Ketika Flashback Berakhir Menyenangkan

Beberapa hari sebelum Hari Senin, sebelum gue menemukan Biru sudah balikan dengan mantannya dan gue ketemu di salah satu Mall pas lagi jalan, gue berfikir mungkin gue akan meneruskan kekonyolan ini dengan Biru atau menemukan yang lain.

Tapi tepat di hari Senin itu, gue berhenti.

Gue berfikir semua hal ini jatohnya omong kosong karena 3 tahun terakhir selalu gue yang jadi korban dari usaha gue sendiri. Gue terlalu mandiri untuk jatuh cinta. Memulai sendiri dan berakhir sendiri. Menemukan, maju, menunggu, jatuh dan bangkit lagi sendirian.

Jatuh cinta sendirian.

Besoknya, gue terbangun dengan keadaan Okky yang masih tidur di samping gue (eits, doi lagi nginep di rumah gue!) dan alarm handphone Nokia lama gue yang gak kunjung berhenti. Gue ambil handphone itu lalu tersenyum kecil saat melihat tulisan di layarnya. Itu bukan alarm, itu reminder.

With you, June 2009.

Semacam bodoh atau bego atau terlalu baik menyimpan kenangan lama tapi gue ampuni kekonyolan gue itu karena itu handphone gue sejak SD. I decided to click exit and forget about that reminder.

Lalu besoknya pas gue lagi mau nulis, gue menyadari kekosongan gue menyebabkan tulisan gue gak ada romantis romantisnya. The Reason is You juga kehilangan 'galau' nya gue. Rasanya hambar. Kayak bukan gue.

Malam itu gue kembali flashback. Hati kecil gue meminta untuk kembali pada salah satu gebetan gue atau cari gebetan baru. Tapi sebagian besar minta buat berhenti dan fokus sama apa yang ada di depan mata gue.

New life, new place, new friends, new problems, new drama: High school.

Gue gak mikirin love life (dan males ngomongin love life kalo yang berat berat) sampe akhirnya siang ini gue ketemu sama dia lagi.

HAHAHAHA ini agak geli gue harus cerita dia lagi. Sebut namanya Romeo. Dia penuhin blog gue sekitar pertengahan 2010 karena gue galau akut. Etapi udah banyak post doi yang gue hapus kok! *pergi*

Dari kejauhan gue liat Nopan, temen gue lagi ngobrol sama temen temennya. Gue mau lewat situ tapi gue pura pura mati. Iya, gue gak enak ketemu sama mereka. First, gue sempet deket sama mereka tapi tiba tiba jauh gara gara gue beda sekolah. Second, gue lupa beberapa nama orang disana. Third, gue pendek banget.

Entah kenapa anak anak Al Azhar semuanya menjulang tinggi. Sedih gue.

Well, gue melakukan aksi pura pura mati tapi Nopan ngeliat gue. Dia narik tangan gue. Gue nahan nafas, mati gue. Pas gue ngelirik, yes he's there. Romeo berdiri dengan tubuh tinggi, mata sipit, kulit yang sekarang agak kecoklatan. Dia pake jaket dan udah ngelepas behelnya.

Dia sudah berubah. Dia sangat berbeda.

Gue cuman bisa nyengir sambil berharap bisa narik Silvy & Detty yang nemenin gue, tapi sayangnya mereka kabur duluan. Gue pengen makan mereka. Gue nyapa sok asik lalu ngobrol bentar sama Nopan. Dia liat gue sambil tertawa.

"Ti! Kok makin pendek..." Katanya sambil tertawa. Ketawanya masih sama kayak dulu, tapi terdengar super duper awkward. Gue cuman bisa nyengir dan kembali sok asik. "Ahaha iyalah.. Kan yang tinggi elo! Hahahaha.."

Beberapa detik kemudian gue berhasil kabur. Yeah.

Gue menyusul Silvy & Detty sambil berfikir. Apa yah yang dia pikirkan tentang gue yang sekarang? I mean, ya kita udah lama gak ketemu, ngobrol pun seadanya kalo di line / twitter, dan sekarang ketemu lagi di sekolah kita yang dulu... 

