Overlook episode 10

"You're the book he never reads, 
but he keeps you on his nightstand anyways."
-anonymous



PLAYLIST EPISODE 10



I've been looking at my brother's messy face for 2 hours and I found out 3 things I love being the only sister of Pratama Gerardo Wijaya.

Satu: Ko Gerry selalu berbagi ceritanya. Ketika banyak kakak laki - laki lain yang memilih untuk sibuk dengan dunia kerjanya tanpa membagi sedikit waktu untuk keluarga bahkan adiknya. Setidaknya mendengar cerita dari perspektif laki - laki yang lebih tua dariku menambah daftar panjang pengalamanku untuk menghadapi cowok gila di luar sana -kali ini aku mau menambahkan lagi Gibran ke dalam daftar panjang cowok paling tidak jelas di hidupku. 

Dua: Ko Gerry begitu penyayang dengan segala sifat cueknya. Kalau kamu mau jadi adik perempuannya, jangan harap Ko Gerry akan mengetuk pintu kamarmu saat kamu menangis lalu memelukmu erat erat. Ko Gerry bukan tipikal yang se-melankolis itu. Seperti hari ini, ia seperti bisa membaca gerak gerik adiknya. Sehingga jam 12 malam ia mengetuk pintu kamarku dan membawaku pergi ke McDonald's Fatmawati. Lalu beberapa saat kemudian kami duduk dengan satu paket double cheese burger untuknya dan satu paket McSpicy untukku. Haduh! Koko ini tau adiknya lagi diet, juga!

Tiga: Ko Gerry memperjelas apa yang harus dijelaskan. Meninggalkan apa yang perlu ditinggalkan. Mempertahankan apa yang bisa dipertahankan. Ko Gerry tidak pernah mau dirinya terjebak dalam kesalahan -jadi orang yang paling salah dalam hubungan misalnya. Namun kali ini, setelah 10 tahun, seorang Pratama Gerardo Wijaya akhirnya mengambil langkah yang salah untuk gadis yang mencintainya setengah mati.

Luna tidak seburuk yang Ko Gerry ceritakan -maksudku, calon assistant creative director di perusahaan multinasional sebelum usia 30 tahun, isn't that crazy? Luna juga orang yang sangat ramah dan penyayang. Beberapa kali ia membawakan coklat untukku dan Ko Gerry, padahal aku dan Luna tidak sedekat itu untuk saling mengirim makanan. Tapi Luna tahu cara menyenangkan hati orang lain, meski kami sebagai orang yang menerima kebahagiaan darinya menemukan celah celah keganjalan dari senyumnya.

Hidupnya terasa ramai, namun sebenarnya sepi.

"Koko mau bawa dia ke WO hari Sabtu ini." Ujar Ko Gerry dengan tatapan kosong. "Tapi Koko gak tau, De.. Koko bener atau enggak." Sambungnya pelan.
Tanpa memandang Ko Gerry aku berujar, "kalo Koko nyakitin Luna kaya gini, apa Koko gak mikirin adik sendiri yang mungkin disakitin juga dengan hal yang sama?"
"Tapi kalo pun kamu gak sama Gibran, De.. Dia gak akan sebrengsek aku yang menikah dengan orang yang sama agamanya dengan cewek tersebut."
"Kenapa sih Koh kamu mau sama Natasha? Maksudku.. Iya sih Natasha cantik, rame, pinter.. Apalagi ya?"
Ko Gerry tertawa, "De, janganlah kamu memilih seseorang karena dia memenuhi kriteria kamu. Pada akhirnya yang kamu cari adalah mereka yang mengerti dan memahami kamu seutuhnya."
"Lho.." Aku menyerengitkan dahiku, "apa kurangnya Luna, Ko? Aku sama Sarah udah obrolin ini berkali-kali. Kami sebagai perempuan aja gak menemukan celah dari Aluna Serena Luna. Dia pintar, rajin, cantik juga kok, dia bahkan Chinese lho, Ko.. Dan dia berjuang buat Koko bertahun tahun. Nungguin Koko.. Gak bisa sama orang lain selain Koko.. Apa alasan Ko Gerry untuk menolak orang yang mencintai Koko sebesar itu?"
"Karena cinta Koko gak sama besarnya untuk Luna, De.. And she deserves someone who love her with all of his heart. My almost isn't enough for a pretty perfect lovable person like her."

