Untuk kamu yang sedang bahagia.. (Kebohongan vs. Fakta)

Sebenarnya takaran kebahagiaan seseorang itu beda beda. Ada yang kumpul sama keluarga aja udah bahagia banget, ada yang baru bahagia kalo lagi banyak uang atau ada yang bahagia jika berhasil mendapatkan hati gebetan.

Menghitung hari menuju kelulusan SMA. Emang lebay, kurang lebih dua ratus hari lagi.. Tapi gue mulai menemukan banyak arti yang terselubung selama ini.

Kebahagiaan ternyata gak perlu dicari. Kebahagiaan itu datang sendiri seiring dengan perputaran roda kehidupan.

Gue sangat percaya seminggu penuh dengan senyum mengembang bisa saja diakhiri dengan sehari suntuk yang galau; gak tahu harus apa, pengen marah, cuman bisa nangis & berharap dipeluk tanpa ada yang bertanya "kenapa".

Gue juga percaya seminggu suntuk yang membuat gue pengen membakar sekolah gue bisa berubah jadi super menyenangkan ketika sesuatu datang. Mungkin menang lomba, mungkin ketemu gebetan atau mungkin berhasil mencapai titik kebahagiaan sendiri.

Setiap orang punya standar kebahagiaan dan menurut gue segimana pun standar kalian, kalian gak akan setiap hari bahagia, pasti ada kalanya jatuh dan berantakan.

Itulah kehidupan. Bahkan ketika kamu sudah bersyukur berkali kali pun, bekas jatuhmu masih terasa berdenyut meski kamu berusaha mengelaknya.

Itulah manusia. Penuh dinamika emosi dan perasaan.

Itulah gue. Manusia super perasa. Gue rasa, gue selalu salah memosisikan diri. Ketika gue bahagia, gue gak siap buat membuka mata dan menerima bahwa kebahagiaan itu akan berubah jadi malapetaka dengan satu fakta baru yang gue dengar.

Semakin banyak fakta yang kamu dengar, semakin banyak kebohongan yang terungkap.

Gak bisa bohong, gue selalu nyaman mendengar kebohongan yang bisa membuat gue tersenyum. Gue senang membuat asumsi baru supaya timbullah fakta yang sebenarnya hanya campuran dari opini dan khayalan yang berakhir menjadi kebohongan.

Kebohongan kebahagiaan.

Ada satu titik di mana gue merasa gue menemukan "itu" sebagai kebahagiaan gue. Entah manusia, kegiatan ataupun objek barang. Gue bahagia dan selalu-setiap saat-berusaha bersama "itu" supaya gue selalu bahagia.

Namun frekuensi waktu dan fakta bahwa sesuatu yang diperlakukan dengan "terlalu sering" akan berakhir bosan atau rusak seringkali gue lupakan.

Gue cuman ngerasa bahagia sama "itu" tanpa berpikir ke depannya. Yang gue tahu; gue ingin setiap hari bahagia.

Tapi hidup gak se-simpel itu. Ada kalanya kebahagiaan harus pergi dan digantikan oleh kesedihan, kemarahan, kekecewaan...

Gue lagi lagi gak rela melihat kebahagiaan itu pergi walau cuman sebentar. Jadi gue membangun kebohongan supaya tetap bahagia.

Kebohongan kebohongan pun gue bangun sebagai tembok tinggi supaya gue nggak khawatir kebahagiaan gue pergi. Namun makin lama gue sadar, semakin gue berusaha menggenggam, semakin ia akan pergi jauh...

Lalu begitulah hidup yang sebenarnya. Datang dan pergi silih berganti.

Kali ini saat akhirnya gue berpikir bahwa bukan itu yang sebenarnya membuat gue bahagia, gue kembali berbohong bahwa itulah satu satunya alasan yang membuat gue nyaman dan bertahan.

Padahal enggak. Padahal bukan.

Kadang kebohongan hati memang buat kita jadi nyaman. Namun saat fakta muncul dan bukan itu yang kita inginkan, kita harus siap menerima kebenaran akan kebohongan yang telah ada.

Gue bahagia.... Gue bahagia....

Mungkin terlihat pity untuk orang orang yang selalu menunjukkan kebahagiaannya. Tapi gak usah munafik, lo juga pernah ngerasain hal yang sama kan?

Saat di mana lo merasa dunia digenggaman lo dan dia menghilang begitu saja?

Kata Ilham, setiap detik kita berubah. Dan gue menyimpulkan, sampai kapanpun kita gak akan bisa menghentikan fakta bahwa perubahan akan terus berjalan mengikuti waktu yang gak pernah berhenti. Seperti itu juga untuk teori kebahagiaan.

Kebahagiaan abadi adalah saat elo bisa mencampurkan segala emosi yang ada dan tetap bertahan bahagia apapun yang terjadi. Bukan terus membuat kebohongan supaya tetap bahagia. Tapi mencoba menerima segala fakta yang menghancurkan rasa bahagia itu sendiri.

Apapun yang terjadi, segimana pun mereka jahat ngejudge gue, atau dia ninggalin gue gitu aja, atau dia mencuri hati lalu gak diurus sama sekali.. Gue harus tetep bahagia. Rentetan kejadian buruk akan membawa gue ke kebahagiaan. Sama seperti kebahagiaan yang akan membawa gue jatuh tanpa senyum sama sekali.

Ini saatnya kita sebagai manusia bisa memanfaatkan waktu. Selagi bisa bahagia, berbahagialah. Namun jangan terlalu berlebihan, apalagi berharap selamanya.

Gak ada yang kebahagiaan yang abadi. Seperti kebahagiaan pula, gak ada kesedihan abadi.


Dinamika hidup ini yang membuat kehidupan kita lebih berwarna. Bersyukurlah.

Kuncinya satu: jangan berharap. Harapan itu lebih ganas dari kebohongan, bahkan sebuah fakta sekalipun. Itu yang gue pelajari selama hidup. Semuanya kembali pada usaha dan keyakinan pada yang di atas.

Jadi.. Apa kamu bahagia?



Artikel lainnya:

4 komentar:

  1. Terkadang lebih baik tidak tahu sama sekali akan kebenaran tentang suatu kebohongan yang terjadi, mencegah timbul rasa sakit karena dibohongin...

    BalasHapus

Leave me some comment! Thank you, guys:}