Day and Night: Bukan Sebuah Film


Like the day and night,
we run differently.

- Day and Night by Day6 


***


"Keenan udah selesai rekamannya?"

Suara lembut itu membuat Keenan menghentikan langkahnya sejenak. Ia berusaha mencerna informasi yang baru saja dikirimkan oleh indera pengelihatannya ke otak dengan saksama. Dari semua tempat di Jakarta kenapa bisa cinta pertamanya muncul begitu saja?


"Laras?" tanya Keenan dengan suara lirihnya. 

Gadis itu menatap Keenan sambil tersenyum kecil, "iya, Kee. Ini aku."

"Kamu kok di Jakarta?"



"Aku emang udah lama ninggalin Yogya. Kan udah lulus, Kee," sahutnya sambil tersenyum, "kamu apa kabar? Aku tadi lihat kamu lagi rekaman podcast di dalam, makanya bisa nyapa kayak gitu."

Senyum Keenan pun sontak pudar. Jika Laras ke Jakarta dan kini berdiri di depan kantor EN Management sudah pasti jawabannya masih sama seperti dua tahun lalu. Waktu masih belum berpihak pada Keenan lagi.

"Kee?"

Karena Laras terlihat berharap mendengar jawaban dari Keenan, maka laki-laki itu pun berdehem kemudian berujar, "iya baik. Habis promo lagu baru."

"Oh gitu? Iya sih, aku lihat di Instagram juga sebenernya. Selamat ya berhasil debut jadi solois. Seneng dong?"

Apa gunanya ngerasa seneng kalo nggak bisa berbagi rasanya sama kamu, Ras?

Namun terlalu naif untuk Keenan mengungkapkan apa yang ada di kepalanya. Hingga akhirnya ia menyerah mengutuk keadaan yang tidak bersahabat ini dan mengangguk kecil. Laras tidak perlu tahu bagaimana Keenan menyesal tidak menjemputnya malam itu dan membiarkan cinta pertamanya direbut oleh temannya sendiri. Laras hanya perlu tahu bahwa Keenan ikut bahagia dengan segala hal yang jadi pilihan Laras. Meski sejujurnya lidahnya selalu terasa lebih pahit dari rasa espresso favorit Angkasa.

Mereka yang mematahkan kita tidak perlu harus ikut menderita dan merayakan kesedihannya, bukan?

"Syukurlah kalo kamu seneng. Aku sempet sedih sih waktu ucapin selamat ulang tahun tapi kamu nggak bales," kata Laras dengan nada sendu, "tapi ya wajar aja sih ... Kan baru kejadian."

"Kejadian?" Keenan mengernyitkan dahinya dengan ekspresi wajah yang bingung, "emang kejadian apa?"

Checkmate, Keenan menang hari ini. Wajah Laras langsung berubah dengan ekspresi tidak enak dan malu di waktu yang bersamaan. Baik Keenan maupun Laras sama-sama sadar bahwa hari-hari mereka di Yogyakarta tiga tahun lalu bukan sekedar dua teman yang sering menghabiskan waktu bersama. Hari-hari kelam bagi Keenan ketika dia bahkan tidak terpikirkan untuk menyelesaikan skripsinya. Namun Laras, adik tingkatnya yang berbeda dua tahun itu mampu membuat Keenan punya harapan lagi.

Begitulah seharusnya cinta bekerja; membuat mereka yang merasakannya bisa mendapat semangat lebih dalam menjalani hidup, bukannya malah terpuruk. Bagi Keenan yang lebih dari 20 tahun tidak pernah jatuh cinta, kehadiran Laras jelas membawa warna lain untuk hidupnya. Apalagi ketika impiannya menjadi seorang penyanyi dan kewajibannya untuk lulus sarjana Teknik Industri harus diselesaikan dalam satu waktu yang bersamaan.

Keenan kira dia tidak akan bisa sampai ke titik ini. Namun Laras hadir dan membantunya untuk bangkit demi meraih mimpi.

Sayangnya Tuhan dan semesta saat itu tidak memberikan Keenan lebih banyak kesempatan bersama gadis ini. Mungkin ini dari seni menjalani hidup, tidak semua mimpi bisa digapai dalam waktu yang sama. Keenan tidak bisa mendapatkan semuanya dalam sekejap mata. Maka ketika impian menjadi penyanyi diwujudkan, Tuhan pun menggambil Laras dari hidup Keenan.

Kemudian memunculkannya lagi siang ini. Di saat Keenan sudah merasa dirinya baik-baik saja. Tapi ternyata tidak ada yang benar-benar baik-baik saja jika bertemu dengan cinta lama.

Karena hening sudah terlalu lama mengisi mereka berdua, maka Laras pun buka suara, "aku kira kalau kita ketemu lagi akan ada sesuatu yang beda."

"Apanya?"

"Apanya gitu," Laras menyelipkan rambutnya ke telinga kanan sambil tersipu malu, "kita mungkin?"

Keenan menatap Laras curiga. Ia berusaha keras menghilangkan pikiran buruk yang ada di kepalanya. Namun ... Dia ternyata hanya manusia biasa.

Keenan berdehem, "ehm ... Kamu putus sama Refal?"

"Iya," sahut Laras pelan.

"Terus ngapain ke sini? Kan Refal kerja di ENM."

"Mau balikin barang," jawab Laras sambil menunjuk ke arah tas kecilnya, "nggak baik bawa barang milik orang."

Beberapa menit yang lalu Keenan bersumpah dirinya sudah merasa menang dari Laras. Tetapi saat ini ia tidak bisa berbohong kalau lututnya terasa begitu lemas. Bisa-bisanya cinta pertama Keenan tiba-tiba muncul dalam keadaan tidak berpasangan. Apakah ini pertanda dari Tuhan?

