Speak Now chapter 17

Menurut iklan, hidup itu pilihan. Menurut Joni, hidup itu harus blak blakan. Menurut Eclipse, hidup itu penuh dengan kesalahan. Menurut gue, hidup itu... complicated. penuh dengan pilihan, kesalahan dan blak blakan. eits gue bukan Joni dan gue gatau Joni dimana.  SNchap17! check it out guys B)
_________________________________________________________________________________



TAYLOR ALISON SWIFT’S POV

            Malam ini Daniel menepati janjinya padaku untuk makan malam di Café Hampavala dengan seikat bunga mawar merah. Kami duduk di lantai dua tepatnya di pojokan ruangan Café tersebut, tempat dimana aku dan Cody bertemu lagi.

            “Ali, itu Cody bukan?” Tanya Daniel sambil menunjuk ke arah panggung. Aku menoleh lalu menemukan cowok dengan kemeja warna cokelat sedang duduk di atas panggung dengan gitarnya. Aku mendesah.
            “Cody kan? Benar kan benar?” Tanya Daniel sambil tertawa kecil. Aku mengangguk. Cody menatapku lalu menatap Daniel. Ia tersenyum lalu memalingkan wajahnya dari arahku. Cody memulai memainkan gitarnya. Dari intronya saja aku sudah bisa mengenali, ini pasti lagu milik Justin Bieber, pacar Selena. Aku dan Justin kan satu eskul, jadi aku sering mendengarnya membuat lagu.

            Daniel mulai berubah semenjak ia berjanji mau berubah. Ia lebih sering bersamaku, bersama kami teman temannya daripada bersama Selena. Ia jadi sering menelfonku lagi. Kuharap perubahan Daniel tak sementara. Pesananku dan Daniel sudah datang ketika Cody selesai bernyanyi dan menuruni panggung. Tapi.. Selama Cody menyanyi, wajahnya benar benar murung. Ada apa ya?

            “Tayloooooor!” Seru Cody dari belakang. Aku tersenyum lalu melambai padanya. Ia menghampiriku dengan Daniel sambil membawa mawar berwarna merah.
            “Congrats for your big score at Maths’s Class. It’s special for you, sweetheart..” Katanya sambil menyodorkan bunga itu padaku. Aku menerimanya lalu tertawa.
            “Thanks, Cody.. Oh iya Cody, kenalkan ini Taylor Daniel Lautner. Daniel, ini Cody Simpson.” Kataku sambil tersenyum. Cody dan Daniel berjabat tangan lalu Cody duduk di sampingku.
            “Jadi.. Kalian sedang dinner, huh?” Tanya Cody sambil tersenyum. Suaranya lebih berat dari biasanya. Muka Cody juga pucat, kenapa sih dia?
            “Iya.. Ini makan malam perminta maafan.”
            “Perminta maafan? Apa yang terjadi?” Tanya Cody heran.
            “It’s complicated.” Kata Daniel lirih.
            “Well, aku melakukan kesalahan pada pacarmu. Jadi aku menebus dosaku dengan makan malam ini.” Kata Daniel lalu menenggak minumannya. Wait, pacar?
            “Pacar?” Tanyaku dan Cody bersamaan. Daniel menatap kami heran.
            “Lho? Bukannya kalian pacaran?” Tanya Daniel aneh. Aku dan Cody saling bertatapan lalu tertawa kecil.
            “Almost!” Seruku dan Cody bersamaan lalu tertawa. Daniel menatap kami heran.
            “Jadi, kalian udah mau jadian? Udah jadian? Enggak jadian?” Tanya Daniel dengan mimik muka kaget, bingung dan.. sedih. Hey, Daniel sedih? Cody lihat! Daniel wajahnya sedih!
            “Almost. Doain aja..” Kata Cody sambil menyikutku. Aku mengangguk. Daniel menatapku lalu menatap Cody. Tatapan matanya.. Daniel.. Dia benar benar sedih kelihatannya. Tatapan kecewa tersirat di matanya. Tapi kenapa dia harus kecewa?
            “Ciye Ali.. Udah mau punya pacar nih!” Seru Daniel dengan tawa kaku. Aku hanya tertawa menanggapinya. Aku tau, pasti Cody membantuku untuk mengetahui apakah Daniel cemburu atau tidak. Dan kurasa.. Ia kecewa. Hampir mendekati cemburu! Mungkin saja kan dia juga menyukaiku. Aku tertawa kecil lalu menghilangkan pikiran itu saat ini.

            “Yah, aku udah enggak ada harapan lagi dong sama Alice.” Kata Daniel pelan. Cody menatapku lalu tersenyum. Jangan-jangan Daniel…
            “Aku ke kamar mandi dulu ya.” Kata Daniel pelan lalu berlari menuju kamar mandi. Aku menutup mulutku rapat rapat supaya tidak teriak. Mata Cody menatapku lalu tersenyum bahagia. Aku benar benar ingin terbang sekarang!

