If This Was a Movie chapter 2

Finally, gue nemu ide juga. Huff. This is it, If This Was A Movie chapter 2! \m/

***

                “Maddi tunggu! Jangan lari!” teriak Adam dari kejauhan. Maddi mengdengar teriakan Adam tapi ia tidak menghiraukannya. Ia terus berlari sampai menuju gerbang sekolah. Matanya masih menjatuhkan air mata, dia masih menangis.
                “Maddi tunggu!” seru Adam sambil menarik tangan Maddi. Ia langsung memutarkan badan Maddi lalu memeluknya. “Maddi jangan menangis.” kata Adam sambil mengusap punggung Maddi. Maddi bukannya berhenti menangis, tangisannya malah semakin menjadi jadi. Adam panik.
                “Maddi, berhenti! Aku tidak tau apapun tentang kau dan Grey sekarang……” kata Adam sambil melepaskan pelukannya. Maddi masih menangis. Sahabat seperjuangannya, cewek yang menurutnya paling tegar, cewek yang selalu menjadi panutannya malah menangis menjadi jadi dihadapannya.
                Adam tahu benar ini semua karena Grey, tapi dia tidak tahu lebih jauh. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi setelah Maddi dan Grey putus. Maddi selalu memendam semuanya sendirian sekarang. Adam menghapus air mata Maddi.
                “Please, stop it.” kata Adam sambil menatap Maddi. Maddi masih menangis. Adam mengepal tangannya. “Maddi, stop it now.” Maddi masih menangis, lebih kencang. Semua orang sudah masuk ke dalam Aula, tak ada satupun yang memerhatikan Adam dan Maddi di pos satpam.
                “MADDI, STOP NOW!” teriak Adam sambil mengguncangkan badan Maddi. Maddi menggeram.
                “CAN YOU JUST SHUT UP AND GO AWAY, NOW?! YOU DON’T KNOW WHAT I FEEL NOW, ADAM!” teriak Maddi sambil menggeram. Adam meraih tangan Maddi.
                “Hey, how can I know if you never told me, Maddi? Come on. Don’t be a stupid girl.”
                “What the…. Whatever.” kata Maddi sambil duduk di kursi yang ada di samping pintu pos satpam. Maddi memeluk dirinya sendiri lalu menangis lagi. Beberapa kali terdengar nama Grey ia sebut, tapi Adam masih terdiam melihat sahabatnya menangis seperti itu.
                “What’s going on, Madd?”
                “Nothing.”
                “Tell me now, Maddi.”
                “Huh?”
                “Ya, tell me your problem. About you and Grey. If I know, maybe I can help you.”
                “Adam, I don’t even need you now. Back to the party now. Leave me alone.”
                “No. I know you need me, Madd.”
                “I need Grey, not you.”
                Adam terdiam. Seperti ada sesuatu yang menusuk jantungnya. Maddi… Maddi…  Adam yakin sekali cewek berambut cokelat panjang lurus ini masih menyayangi mantannya. Pasti.
                “Grey mungkin sedang bersama cewek lain.”
                “Damn. Stop. Go away. I don’t need you.”
                “Apa hakmu menyuruhku pergi? Apa hakmu menyuruhku diam? Kau tidak punya hak sama sekali, Maddi. Aku tadi memintamu diam tapi kamu malah meneriakiku.”