Maksud gue, apa dia berpikir juga kalo gue juga sudah berubah?

I think I've changed a lot the way he has changed a lot. Gue sekarang punya rambut panjang, gue anak pramuka dan ngeblog, gigi gue sudah berbehel dan pipi gue gak setembem dulu. Tapi gue masih bulet, gue masih pendek. Sementara dia, dia semakin tinggi.

Pernah gak sih kalian berpikir tentang perbedaan yang terjadi pada seseorang yang dulu adalah bagian terpenting dalam hidup kalian? Orang yang dulu adalah hidup kalian tapi setelah menjauh, semua berubah dan kalian seperti tidak bisa mengenali orang tersebut lagi?

Kalo gue, iya dan ini yang gue takutkan ketika gue harus ketemu dia lagi. Selalu saja terbesit kenangan jaman dulu yang gak seharusnya kita inget. Gak menyakitkan, sih. Tapi kok rasanya aneh ya? Dulu kita deket lalu sekarang jadi super awkward.

He was my world but it was long time ago.

Tip, jangan galau sih.. Enggak kok, eh tissu dong tissu! #eh


Well, setelah beberapa lama gue pengen foto bareng sama Nopan. Gue kesana lah sama Dina. Tapi Nopan nyebelin. Dia nunjuk nunjuk Romeo sambil ngomong, "ini siapa nih ini?"

Muka gue sok sok gak ngerti tapi Romeo ketawa. "Ah temen doang, Pan..."

Sesampainya di tempat mereka duduk, gue langsung ketawa. "Hahahaha iya..." gaya sok asik gue langsung gue keluarin. "Temenlah, temen deket dari SD iya gak sih!"

Romeo tertawa, "iyalah kita kan sahabatan! Temen deket! Tos dulu!"

Gue tos sama dia lalu tertawa renyah. "Yoi."

Gue ngobrol sama Nopan tapi pikiran gue kemana-mana. Saat itu, detik itu, di depan Romeo pengen banget gue bilang "iya akhirnya kita temenan lagi setelah November 2009 kita bubar, Juli 2010 aku pindah ke SPENSA, setelah setengah tahun aku move on dan 2 tahun kemudian kita baru bisa ngobrol tanpa ada perasaan janggal."

Dan gue juga pengen ngomong, "iya kita temen deket tapi lo gak tau kan seberapa lama gue gak bisa move on dulu sampe diketawain sama Ridho..."

Tapi gue gak ngomong, karena gue gak mau keadaan super awkward ini makin jadi gak enak. Setelah itu gue pisah dan gue ngobrol sama Silvy & Detty. Jam 2 siang gue balik naik beca langganan gue sambil dengerin lagu.....

Serius galau lagunya. Just Give Me a Reason, men.

Lalu ketakutan gue bener bener terjadi. Flashback. Gue gak suka itu, apalagi tentang Romeo. Gue inget seberapa dulu begonya gue bikin dia pergi dan seberapa baiknya Romeo sama gue.

Gue inget, dia adalah orang yang baik buat gue. No one can change him like seriously.

He treat me nice dan dia nerima gue apa adanya. Nerima gue yang aneh, yang beda dari temen temen gue, yang berisik, yang punya banyak sahabat cowok. Dia gak bikin hidup gue rumit. Dia gak kayak mereka... *liat gebetan gue pas SMP*

Dan yang lucunya adalah betapa gue inget kalo kita berdua cuman dua anak kecil yang lagi beranjak remaja, saling suka dan memutuskan untuk pacaran. Kita berubah setiap hari, tapi gue dan dia saling mengerti dan mau tumbuh bareng bareng...

Iya, tumbuh dan berubah bersama.

