat romantis, Taylor. Huft, untung kau tidak pergi ke Grand Indonesia hari ini dan bertemu Daniel dan Selena bermesraan…” Kata Yana lalu tiba-tiba menutup mulutnya. Jadi… Daniel dan Selena jalan-jalan.. Berdua.. Hanya berdua?!
          “Maafkan aku, Tay… Tapi, aku hanya ingin kau sadar kalau dia sama sekali tidak perduli padamu. Bahkan dia tidak mengirimi satupun SMS saat liburan kan? Tay…. Percayalah, kau harus move on ke Cody dan melupakan cowok itu…” Kata Yana sambil menunjukan foto Daniel dan Selena yang sedang… Tertawa bahagia. 


          “Mereka pasangan yang cocok, bukan?” Tanyaku sambil menghapus air mataku. Shit, kenapa mesti menangis, Tay!
          “Oh honey, stop. Jangan menangis untuk Daniel lagi….” Kata Yana sambil memelukku. Ia tiba-tiba melepas pelukannya lalu berlari keluar kamar dan kembali dalam 10 detik.
          “Okey, tutup matamu. Aku punya kejutan!” Seru Yana dengan kedua tangannya melingkar menyembunyikan sesuatu dibelakang punggungnya. Aku menutup mataku sesuai apa yang Yana pinta dan bertanya tanya.
          “Okey, satu, dua, tiga…” Aku membuka mata tepat dihitungan ketiga dan melihat seikat mawar merah ditangan Yana. Yana membawakan bunga kesukaanku!
          “Kakak terima kasih!!” Kataku sambil menggenggam bunga itu lalu memeluknya erat.
          “Eits, bukan aku yang membelinya untukmu, Tay.” Kata Yana pelan. Aku melepas pelukan Yana lalu menatapnya heran. “Tadi siang, ada seorang kurir mengantarkannya. Ada kartunya tapi aku tidak membuka kartu itu, sungguh! Aku sangat menjaga privasimu, kau tau itu kan? Coba deh buka kartunya..” Kata Yana sambil tersenyum. Aku melepas ikatan kartu ucapan kecil itu dari pitanya lalu membukanya. Siapa ya yang mengirimkannya?

Dear Alice,
Aku harap kau menyukainya. Sebentar lagi masuk sekolah dan aku harap kau tidak akan bersedih lagi. Jaga dirimu baik baik. Aku sangat merindukanmu, Alice.

Nick Jonas.

          Ya Tuhan. Nick? Ia mengirimkan bunga mawar ini? Setauku hanya cewek cewek special yang akan Nick kirimi barang barang romantis, itu yang Nick katakan terakhir kali ia cerita tentang cewek. Aku kan hanya sahabat Nick.. Lalu kenapa Nick mengirim bunga ini?

          “Tay, dari siapa?” Tanya Yana pelan. Wajahnya benar benar penasaran.
          “Nick Jonas.” Kataku dengan pandangan hampa dan wajah keheranan. Sebenarnya, ada apa sih dengan Nick?


To Be Continued......

2 komentar:

Leave me some comment! Thank you, guys:}

Diberdayakan oleh Blogger.