                “Adam, please.... Go away. Leave me alone.” pinta Maddi sambil menghapus air matanya.
                “Tidak. Ceritakan padaku. Semuanya.”
                “I can’t.”
                “You can.”
                “I never tell anyone about it.”
                “Taylor? Kau kira aku bodoh? Aku tau kamu bercerita pada Taylor.”
                “Aku hanya bercerita sedikit pada Taylor. Sedikit lho, ya. Hanya padanya. Tidak pada yang lain.”
                “Kenapa Taylor boleh tau sementara aku tidak?”
                “Karena ada sesuatu yang tidak bisa aku katakan.”
                “Bodoh. Ceritakan padaku tentang Grey.”
                “Apa yang harus aku ceritakan?”
                “Maddi, berhenti membuatku menggila. Kamu masih mencintainya, kan?” tanya Adam dengan nada memaksa. Maddi mengalihkan pandangannya. “Tidak.” jawabnya dengan nada kekanak kanakan.
                “Bohong! Ayo cerita!”
                “Ah, Adam! Cukup! Kau sudah tau, kau sudah lihat. Iya, semuanya jelas terlihat. Jelas jelas kau tau aku menginginkan Grey disini. Aku… Aku ingin bertemu dengannya. Aku kesal karena dia  tidak datang. Sudah, hanya itu masalahku.”
                “Masalahnya pasti lebih dari itu. Beri tahu aku, Madd!”
                “Apalagi yang harus aku beri tahu, Adam? Please, jelas jelas tadi aku sudah bilang. Aku ingin Grey disini. Sudah. Cukup.” Kata Maddi sambil mendengus pelan.
                “Ah! Bukan itu yang kumaksud, Madd! Ceritakan tentang kau dan dia. Semuanya! Dari awal kau menyukainya… Kau menjadi pacarnya.. Sampai malam ini. Ayolah, Maddi!”
                “Untuk apa? Buang buang waktu saja.” kata Maddi sambil menghapus air matanya.
                “Bodoh. Ayo ceritakan! Biar perasaanmu lebih lega. Kamu sahabatku, tapi kamu hanya bercerita seadanya padaku. Aku seakan akan dibuang, Maddi.” kata Adam sambil duduk disamping Maddi. 
                “Aku tidak pernah membuangmu.”
                “Kamu membuangku, Madd.”
                “Tidak, Dam. Aku hanya berceita pada Taylor, supaya Taylor bisa membantuku untuk malam ini. Dan itupun hanya sedikit. Selebihnya hanya aku yang tahu. Aku tidak ingin kau tahu.  Aku hanya ingin mengenang semuanya sendirian.”
                “Kenapa begitu?”
                “Jadi, jika aku ingin memutar ingatanku kembali, hanya ada satu versi, dari versiku saja, tidak dari cerita yang lain.”
                “Maddi, ini hidup! Ini bukan film! Tidak ada yang bisa diputar kembali!”
                “Sudah diam, aku mau bercerita.”
                “Yeah! Aku menang! Hapus air matamu cepat! Dasar bodoh.”
                “Diam! Jangan membuat aku semakin bersalah karena bercerita seadanya saja padamu tentang Greyson.” kata Maddi sambil menghapus air matanya.
                “Oke, aku siap. Jadi kita mulai dari mana?”
                “Semuanya bermula dari kau. Tempat duduk laknat itu. Essay essay yang harus aku kerjakan dengannya. Semuanya….” kata Maddi pelan lalu memulai ceritanya.