Seketika aku meraih tangan Ko Gerry yang matanya mulai berkaca - kaca. Tidak pernah sekali pun aku melihat Ko Gerry menangisi perempuan bahkan saat ia harus putus dengan Natasha karena ia ingin menyelesaikan perasaannya untuk Luna.

"Luna menggenggam Koko, menyayangi dan mau berjuang untuk Koko. Aku tau, De.. Kedengerannya bullshit.. Tapi semakin dia memperjuangkan aku, semakin aku takut menyakiti dia. Aku takut gak bisa balas perasaan dia sama besarnya karena cintaku sama dia gak sepenuh itu. Tapi aku sangat menyayangi Luna."
"Kalo kamu sayang kenapa kamu gak memperjuangkan dia, sih?"
"Kamu tahu kan Luna secemburuan itu? Iya dia sering cemburu sama banyak orang. Selama aku sama dia, ada beberapa kali kami bertengkar karena cewek lain."
Aku tertawa kecil, "Sharon maksudnya?"
"Iya.. Waktu aku deket sama Sharon, kasih bunga untuk Sharon karena Tommy yang minta.. Dia kan cemburu banget. Tapi aku minta dia berubah. Walau dia gak langsung berubah, makin lama dia berubah sesuai apa yang aku mau, tapi ketika aku melihat dia..."

"Dia bukan lagi Luna yang lugu, Luna yang ceria, Luna yang membuat kamu nyaman pada obrolan pertama kalian.."
Ko Gerry tersenyum lebar, "benar.. Bahkan setelah 7 tahun kami berpisah, aku menemukan Luna di hadapanku sebagai gadis yang aku inginkan. Kedewasaannya, pola pikirnya, cara dia berperilaku, berbusana bahkan pemilihan katanya saat berbicara pun berubah. Luna benar benar seperti apa yang aku inginkan, tapi Luna berubah karena aku memintanya... Sampai aku kehilangan Luna yang sebenarnya."

"Kamu gak jelas ya Ko, kaya Gibran!" Seruku kesal. Untukku pribadi, Ko Gerry sangat mengada-ada. Maksudku, persetan siapa yang membuat Luna berubah dan kenapa dia jadi seperti sekarang. Yang jelas dia berubah jadi lebih baik untuk memperjuangkan orang yang dia cintai, kan? Lalu kenapa dia harus tidak dihargai seperti ini?

"Coba deh.. Lo minta Gibran berubah untuk lo. Dia berubah, benar benar sesuai dengan apa yang lo mau. Tapi lo gak lagi melihat ketulusan dalam sikapnya, tawa renyahnya yang alami karena apa yang ia rasakan.. Setiap perilakunya penuh usaha untuk menunjukkan, 'Na ini Gibran sudah berubah, sudah gak kaya dulu, sesuai apa yang kamu mau.' Apa kamu nyaman menjalani hidup seperti itu? Apa kamu nyaman melihat orang lain berkorban sebegitu besarnya untuk kamu padahal kamu sendiri belum tahu apakah kamu bisa membalas semua ketulusannya atau tidak?"

Aku tiba tiba terdiam.

Bicara tentang lelaki yang memintaku berubah, Gibran Putra Rayya juga punya 100 daftar hal yang harus dirubah dari Revina Lana Allezia Wijaya. Sedikit demi sedikit aku berubah untuk memuaskan hati Gibran. Memang sih, aku berubah jadi lebih baik dan dewasa dari sebelumnya. Tapi saat Gibran pergi, aku kebingungan. Karena sebelumnya dalam hidupku aku punya standar sikap dan perilaku; kebahagiaanku berpatok dari reaksi Gibran akan prestasiku, akan hasil kerjaku.

