[FLASH FICTION] Kotak Rapuh

Helen memperhatikan Raka dari kejauhan. Samar - samar ia mencari tahu apa yang janggal dari Raka. Pertanyaannya tentang laki laki itu masih sama, "kenapa ia sebaik itu pada semua orang?"

Seringkali Helen menutup diri dan mengurungkan niatnya untuk terus mempertanyakan hal tersebut. Tapi tidak bisa. Raka aneh. Entah dia terlalu baik atau dia adalah "a yes man." Tipe "a yes man" cenderung tidak akan menolak ketika orang lain meminta pertolongan. But wasn't it too much when awhole world is being helped by you and no one notice your loneliness?

Dari kejauhan ia melihat Raka sedang berbincang dengan beberapa orang sambil tertawa. Namun tawanya tak terdengar lepas dan posisi duduknya tak senyaman orang seharusnya. Akan tetapi orang orang di sekitarnya tampak nyaman dengannya seraya sesekali menepuk bahu atau lengannya.

Raka bagai kotak cantik namun sudah terlalu lama di tempat lembab dan bisa saja bahan penyusunnya tak sekokoh seharusnya. Ia seperti bahagia, tapi tidak bahagia.

"Len, gue akhirnya berani nyapa Raka!" Seru Yeni memecahkan balon balon percakapan intrapersonal milik Helen di kepalanya.
"Hah? Iya?" Tanya Helen kebingungan.
"Iyaa emang bener ya, ramah banget Raka. Lain kali kalo mau bikin desain langsung minta tolong dia, ah!"

Seraya Yeni berlalu, mata Helen kembali mencari Raka. Tapi alangkah kagetnya Helen ketika wajah yang tadi tertawa itu berubah murung campur tak bernyawa. Bagai ada yang disembunyikan, bagai ada yang ia paksakan.

Melihat teman sekelasnya seperti itu, ia beranjak dari kursi taman yang sedari tadi ia duduki dan berlalu menuju Raka. Sekoyong koyong tubuhnya memberanikan diri menghampiri laki laki itu. Raka sedang duduk sembari memainkan iPhone-nya. Wajahnya masih ditekuk, tak seceria ketika ada teman temannya tadi. Namun setidaknya ia lebih terlihat nyaman daripada sebelumnya.

Helen memberanikan diri untuk membuka suara, "Rak?"
"Ah, halo Len!" Suara Raka langsung berubah ceria, ia kembali tersenyum dan menegakkan posisi duduknya.
"Kok tadi cemberut?"
Raka mengerutkan dahinya, "enggak.. Baik baik aja kok. Gue ketawa ketawa aja."
"Jangan bohong." Ujar Helen pelan, "kadang kita gak pernah tahu apa perasaan seseorang yang selalu ceria. Karena lewat senyum dan kebaikannya mereka selalu menutupi masalah mereka sendiri."

Gestur tubuh Raka kembali terlihat tak nyaman, ia menggeleng. "Apa sih Len.."
"I saw you, Rak."

Raka tersenyum tipis lalu menundukkan kepalanya. Helen menepuk nepuk bahu temannya itu lalu bergumam, "lo boleh kok gak kuat, lo boleh kesel bahkan nolak permintaan orang. Lo boleh capek kok, Rak. Jangan ngerasa sendirian memikul semuanya. Lo punya teman untuk berbagi."

Jakarta, 9 Februari 2018
"I care then I dont."



Artikel lainnya:

Tidak ada komentar:

Leave me some comment! Thank you, guys:}