            “Udah enggak ada harapan lagi? Oh my God, Tay! Tau tidak? Kurasa Daniel cemburu… Jadi, mungkin saja dia menyukaimu!” Kata Cody sambil tertawa. Aku memeluknya erat sambil berusaha menahan untuk teriak.
            “Cody, terima kasih banyak, aku mencintaimu!” Seruku sambil tertawa. Cody melepaskan pelukannya lalu menatapku.
            “Andai kau menyukaiku seperti kau menyukai Daniel…” Kata Cody lirih. Ya Tuhan! Taylor please berhenti terbang karena Daniel! Ingat Cody! Ingat janjimu pada Cody!

            Cody menatapku kecewa lalu melihat ke arah panggung. Daniel kembali dengan wajah murung lalu ngobrol dengan Cody. Daniel tidak lagi duduk di depanku melainkan di depan Cody. Justin naik ke atas panggung lalu menyanyikan lagu yang sudah tidak asing lagi untukku, Don’t Cry Your Heart Out, lagu milik Cody. Daniel dan Cody sedang asik ngobrol. Sementara aku menatap keluar lalu melihat bintang bintang dan berkata pelan..

            “Bintang, kau tau? Di sampingku ada dua orang yang aku sukai. Daniel dan Cody. Tapi aku tidak tau apakah Daniel menyukaiku. Sementara Cody sudah bilang padaku bahwa ia menyukaiku dan akan menungguku. Bintang, kau tau? Aku galau sekarang.”


Four Months Later…

            Aku sedang berjalan memasuki kelasku ketika Daniel masuk ke kelas. Sekarang semuanya berbeda, Daniel sudah berubah menjadi baik lagi kembali seperti dulu. Ia sekarang benar-benar Daniel-ku! Malah lebih dekat lagi.

            Ia seperti Cody dulu, sering sekali mengirimiku SMS untuk sekedar menanyakan kabarku. Daniel sekarang juga jarang sekali bermain dengan ikat rambut Selena. Pokoknya Daniel berubah drastis deh.

            Kulihat tanggal di jamku lalu mendesah. Tanggal 13 Mei, 13 hari menuju ulang tahun Daniel. Hari dimana aku berjanji untuk mengungkapkan perasaanku kepada Daniel lewat lagu. Hari dimana menjadi penentuan apakah Daniel menerimaku atau aku menerima Cody. Semuanya begitu cepat dan rumit.

            Terkadang aku sering berfikir, kalau aku Daniel tidak menyukaiku dan aku menerima Cody, sama saja aku memanfaatkan Cody. Tapi aku.. Aku juga suka pada Cody. Ah hidup ini begitu rumit!

            “ALICEEEEEEEEE!” Seru Daniel membuyarkan lamunanku. Ia menabrakku lalu aku jatuh. Aku tidak bisa berkata apa apa, sakit sekali. Serius, sakit sekali. Daniel yang juga jatuh disampingku tertawa lalu duduk.

            “Hihihihi seru sekali jatuhnya!” Katanya dengan nada bercanda. Aku sama sekali tidak memerhatikan Daniel, punggungku sakit sekali. Daniel malah tertawa tawa. Aku meringis kesakitan sambil berusaha bangkit tetapi ia tetap tertawa dalam duduknya. Aku mendesah.
            “Kau tahu, Dan?”
            “Kenapa, Al?”
            “Aku sakit dan juga tidak percaya kau menertawakanku. Tega sekali.” Kataku sinis sambil berjalan ke arah tempat dudukku.
            “ALICEEEEEE!” Seru Daniel sambil berlari lalu memelukku dari belakang.
            “Hey, nanti kalo Cody lihat, dia cemburu lho, Dan.” Kata Nick yang sejak tadi duduk di bangku sebelahku. Aku mendesah.
            “Iya nanti calon pacarku marah!” Seruku dengan nada sinis sekaligus menahan tawa. Daniel menatapku lalu menatap Nick. Ia menghela nafas lalu melepas pelukannya dan berdiri di depanku.

            “Baru calon kan? Aku masih punya kesempatan dong.” Kata Daniel sambil tertawa. Nick menatapku lalu aku menutup mulutku. Tuhan please, izinkan aku terbang karena Daniel dan jangan biarkan mulutku ini teriak. Oh iya Tuhan, kabulkan doaku yang di Gereja kemarin ya? Aku mau Daniel menyukaiku lagi, boleh kan?
            “Iya baru calon, kamu masih punya banyak kesempatan.” Kataku sambil tertawa. Kuharap perkataan Daniel bukan sekedar candaan dan ia menyadari bahwa aku juga tidak bercanda. Tuhan please, aku mau cowok ganteng itu yang tinggal di hati ini.. 


To Be Continued...

2 komentar:

  1. "Bintang, kau tau? Aku galau sekarang.”
    wkwkkwkwkwk sumpeh ngakak xD

    BalasHapus

Leave me some comment! Thank you, guys:}

Diberdayakan oleh Blogger.