[CERPEN] Ketika Aku Kembali Pulang

"Ramai." Gumamku sembari menutup styrofoam box yang digunakan untuk wadah tahu genjrotku. Jalanan Cipto Mangunkusumo sangat ramai sore ini -malah bisa kubilang sangat padat, layaknya saat senja datang di kala bulan Ramadhan tiba.

Fahmi baru pertama kali ikut aku pulang ke Cirebon setelah 4 tahun kami berpacaran. Hubungan jarak jauh antar benua membuat kami hanya saling berkunjung ke tempat kami tinggal dan belum sempat pergi ke tempat-tempat jauh. Aku sudah 4 tahun tinggal di Praha sementara Fahmi tinggal di Jakarta. Cukup berat menjalani hubungan jarak jauh namun kami bisa melewatinya. Terbukti dengan cincin yang melingkar manis di jemariku dan dirinya. Dua bulan lagi kami akan menikah dan aku ingin mengadakan resepsi di kota kelahiranku.

Sudah 6 tahun aku meninggalkan Cirebon dan mengambil studi mode di Eropa. Jalanan Cirebon sudah banyak yang berubah, tidak seperti pada tahun 2009 saat terakhir kali aku menginjakkan kakiku di kota ini. Nampaknya gonjang-ganjing pemerintah akan "Cirebon menuju smart city" mulai terwujud.

"Sera sudah cek e-mail? Biar kita langsung check in aja." Kata Fahmi saat beberapa menit kemudian ia mampu melewati kemacetan Jalan Cipto Mangunkusumo dan berbelok ke Jalan Pemuda. Aku menoleh lalu mengangguk, "sudah tadi pagi waktu kita masih di Jakarta. Tapi kok ini jaringan handphone-ku gak bener ya, Mi..."

Fahmi mengerutkan dahinya, "tuhkan aku udah bilang gak usah pake 3G lagi. Upgrade jaringan kamu ke 4G." Gerutunya seperti biasa. Aku berdecak kesal.
"Kamu kan tahu providerku mahal banget buat 4G-nya... Lagian aku kan baru sekarang ini pulang ke Indonesia."

Fahmi menghela nafas lalu meminggirkan mobilnya. Ia tertawa kecil, "calon istriku kok ngambek terus sih..."
"Lho kamu yang ngajak berantem." Elakku kesal. Fahmi pun menyodorkan smartphonenya, "nih pake Smartfren 4G LTE-ku. Dijamin lancar, Mba." Katanya sambil tertawa. Aku mendengus kecil lalu terkekeh, dia selalu bisa mencairkan suasana.

Setelah memeriksa konfirmasi pembayaran hotel, Fahmi pun melajukan mobilnya menuju Hotel Aston Cirebon. Menurutku hotel ini sangat megah dan mempunyai fasilitas yang baik untuk ukuran Cirebon. Aku berdecak kagum sendiri. Ternyata bukan hanya aku yang berubah selama 6 tahun terakhir, namun kota kelahiranku juga.

Fahmi mengurus 2 kamar yang telah kami pesan sementara aku sibuk membuka-buka website Blogger Cirebon di mana aku biasanya mendapatkan informasi tentang Cirebon. Ada sebuah artikel yang berhasil membuatku merasa begitu bangga dengan Cirebon. Pembangunan Cirebon semakin merata, banyak sekolah negeri yang sudah direnovasi, jalanan pun semakin rapi.

Hal yang aku sukai adalah ketika pendidikan di kota ini semakin maju dari 6 tahun yang lalu saat aku meninggalkan kota ini. Taman taman kota pun didirikan, objek wisata mulai kembali di lestarikan. Fahmi sempat memintaku untuk melakukan foto pre-wedding di objek wisata Goa Sunyaragi karena ketika kami melewatinya siang tadi, suasananya semakin bersih dan layak untuk jadi tempat rekreasi.

Smart city yang dulu digembar gemborkan pun terlihat perkembangannya. Mungkin tidak akan berubah menjadi smart city dalam sedetik, namun ketika segala aspek mulai bahu membahu membenahi kota ini, aku yakin ketika aku pulang kembali Cirebon sudah benar benar menjadi smart city yang diidam-idamkan banyak orang.

Menurutku konsep smart city bukan sekedar tentang semua orang yang berpendidikan, punya pekerjaan, menjaga lingkungan atau bisa mempergunakan internet. Namun ketika segala aspek kehidupan mulai dari pendidikan, ekonomi, politik, budaya dan sosial bisa bersatu tanpa memikirkan perbedaan yang ada di antara masing masing individu dan kelompok.

Kota kelahiranku ini mulai berhasil membangun dirinya untuk lebih baik walau tidak bisa dipungkiri masih banyak yang berhasil di bandingkan Cirebon. Namun apa gunanya membandingkan terus-menerus tanpa usaha untuk mencapai sesuatu yang lebih baik?

Fahmi kembali dengan 2 kunci kamar hotel sambil tertawa, "tampaknya kamu sangat senang pulang kesini.." Fahmi mengulurkan tangannya ke arahku.

"Siapa yang tidak senang melihat kota kelahirannya menjadi lebih baik dari sebelumnya?" Jawabku sambil tersenyum kecil dan meraih uluran tangannya.

Aku berharap selepas pernikahanku nanti, saat aku kembali lagi ke sini aku bisa berkata dengan bangga pada anak anakku.. "Nak, ini kota kelahiran Bunda. Kota yang telah membangun dirinya untuk jauh lebih baik.. Kota Udang.. Kota yang dielu-elukan oleh banyak orang.. Cirebon dengan julukan Smart City..."





Cirebon, 11 Oktober 2015



Tema: Cirebon Menuju Smart City
Genre: Drama Fiction
Revisi:

Diikutsertakan dalam lomba blog Cirebon Menuju Smart City 2015
Diselenggarakan oleh Komunitas Blogger Cirebon
Sponsored by: Smartfren & Hotel Aston Cirebon


Artikel lainnya:

4 komentar:

  1. Goodluck. Kurang panjang aja nih.

    BalasHapus
  2. Sukses ngontesnya,,
    sedikit saran,, detail cerita dan konfliknya belum terbangun rapi, btw tetap semangat nulisss!!! Ditunggu cerita2 selanjutnyaa

    BalasHapus

Leave me some comment! Thank you, guys:}