YES OR YES #5 : Beda



Jakarta dan kemacetan. Dua hal yang tidak pernah berpisah apalagi jika senja telah tiba. Hari ini Tara ke kampus tanpa membawa biolanya. Hanya sebuah tas ransel kecil dan earphone yang tidak ia lepaskan dari handphone. Tak ada latihan band, tak ada kerja kelompok. Hanya Tara dan rencana kecilnya.

"Makan yuk."

Kalimat ajakan itu terus bergema di kepala Tara setelah percakapan singkat yang terjadi di antaranya dan Key, teman sekelasnya.

"Kok elo bisa deket gitu sih Key sama Dani?" Tanya Tara heran setelah mendengarkan cerita Key tentang gebetan terbarunya, Dani. Key hanya cekikian sambil membereskan bukunya.
"Take action dong, Tar. Jangan nunggu nunggu mulu."
Tara mengerutkan dahinya, "kan kita cewek, Key?"
"Kan cewek juga harus usaha kalo mau, Tar. Asal ngga agresif banget kaya kucing kebelet kawin, kayaknya sih oke oke aja. Hahaha."
Tara mencubit Key, "ish elo mah!"
"Ajak makan deh, Tar."
"Hah? Lu gila ya gue ajak cowok makan?"

Key menutup tasnya lalu menatap Tara dalam - dalam. "Tara sayang, percaya deh.. Makan bareng itu membantu elu mengenal seseorang lebih baik lagi. Coba aja dulu. Temen ngajak makan kan bukan hal aneh. iya nggak?"

Dan di sinilah Tara Annisa sekarang, di persimpangan dekat tangga, tempat ia dan Farhan Ali sering berpapasan. Tara sudah mengatai dirinya gila beberapa kali, tapi hatinya tak kunjung kapok dan berhenti. Dia tetap menunggu Ali. Dengan handphone di tangannya dan rambutnya yang sudah ia tata sedemikian rupa, dia siap menyapa Ali hari ini.

Bagai Tuhan menjawab doa doanya setiap malam, kali ini peretemuan mereka dimudahkan begitu saja. Ali berjalan menyusuri koridor sambil memainkan handphonenya. Dia sendirian. Tentu hal yang bagus untuk Tara mengingat dirinya pasti canggung setengah mati. Ia menoleh dan mempersiapkan diri. Ia tidak boleh berharap, tapi ia harus mencoba melakukan hal ini.

Ali melambaikan tangannya, "hai Violinist-ku, ngga pulang?"

Nah lho. Tara agak kampungan hari ini. Pipinya merona dengan gamblangnya seperti anak SMP disapa oleh gebetannya.

"Eh, kapten Baseball. Belum nih. Lo baru kelar kelas?"
Ali mengangguk, hari ini dia tersenyum lebih manis daripada biasanya. Oke, Tara Annisa berlebihan lagi. "Iya nih.. Baru banget kelar."
"Err.. Nggak ada latihan, Kak?"
Ali menyerengitkan dahinya, "Kak?"

Mereka berdua tertawa.

"Kak.. Kakak.. Kakak baseball.. Aku udah kaya fans fans kamu belum?" Tanya Tara agak tersipu. Ali mengangguk angguk.
"Yah, sedikit lah, Ta. Lulus deh hari ini hehehe. Ngga ada latian band?"
"Nggak.. Masa latihan mulu, capek dong.."
Kali ini Ali yang terlihat agak malu, "oh.. Hehe dikira setiap hari gitu."

Tara tersenyum lebar lalu berseru, "eh Li, laper nih! Makan yuk!"

Ali terdiam lalu tersenyum kecil, "ayo ayo.. Gue juga laper."
"Tuhkaan, kelas sore emang bikin laper! Lo mau makan apa?" Tanya Tara sambil melangkah menuruni tangga.
"Hmm.. Taranya mau makan apa?" Ali mengikuti langkah Tara perlahan.
Tara melepaskan earphone dari telinga kirinya, sejak tadi ia hanya mendengarkan di satu telinga saja. "Apa ya.. Lihat di belakang aja yuk."

Ali bergumam mengiyakan. Matanya berlari menuju handphone yang dipegang oleh Tara. Ia lalu berdehem, "ehm.. Tara denger apa?"
"Eh? Tara.. Denger ini." Tara menunjukkan layar handphonenya. Coldplay - A Sky Full of Stars berada di playlistnya. "I'm a fan of it! Suka bangeeeet!"
"Oh.. Suka yang pop rock gitu ya? Padahal kamu violinist, hahaha."
"Yah, emang agak bingungin sih.. Tara juga suka Imagine Dragons, Radiohead.. Kalo denger mereka kaya jadi semangat gitu. Iya ngga sih, Li? Rasanya kaya lebih bersemangat aja, mungkin karena beat mereka bikin kita ngerasa lebih hidup kali ya." Tara bergumam, agak malu. "Ali dengerin apa?"

"Hah?"
"Iya.. Kamu dengerin apa biasanya?"
"Hehehe, apa aja sih, Tara."
Tara memasukkan handphonenya ke saku celananya, "apa aja tuh gimana, Li? Tara ngga ngerti.. Hahaha."
"Ya.. Gue dengerin apa yang tenangin gue."
"Contoh?"
"Jangan ketawa ya Tara.."

Ali menunjukkan handphonenya. Di layarnya tertera lagu terakhir yang ia putar. Michael Buble - Where or When. Tara tersenyum separo.

"Oh.. Michael Buble ya.."
Ali tersenyum kecil, "iya. Ali malah ngga dengerin band band nya Tara."
"Hah? Oh gitu..."
"Iya, beda ya kita, Tara."

Tara menundukkan kepalanya sambil bergumam, "iya beda.."

"Tapi selera musik kan bukan faktor utama untuk saling kenal ya, Ta? Hahaha. Beda pun nggak papa, asal bisa saling menerima dan menghargai. Iya kan? Udah yuk langsung makan!" 

Ali melenggang dengan santainya sambil berjalan ke luar gendung kampus. Sementara Tara mematung dengan jantungnya yang berdegup kencang. Ali gila. Ali benar benar membuatnya tersipu tak berdaya.

Sementara Ali dengan langkahnya yang lebih cepat dari Tara berusaha menyembunyikan kegugupannya. Seakan ia pernah merasakan hal semanis itu saat bersama Tara, seakan perbedaan yang ada tak membuat Ali gundah gulana. Bersama Tara, Ali bisa merasa ada seseorang yang mau peduli padanya tanpa basa basi. Bersama Tara, Ali seakan akan mau mencoba untuk membuka diri.

Bersama Tara, seakan Ali bisa jatuh hati lagi...

2 komentar:

Leave me some comment! Thank you, guys:}

Diberdayakan oleh Blogger.