"Kalau di film yang aku tonton sih harusnya ada adegan spin-off gitu, Kee. Hahaha."

Keenan tertawa canggung, "emang kalau ada, kamu mau gimana? Milih aku karena dulu keburu ditembak sama Refal?"

"Ya ... Nggak gitu juga."

"Ya udah, mungkin akhir kita emang yang kemarin, Ras. Nggak ada lanjutannya lagi."

Laras pun mengerjap kaget, "kamu udah lupain aku? Aku kira lagu yang kamu rilis itu tentang a-"

"Emang tentang kamu, kok," jawab Keenan santai, "tentang kita."

"Tuhkan aku bener," sahut Laras lirih.

"Tapi sebatas lagu aja."

"Kok gitu?"

Tepat setelah Laras menyelesaikan kalimat pertanyaannya, seorang gadis berlari ke arah Keenan sambil membawa kamera di tangannya. Senyum tipisnya seakan menampar Keenan dari segala ingatan akan perasaannya tentang Laras.

Kalila berseru, "Yang, ayo makan!"


"Yang? Kamu punya pacar, Kee?" tanya Laras dengan suara tercekat.

Keenan tersenyum kecil, "kalo kamu denger lagu aku, tolong jangan salah interpretasi. Aku nggak sesedih dulu lagi. Aku malah kecewa sama kamu, Ras. Kamu tau gimana sayangnya aku sama kamu, tapi kamu malah terima Refal dengan alasan nggak enak karena dia nembak duluan. Jangan berharap kita punya spin-off momen karena ini kenyataan, Ras. Ini bukan sebuah film. Di kenyataan ini aku emang sayang sama kamu, tapi aku nggak mau punya hubungan sama orang yang nggak bisa hargain aku. Aku duluan ya."

Setelah itu Keenan pun berlalu menghampiri Kalila dan merangkulnya. Pacarnya itu mendengus kesal ketika tercium bau rokok dari kaos putih Keenan.

"Yang, kok ngerokok?" Kalila mengerutkan dahinya layaknya Ibu yang sedang inspeksi kepada anaknya. Mereka berdua pun berhenti berjalan dan saling berhadap-hadapan.

Keenan pun nyengir, "buat sosial doang, Yang. Asli. Bau banget ya?" Keenan menciumi badannya sendiri. Namun Kalila malah tertawa kecil.

"Lumayan, sih. Tapi udah terlanjur sayang, jadi nggak mau lari."

"Makasih ya. Aku kira aku nggak akan jatuh cinta lagi," sahut Keenan dengan suara lembut.

Yang digombalin malah mencubit perut Keenan, "geli banget, woi, ah! Kayak lagi bikin puisi lo!"

"Hahaha. Tapi seneng kan, Kal? Ngaku aja anjir."

"Iya iya. Seneng."

Keenan tersenyum lebar, "love you too, Kalila."

Ia kemudian kembali merangkul Kalila dan berjalan meninggalkan area EN Management tanpa pernah menoleh untuk melihat kembali masa lalunya. Ia ternyata bisa bahagia meski bukan dengan cinta pertamanya.

***


"Putus, Yas? Aku udah susah-susah bantu kamu pindahan dari Yogya ke Jakarta terus kamu putusin aku? Ini aku yang gila apa kamu sih, Ayas?" tanya Refal sambil berusaha menahan amarahnya. Ia sudah berjanji untuk tidak pernah membentak Laras apa lagi di depan publik. Ia akan berusaha mengelola emosinya dengan baik.

Namun kalau begini ceritanya, mana bisa Refal bertahan?

Laras menyeka air matanya lalu menggeleng, "kita itu kesalahan, Mas."

"Apanya yang salah, sih? Kenapa sejak denger lagu cecunguk itu terus kamu jadi kayak gini?!"

"Aku harusnya sama Keenan, bukan sama kamu. Please, kita nggak bisa lanjutin semua ini..."

Laras kemudian berlari meninggalkan Refal di lantai ground Grand Indonesia Mall tanpa menoleh ke belakang lagi. Ia yakin betul, Keenan pasti menunggunya untuk kembali.


***

Hai, Guys! Aku kangen banget nulis yang nggak mikirin berapa banyak komen / likes yang aku dapet hehehe. Makanya aku kabur ke sini. Flash fiction Day6 ini aku tulis karena aku nggak bisa berhenti dengerin album mereka yang berjudul The Book Of Us : The Demon. Kebetulan sahabatku, Natalya Berlani, kirimin aku itu sebagai hadiah sidang dan lagunya enak-enak banget. 

Flash fiction series ini berisi unsur yang masih nyambung satu sama lain TAPI aku akan bikin cerita lepas, jadi nggak perlu dibaca secara berurutan. Semoga senang ya membacanya! Glad to be back! Uhuuuy!

6 komentar:

  1. BOLEH GA YAAAA AKU YANG JADI PACAR KEENANN? 😭❤️❤️❤️❤️❤️

    BalasHapus
  2. mau like 100000xxxx ga bisaa yaaa???

    BalasHapus
  3. Tokoh Wonpil rebutan pacar sama Sungjin? Dan dia pacaran sama Ryujin.

    Sungguh dunia yang tidak tertebak.
    Aku ngebayanginnya gemes-gemes pengen ngakak....

    But, anyways akhirnya aku menemukan konten FF DAY6 di dalam dunia Tipluk.
    Mari tepuk tangan.... *prok..prok..prok*

    BalasHapus
    Balasan
    1. WKWKWKWKWK di dunia yang ini berbeda rebutannya, Mommy. I love you momm!!!!!

      Hapus

Leave me some comment! Thank you, guys:}

Diberdayakan oleh Blogger.