SPEAK NOW chapter 8

Maaf ngepostnya telat wkwkwk. Enjoy it yup ;) 


TAYLOR ALISON SWIFT'S POV

Lagi-lagi seperti hari hari kemarin, Daniel datang berdua dengan Selena lalu duduk berdua dan ngobrol, curhat. Kayaknya sudah lama sekali hal yang mereka lakukan tak kami -aku dan Daniel- lakukan lagi. Semenjak cewek itu datang, semuanya berubah.

Rasanya semakin iri ketika melihat Demi dan Edward semakin dekat sementara aku dan Daniel semakin jauh. Tidak dekat lagi seperti dulu. Rasanya aku malas sekali masuk sekolah, melihat Daniel dan Selena berduaan, selalu bersama.

Sekarang Daniel sedang memaikan ikat rambut milik Selena, sementara Selena sedang mengoceh tentang cowok yang sedang Ia incar, Justin Bieber anak kelas 8. Aku sesekali melirik Demi dan Demi hanya tertawa sambil mengangguk. Hey, tingkah kalian begitu membuatku mual, tau tidak?

Daniel benar benar berubah. Setelah cewek itu datang, selama pelajaran berlangsung Ia hanya menanyaiku hal hal yang penting saja, tidak seperti dulu. Ia sepertinya benar benar melupakanku. Tidak ada lagi acara makan siang bareng atau mendengarkan lagu lagu baruku. Tidak ada lagi SMS darinya setiap malam. Tidak ada.

Banyak yang mengeluh tentang kedekatan Daniel dan Selena padaku. Daniel menjadi egois, selalu mementingkan Selena, selalu membenarkan Selena. Huh! Musnahlah kau dari dunia ini, Selena Gomez!!!

"Cemburu lagi, Al?" Tanya Nick sambil menyodorkan Teh Botol Sosro Less Sugar kesukaanku. Aku mengambilnya, membuka botol minumnya lalu menenggak minuman itu seperti orang kesetanan. Nick duduk di sampingku lalu tertawa. Matanya jadi sipit, lucu sekali.
"Seperti yang kau lihat, bermain dengan ikat rambut Selena. Lagi." Kataku sambil melirik sinis ke arah Daniel dan Selena.
"Kayaknya Daniel suka sama Selena deh, Lice!" Seru Edward tiba-tiba menghampiriku dan Nick. Aku mendesah lalu memukulnya.
"Sialan, kakak macam apa kau ini?! Bukannya menenangkan malah manas manasin!" Seruku sambil menatap Edward marah. Ia tertawa bahagia.
"Alice jangan sedih, cowok kan bukan Daniel aja. Masih ada aku." Kata Nick pelan.
"Yup, terima kasih banyak, Nick. Aku cinta sekali padamu." Kataku sambil tertawa. Nick hanya tersenyum lalu berjalan meninggalkan aku dan Edward menuju Joe.
"Kurasa Daniel menyukai Selena, Lice. Kau harus cari pengganti Daniel." Kata Edward sambil duduk disebelahku, tempat yang tadi Nick duduki.
"Aku ingin sekali seperti itu." Kataku sambil memandang lantai murung.
"Secepatnya kau harus cari cowok itu. Kau tidak bisa stuck di satu orang yang jelas jelas tidak mencintaimu -melihatmu saja jarang." Kata Edward dengan nada perihatin. Ia berdiri lalu menghadapku sambil menatapku.
"Alice, can you move on from him?" Tanya Edward pelan. Aku menoleh ke arah Daniel dan Selena lagi. Mereka sedang mendengarkan musik di iPod Daniel.
"I can't but I must. Now, I didn't have reason again to keep waiting for him." Kataku pelan.
"Kapan kamu move kalo tetep disini?" Tanya Edward sambil menyodorkan tangannya.
"Secepat yang aku bisa." Kataku sambil meraih tangan Edward. Edward menarikku keluar tetapi aku sempat melirik ke arah Daniel dan Selena.


Daniel menatapku dan aku menatapnya. Raut wajah Daniel berubah seketika.