Jika Gibran tidak ada.. Aku kehilangan arah.

Karena aku berubah untuk dicintai Gibran, bukan berubah karena diriku sendiri.

"Sedangkan Natasha gak seperti itu, De.. Dan bagaimana pun aku ingin menikah dengan orang yang seumur hidup ini bisa menikmati rasa cintaku juga. Bukannya aku tidak akan bahagia dengan Luna. Gila aja kali gue!" Seru Ko Gerry sambil tertawa dengan suara parau.

"Sama Natasha.. Aku gak harus takut gak bisa balas perasaan dia sama besarnya, karena dia mencintaiku apa adanya, pelan pelan. Aku gak harus takut gak cukup mencintainya, karena aku gak merasa terbebani akan pengorbanannya untukku. Tapi Luna.. Aku sayang banget sama Luna.."

"Koko..."

"Kalau ada kata lain selain sayang yang bisa menggambarkan perasaan ini, pastinya itu untuk Luna. Tapi rasa cinta, rasa ingin menjaga, rasa ingin memperjuangkanku lebih banyak untuk Natasha.."

Aku terisak, "karena?"

"Karena dia membiarkanku mencintai dirinya. Karena dia tidak membuatku merasa mencintai orang lain."

***

Di dasari oleh kalimat "makanya De kamu jangan sampai terjebak seperti aku dan Luna. Nanti sulit menyembuhkan hatinya," aku menyerah pada diriku sendiri. Berbekal satu reply message di salah satu insta story-ku tadi pagi, aku menemukan diriku duduk di salah satu Restoran Padang bersama Evan di hadapanku. Gila? Memang.

Sementara pemilik Indonesia Raya, Gibran Putra Rayya sedari tadi sibuk meneror ponselku tiada henti. Sepertinya ada yang segitu kelaparannya di kantor -apa sudah kangen karena orang yang selalu menemaninya tiba tiba sibuk sendiri?

"Gila, ini sate padang emang favorit gue banget." Sahut Evan sambil tertawa. "Rasanya enak banget, gue gak pernah absen mesen sate padang kalo ke Restoran Padang gini.
Aku tertawa lebar, "iya deh boleh favorit.. Tapi jangan berantakan gitu dong.."
"Aduh perhatian banget sih lo, Na." Pipi Evan merona seketika. Haduh, gue gak niat flirting lho!
"Lho lho jangan blushing gitu dong.." Ujarku menetralkan keadaan, "gue memang detail kalo lihat sesuatu."
"Bagus dong, makanya target client lo di kantor gak pernah meleset kan?"
Aku lagi lagi tertawa, "ada flirting yang lebih bagus gak?"
"Oh shit, I haven't gone that far lho."

Aduh, mati gue! Pipiku pasti merah padam sekarang. "Shit, I'm joking, tho."

"Tapi kalo lo mau gue secepat itu sih boleh..."
Aku hanya menggeleng, "gak jelas banget sih percakapan ini."
"Yang penting harus diklarifikasi dulu; lo udah gak sama Gibran kan?"

"Ugh, hello.." Ujarku agak kesal, "emangnya di jidat gue keliatan banget ada tulisan 'property of Gibran Putra Rayya' , yah?"

"Not really.. Tapi Na.. Jangan berharap memulai kalo lo belum pernah benar benar menyelesaikan." Sahut Evan kecil.


Aku langsung terdiam dan memandangi nasi padang yang ada di hadapanku. Dan hari ini pertama kalinya aku nasi padang rasanya sehambar ini.

***

WhatsApp Message from Gerardo

She is crying in the pain. 
Tapi mawar biru dariku dia bawa turun dari mobil.
Aku sayang banget sama Luna..
But she deserves someone who isn't only almost loving her.



To be continued...


"Thank you, ya."
It hurts like hell to hear your voice.. now.


Artikel lainnya:

Tidak ada komentar:

Leave me some comment! Thank you, guys:}