Since You've Been Gone chapter 7

I have been in love with someone that didn't love me back.
And I have been loved by someone that I didn't love back.
But I don't know which is worse:
to be broken or to break another soul.

***


"Handphonenya gak aktif lagi." Keluh Jessi sembari memasukkan iPhone nya ke dalam tas. Jason tertawa kecil, "masa lo gak bisa nemuin sahabat lo sih?"

"Ya dia juga sahabat lo kali!" Seru Jessi kesal. Jason mengangguk angguk.
"Iya deh gue cari Maudy ke kantin, elo diem aja disini."
Jessi mengangguk mengiyakan, "sip! Pergi lo!"

Jessi melirik kanan kirinya. Sudah satu jam ia dan Jason menunggu sahabat mereka, Maudy Reynata. Mereka berniat untuk pergi ke makan siang setelah hampir sebulan tidak pernah punya waktu bersama. Jessi, Jason dan Maudy berkenalan di bangku SMP. Saat itu Jessi duduk sebangku dengan Maudy di kelas Biologi dan akrab hingga sekarang. Tetapi karena saat masuk SMA Maudy memilih kelas IPS, jadi mereka jarang bertemu lagi. 

Dari kejauhan Jason berjalan sembari berbincang dengan seorang gadis berambut coklat dipotong berlayer. Gadis itu mempunyai paras Jepang yang cantik dan ada kesan anggun ketika menatapnya dari dekat. Jessi tertawa kecil lalu menghambur memeluk gadis itu, "MAUDYYYY!"
***

"Kamu putus?" Tanya Maudy membuka perbincangannya saat ia melihat Refal duduk sendirian dengan iPhone-nya. Kelas PKn hari ini kosong karena Bu Indri berhalangan hadir tanpa adanya tugas tambahan. 

Refal merengutkan dahinya. Wajahnya tampak keheranan. "You should know it better."
"I havent talked to Jessi." Ujarnya pelan. "May I have a sit?" Tanyanya sambil melirik bangku di sebelah Refal yang sedari tadi kosong. Refal mengangguk, "please?"

"Jadi kenapa putus?" Tanya Maudy.
Refal tertawa kecil, "it's complicated."
"I'm sure I can keep it up." Sahut Maudy sambil ikut tertawa.
"Dia tiba tiba bilang lebih baik berteman setelah 5 tahun. Entah alasannya apa. Tapi akhir akhir ini gue mikirin tentang perbedaan Agama di antara kita."
Maudy mengangguk kecil, "mungkin aja.. Kamu kan tahu Mama sama Papa nya Maudy tidak merestui perbedaan Agama sejak dulu. Tapi karena kamu baik dan sopan, they're welcome you."

Refal terdiam. Seakan pembicaraan ini mulai menjawab pertanyaannya selama ini.  Maudy adalah sahabat Jessi, dia pasti mengerti Jessi dari sudut yang berbeda dengan Jason atau dirinya. Lagi-lagi ia berniat menyalahkan Tuhan tetapi ia mengurungkan niatnya.

Bukan Tuhan atau dirinya yang salah. Tidak ada yang salah.

"Udah.. Jangan sedih.. You have to moving on." Ujar Maudy sambil tersenyum.
"5 tahun bukan waktu yang sebentar buat gue, Dy."
Maudy tertawa, "i know. Tapi apa yang bisa kamu perjuangin kalo keadaannya kayak gini?"
"Entahlah.. Hidup gue kacau..." Sahut Refal sembari mengacak acak rambutnya. Maudy menyentuh jemari Refal lembut, "bukan salah kamu kok."

Tiba-tiba seperti ada aliran listrik yang mengalir di dalam diri Refal. Begitu cepat dan intens. Mata Maudy memasuki dirinya begitu cepat tanpa bisa Refal tarik untuk pergi. Entah apa yang terjadi, Refal merasa dirinya harus bangkit dan mencoba berhenti berpikir tentang Jessi.

"Pulang sekolah ada acara, Dy?"

***

"Kemana aja sih kok lama banget..." Ujar Jessi sambil cemberut. Maudy tertawa kecil, "sorry, Jess.. Tadi aku makan dulu.."

"Kasian Jess dia kelaperan. Gakpapa lagi, gue juga tadi sempet ke kantin gara gara dia." Sahut Jason berusaha membela Maudy. Ia lalu menatap Maudy dan tawa mereka pun pecah. Jessi meyipitkan matanya.
"Apaan nih, gak usah rahasia rahasiaan deh...."
Maudy mengangguk angguk, "hmm.. Jadi tadi Jason ketemu gebetannya.."
Jessi memandang Jason lalu tertawa terbahak, "oh ketemu Reva! Hahahahahaha." Jason langsung menutup mulut Jessi, ia panik. "Ssssh, berisik lo!"

"Udah deh Jas.. Gue sih seneng liat lo seneng." Ujar Jessi sambil tertawa.
"Aku juga. Daripada kamu nungguin Reva terus terusan, cepetan aja ditembak!" Seru Maudy.
Jason mengacak acak rambutnya, "duh.. Gak segampang itu.. Udah deh pergi aja yuk!"
"Hayuk!" Seru Jessi semangat. 

"Eh.. Sorry... Aku lupa bilang.. Aku gak bisa ikut, Jess, Jas..." Ujar Maudy dengan wajah sedih.
Jason berbalik sambil memandang gadis itu kesal, "kenapa sih, Dy? Males ah sama elo!"
"Aku udah ada janji... Maaf ya, lain kali aku ikut deh.."
Jessi tersenyum, "lain kali kamu yang bayarin kita ya!"

Maudy tertawa, "beres bos!"

***

"Oy, masuk!" Seru Refal saat kaca mobilnya ia buka. Maudy mengangguk kecil lalu duduk di samping Refal. "Mau kemana, Fal?"

"Hmm.. Nonton aja deh, bete gue."
Maudy tertawa, "FF7 aja ya? Aku belum nonton."
"Siap Non.." Ujar Refal sembari menjalankan mobilnya.

Maudy tersenyum lebar. Ia akhirnya bisa duduk di tempat yang selama ini ia idam-idamkan, di samping orang yang selalu ia perhatikan. Maudy tidak menyangka Refal akan mengajaknya pergi secepat ini. Setelah bertahun tahun ia hanya bisa memperhatikan Refal dari balik Jessi, akhirnya tidak ada lagi yang menghalangi dirinya.

Ia tahu ia pasti bisa membahagiakan Refal. Tidak ada perbedaan yang akan memisahkan mereka. Tidak ada keadaan yang akan memaksa untuk meninggalkan satu sama lain. Refal pasti bahagia dengannya. Bahkan lebih bahagia daripada dengan Jessi.

Apa kamu tahu bagaimana rasanya setelah menunggu beribu hari dan akhirnya bisa mendapatkan titik pertama dari apa yang kamu mau?

Rasanya menyenangkan, Fal. Aku suka.


To be continued...

***

This morning issues: I dont want to go to school.
By Rizki Rahmadania Putri
March 8th, 2015


Artikel lainnya:

Tidak ada komentar:

Leave me some comment! Thank you, guys:}