***

NICK JONAS'S POV

Edward tiba-tiba keluar bersama Alice. Ia menarik tangan Alice lalu melirikku sesaat. Tatapannya mengisyaratkan untuk aku ikut bersamanya. Aku menitipkan kaleng Coca Cola-ku pada Joe lalu berjalan mengikuti Edward dan Alice menuju taman sekolah.

Alice. Iya, Alice. Cewek yang selama ini diam diam aku perhatikan tapi aku malu untuk mengungkapkannya. Ia kadang bercerita padaku tentang Daniel. Ia selalu ceria dan selalu menunjukan lagu-lagu barunya padaku. Ia sangat baik dan juga cantik. Matanya... Benar benar membuat hatiku tenang. Siapa sih yang tidak akan menyukainya?

"Nick? Niiick!" Seru Alice sambil menggoncangkan tubuhku, lamunanku pun buyar seketika.
"Iya, Al?" Sahutku sambil tersenyum.
"Kau melamun lagi..." Katanya sambil meninju bahuku pelan. "Saat sedang berjalan lagi. Parah kau, Nick!" Sambung Edward sambil tertawa.
"Maaf, Al." Kataku sambil tersenyum lebar.
"Kita harus carikan pacar untuk Alice -setidaknya orang yang bisa Alice suka, supaya dia tidak sedih karena Daniel lagi." Kata Edward pelan. Apa? Pacar untuk... Alice?
"Emang ada yang mau sama Taylor Swift?" Tanyaku sambil tertawa, berusaha menghilangkan fikiran untuk berkata 'hey, aku saja yang jadi pacarmu, Al!'
"Nick, kau baik sekali. Terima kasih lho." Jawab Alice dengan muka cemberut.
"Hihihi, sama sama Nona Swift.." Kataku sambil cengegesan.
"Kita tunggu disini, liat liat aja, barangkali ada cowok ganteng untuk Alice, atau mungkin kita bisa nemuin cewek disini Nick!" Seru Edward dengan mata berbinar semangat.
"Oke juga idemu. Kita bolos kelas?" Tanya Alice heran.
"Tidak akan bolos, hari ini hari Sabtu, kau ingat? Pasti guru guru banyak yang tidak masuk kelas. Kudoakan hari ini Alice menemukan cowok barunya. Doaku manjur lho, Lice.." Kataku dengan wajah sumeringah.
"Terima kasih banyaaaak Nick!" Seru Alice sambil memelukku sebentar.

Aku, Alice dan Edward bercerita banyak tentang tipe orang yang kami sukai. Kami saling tertawa sampai akhirnya Daniel dan Selena melewati kami bertiga, berjalan berdua sambil tertawa tawa. Alice mendesah.

Mereka membawa beberapa buku lalu duduk berdua tak jauh dari kami. Tampaknya, Daniel sedang mengajari Selena sesuatu. Alice mukanya memerah, panas, matanya berkaca kaca.
"Keep strong, My Alice." Kata Edward tanpa menoleh sedikitpun pada Alice. Alice mengangguk. 
"Jangan nangis. Jangan buang air mata kamu percuma." Kataku. Alice mengangguk.
"Tapi sudah lama aku suka padanya... Tidak sadarkah dia?" Tanya Alice sambil menunduk. Tiba-tiba terdengar isakan tangis. Oh shit, damn! Daniel! Kau membuat Alice menangis!
"Jangan menangis, Al..." Kataku sambil merangkulnya. Edward melirikku lalu tersenyum. Matanya seperti bilang 'aku tau kau menyukainya'.

Alice menangis semakin lama semakin kencang, tapi hanya terdengar disekitar kami, tidak mungkin terdengar ditempat Daniel dan Selena.

"Cowok masih banyak, Al..." Kataku lagi. 
"Iya, Nick. Kau benar, cowok masih...." Tiba-tiba Alice berhenti bicara ketika seorang cowok berseragam olah raga kelas 8 menghampiri kami. Aku mendesah. Cowok itu tersenyum pada Alice lalu memegang pundaknya.


"Halo, Taylor. Aku Logan. Masih ingat aku kan?"



To Be Continued...


Artikel lainnya:

Tidak ada komentar:

Leave me some comment! Thank you, guys:}