***
            
    Jantung Maddi berdetak tak beraturan. Maddi berjalan memasuki kelasnya dengan hati hati, ia tidak ingin tersandung oleh tali sepatunya sendiri. Keadaan kelasnya masih sangat sepi. Damn, ini tidak akan berjalan dengan baik.
                Maddi berdiri di depan papan tulis. Matanya tertuju tepat pada meja pada barisan kedua di depannya. Tangannya gemetaran, ia takut untuk melangkah menuju kursi itu. Adam membuat semuanya jadi berantakan. Lagi-lagi ia kalah dengan Adam dan ia harus menuruti perintah Adam.
                Sebenarnya ia tidak mau menukar kursinya dengan kursi milik Mackenzie Foy, tapi apa boleh buat, ini perintah dari sang pemenang. Dan karena kekalahannya, Maddi harus terima apapun yang Adam perintahkan. Sial, kenapa sih tadi malam Mackenzie membalas pesan Adam?!
                Tanpa sadar, ia meneteskan air matanya. Jika ia duduk di tempat Mackenzie, maka ia duduk jauh dari tempat Adam. Dan itu berarti bencana. Maddi sudah merasa akan sangat kesepian. Apalagi teman sebangkunya kini adalah Greyson Chance. Tidak terlalu buruk, tapi tidak baik juga. Maddi tidak dekat dengan laki laki itu.
                Sudah lama Adam menyukai Mackenzie dan sudah lama juga ia mengincar tempat duduk milik Grey. Tapi Grey tidak pernah mau menukar tempat duduknya dengan milik Adam karena tempat milik Adam dekat dengan meja guru. Sebenarnya tempat duduk Maddi dan Adam bukanlah tempat yang nyaman. Tapi menurut Maddi selama bersama Adam, semuanya akan selalu menjadi nyaman.
                Tadi malam, Maddi dan Adam bertaruh. Jika Mackenzie membalas pesan Adam, Maddi harus mau meminta Mackenzie bertukar tempat dengannya. Alasan yang Maddi pergunakan harus karena ia ingin duduk dekat dengan Grey. Kalau Mackenzie tidak membalas pesan Adam, Adam harus menyanyi untuk Maddi selama 6 jam tanpa berhenti. Dan pada akhirnya, Maddi kalah.
                Dengan berat hati ia meminta Mackenzie untuk bertukar tempat dengannya. Awalnya Mackenzie merasa bingung dengan permintaan Maddi, tapi karena Maddi bilang “karena aku ingin lebih dekat dengan Grey, Zie..” mangkanya Mackenzie memperbolehkannya.
                Dan lagi lagi aku kalah. Adam memang iblis. Gerutu Maddi untuk kesekian kalinya. Maddi sudah 15 menit berdiri, menatap kursi barunya. Sekarang ia benar benar ingin memakan Adam. Saat ia melangkah, tiba tiba seorang cowok bertas punggung abu abu memasuki kelas. Ya, itu Greyson.
                Ia berjalan menuju tempat duduknya. Ia menaruh tasnya di atas meja, mengeluarkan MacBook nya lalu memasang headphone-nya. Maddi memandangi Grey secara seksama lalu menghapus air matanya. Berani berbuat, berani bertanggung jawab. Jika aku tidak duduk dengan Grey, harga diriku mau ditaruh dimana? Adam memang  bukan manusia, dia iblis.
                Maddi berjalan menuju tempat duduk barunya. Pertama tama ia melepas tas punggung hitamnya lalu ia taruh di meja. Maddi, Maddi, Maddi.. Damn. It’s really awkward. Lalu ia duduk dan memandang lurus kedepan. Yeah, finally, I’m sit on Mackenzie’s chair! Huh!
                “Ehm.”
                “Ah, eh, eum… Hai, Grey.” sapa Maddi canggung. Diliriknya Grey dengan ujung matanya, Grey hanya tersenyum sambil terus memainkan MacBook-nya.
                “Jadi, Maddi bakal duduk disini?” tanya Grey memecah keheningan.
                “Eum.. Ya. Begitulah.”
                “I see.”
                “Kamu enggak keberatan kan, Grey?” tanya Maddi hati hati. Grey begitu dingin. Ini semua benar benar membuat Maddi ingin memakan Adam hidup hidup.
                “Ya.” jawab Grey pendek sambil terus memainkan MacBook-nya. Damn, sesuai dengan perkiraanku, ini tidak akan berjalan dengan baik……


To be continued...


Artikel lainnya:

2 komentar:

  1. kayaknya lebih suka yang ini daripada yang tulisan sebelumnya, karena cara menulisnya sudah semakin baik, ini Adam yang mana ya? kalo maddi sama grey kan ada tokohnya :) ehehehe

    BalasHapus
  2. Makasih kak Honey! Amiiiin! Adam Young kak.. Owl City.....

    BalasHapus

Leave me some comment! Thank you, guys:}