Well, penggalauan ini gak berarti gue kangen dan pengen balik ke dia. Manusiawi aja kan kalo inget masa lalu untuk ambil hikmahnya? *nyengir*

Gue berfikir, selama ini setiap gue deket sama seseorang, gue sering  berubah menjadi bukan Titi yang biasa. Pas gue suka sama perenang called Jasper, tiap hari gue berenang, tiap hari gue ini itu. Terus pas udah gak suka, gue tinggal. Pas suka sama Greys yang suka games, gue belajar ngegame padahal gue gak bisa. Terus sekarang, gamesnya udah gak pernah gue buka.

Berkorban dan berubah untuk sesuatu yang lebih baik itu gak salah, apalagi untuk orang yang kamu suka. Tapi buat apa kamu berubah menjadi orang lain demi mendapatkan cinta dia?

Selama gue sama Romeo, gue gak perlu jadi orang lain. Romeo itu kayak Cody. Dia nerima gue sebagai gue yang gini. Gue yang berisik, gue yang aneh. Gue berubah dan bertumbuh bersama Romeo......

Saat lagi jatuh cinta, kita bisa berubah menjadi siapa aja. Tapi lama kelamaan gue ngerasa itu bukan cinta. Cinta itu berubah gak sendirian, tapi bareng bareng.

Gue ngerasa banyak orang yang dulu deket sama gue ngerasa gue aneh dan terlalu berisik jadi cewek, lalu mereka jauhin gue. Gue berubah menjadi super kalem, tapi mereka malah nyari cewek yang apa adanya.

Jadi serba salah kan?

Gue berfikir.. 

Apa nanti gue bakal nemuin orang yang kayak Romeo? Orang yang mau nerima gue apa adanya? Orang yang bisa gue terima apa adanya? Orang yang siap buat tumbuh dan berubah bareng bareng sama gue?

Karena gue bukan orang orang kayak temen temen gue. Gue gak suka pacaran cuman karena 'aku suka kamu, kamu berubah, kita putus.' Gue sukanya 'aku suka kamu, kita berubah, kita hadapi sama sama.'

That's it.

Hari ini, flashback gue gak bikin gue galau ataupun sedih kenapa sih gue gak punya pacar sementara Romeo ganti ganti mulu. HAHAHA mungkin karena sesuai kata Ridho, gue itu terlalu pemilih. 

Mungkin ketika nanti gue punya cowok atau beranjak dewasa, gue akan berubah tapi gue maunya berubah bareng sama dia dan gak bikin orang orang disekitar gue kecewa. Gue gak mau berubah hanya demi cinta, jadi orang lain, kehilangan sahabat sahabat lo...

Ridho bilang, gue harus mencoba berubah biar orang bisa liat gue dari sisi lain. Gak gue si penulis super galau yang kerjaannya nungguin orang. Kata Gestu, gue harus lebih diem dan gak berisik. Gue harus ganti image. Biar gebetan gue (setelah jaman Greys) itu ngeh kalo gue tuh suka sama doi. Tapi kalo gitu..


Ngapain pacaran kalo kamu harus jadi orang lain?


Lalu sesampainya di rumah, gue buka laci gue yang isinya semua soal love life dan menemukan banyak tentang dia yang sudah hilang. Setelah hampir 4 tahun, gue akhirnya membuang beberapa hal yang tersisa tentang kita yang dulu.

Setelah semua perubahan kita selalu ada sisa dari masa lalu yaitu kenangan. Dan kali ini, ketika gue inget semua kenangan kita, gak ada rasa sakit, nyesel atau kecewa. Yang ada semuanya menyenangkan. Gue bisa ketawa dan dapet pencerahan untuk love life gue ke depan.

Dan sepertinya memang benar, aku sudah melupakan kamu sugar......


HAHAHA ini geli. Apa lo inget kita saling memanggil satu sama lain dengan sebutan sugar? Geli banget nulis posting ini tapi semoga ada manfaatnya buat gue dan kalian para pembaca. Well, doain gue makin tinggi ya, Romeo! Hihihi.... Bye.


Artikel lainnya:

2 komentar:

Leave me some comment! Thank you, guys:}