AWAN SENJA : 01. Sepi Milik Sendiri

 


Cerita ini merupakan prekuel dari Between The Line (2019) yang telah 
diterbitkan lebih dulu di aplikasi Joylada. Bisa dibaca secara terpisah.

Genre : Teen fiction, Drama, Comedy


⛅️⛅️⛅️



SENJA

Jakarta, Juli 2014


Sepertinya kita akan selalu ngerasa kurang kalau lihat punya orang lain. Sesak di dada pun bukan lagi hal yang asing. Nyokap gue selalu bilang untuk tutup mata, tutup mata, jangan lihat ke sekitar untuk membandingkan diri. Tapi gimana ya? Namanya juga anak SMA. Secara lumrah sudah diciptakan Tuhan untuk insecure karena sekitar. Padahal yang gue punya juga banyak, tapi di saat kayak gini rasanya ya akan selalu kurang.


Karena rumput tetangga selalu lebih hijau, barang milik orang lain selalu lebih baik, dan kita jadi lupa bersyukur sama hal yang kita miliki.


Persis seperti perasaan gue sekarang waktu california roll sushi gue tinggal satu dan Rhea, sahabat gue, masih punya empat di piringnya. Ingar-bingar Sushi Tei sore ini seakan sedang berduet dengan perut gue yang mengaum-ngaum minta diisi. Kalau gue pesan lagi, sayang banget diet yang lagi gue jalanin. Tapi gue nggak bisa tinggal diam ketika deretan sushi cantik itu dianggurin pemiliknya begitu saja. Si manusia drama (yang surprisingly adalah sahabat gue itu) malah asik chatting-an sama Wira, ketua OSIS di sekolah gue. Padahal dia janji ke Senayan City mau nemenin gue makan sushi dengan ketenangan dan keasyikan alias nggak bucin sendiri. Sayangnya gue lupa, sahabat gue ini Rhea Eleanor Wicaksono. Di kamusnya yang ada cuman bucin atau nggak bucin sama sekali.


Ekor mata gue berusaha keras untuk nggak melirik piring Rhea, tetapi seperti manusia pada umumnya, bandel! Kenapa sih Rhea masih punya banyak, Ya Tuhan? Padahal mulut dan perut Jaja lebih membutuhkan! Rasanya gatel banget pengen negur Rhea yang kalau sudah asyik sendiri nggak bisa diganggu sampai mengganggu perasaan orang lain; merasa terabaikan. Tapi gue males, ah. Nanti berakhir di,


“Makanya jangan stuck sama Mas Rajendra. Cari yang baru dong. Sekarang bengong kan lu? Nggak bisa bucin, deh,” sindir Rhea tanpa matanya beranjak dari layar ponsel. Mampus, gue lupa sahabatan sama penulis. Udah berasa cenayang, ya?


“Yang baru siapa? Theo? Eleuh, teu hayang teuing,” jawab gue malas. Hapal banget kalau Rhea begini pasti bawa-bawa Theo, temen deket gue yang kalau kirim chat kayak mau nagih utang. Agresif banget! Tapi dia suka bagi bekel makanannya ke gue, cuman tetep aja agresif. Pusing. “Pacaran sama sahabat itu nggak asyik.”


“Sahabat yang dulu nggak jelas, sahabat yang sekarang posesif,” kekeh Rhea. “Ya udah lain kali cari yang nggak ada hubungan satu circle aja. Biar nyaman.”


“Kayak maneh sama Wira?”


“Betul.” Rhea mantap mengangguk sambil menaruh ponselnya di meja. “Lagian friendzone tuh nggak akan berhasil.”


“Bah, baru juga naksir Yoyon terus ditolak aja udah belaga jadi pakar friendzone,” cibir gue nggak mau kalah. “Gue udah turutin mau lo, nih, Ya. Jangan sibuk main HP, dong!”


Rhea menyuapkan sushinya dengan lahap. Ah elah, bagi satu kenapa, sih! Sambil mengunyah, ia bergumam, “kebalik kali. Gue yang nemenin lu ke sini. Biasanya kan kita ke Yoshinoya.”


“Hueeeek. Gumoh aing makan Yoshinoya.”


“Gue sih enggak, ya,” Rhea menyandarkan dirinya kemudian melanjutkan kalimatnya, “gue setia.”


“Mampuuuus, dangdut banget! Ya Tuhaaaan!” Gue bergidik geli. Emang Rhea paling jago bikin punchline geli kayak gini.


“Lo tuh masih SMA, Ja. Nikmatin masa-masa jatuh cintanya. Jatuh sejatuh-jatuhnya, Ja. Kata Mas gue, kalo kita udah biasa jatuh, nanti ketika dewasa, kita tahu gimana caranya bangkit dengan sendirinya.”


Gue memicingkan mata, heran sendiri kenapa keluarga Wicaksono nggak ada yang waras selain Tante Alana. Adiknya Rhea, si Helen juga sama aja dangdutnya. Beberapa kali gue pelayanan di Gereja sama dia dan ada aja cowok yang bikin dia klepek-klepek sampai rela gantiin nge-host pelayanan Minggu secara dadakan karena berharap gebetannya datang. Tapi sayang, dunia kan sering bercanda yang nggak kaleng-kaleng, ya. Jadi hari itu Helen harus menelan kekecewaannya sendiri di pojok ruangan.


Bicara tentang Masnya Rhea, sampai saat ini gue nggak pernah ketemu sama dia. Beberapa kali dengar suaranya karena dia yang angkat telpon gue, tapi nggak pernah tahu wujudnya. Mungkin karena gue lagi sibuk sama si Mas Rajendra kali, ya. Jadi mana sempat cari tahu tentang orang lain? Pokoknya jangan friendzone, deh. Udah deket lama, udah sayang-sayangan taunya nggak jadian. Kayak GUE! 


“Andai gue Pelangi yang digebet banyak cowok ... omongan lu bisa terjadi di dunia gue. Sayangnya gue Senja, Ya,” sahut gue dengan nada pasrah. Raut wajah Rhea pun berubah seketika. Mata sipitnya langsung ia picingkan, dahinya berkerut seperti sudah berpikir ribuan tahun, dan bibirnya sudah manyun-manyun siap untuk ngomel.


Pelangi itu sepupu gue yang paling cantik —dan rumahnya paling dekat, serta paling cantik. Ini beneran cantik yang kalo lo lihat dia lo akan mikir, “wah dunia emang nggak adil”. Tubuhnya proporsional, kakinya jenjang, bentuk wajahnya lonjong cantik, kulitnya putih dan seakan tidak memiliki pori-pori; semulus itu Ya Tuhan, serta rambut hitamnya begitu panjang dan tebal. Itu baru secara fisik, ya. Gue nggak punya kekuatan untuk mendeskripsikan bagaimana kepribadian dia dan prestasi hidupnya. Layaknya menu makanan di Sushi Tei, dia tuh salmon poki salad yang mahal mampus, sedangkan gue hanya tanuki yang udah gratis bisa refill lagi.


Gokil. Aing mah apa atuh?


Growing up, I used to spent my time with her. Despite of my insecurities—yang please banget, ya, Rhea jangan tahu—, Pelangi cukup banyak membantu gue dalam urusan belajar, ibadah dan lain-lain. Sebagai anak tunggal, gue sering ngerasa kesepian di rumah karena bokap dan nyokap yang bekerja. Gue jarang ditemenin. Jadi sebagai gantinya, nyokap akan mengantarkan gue ke rumah Pelangi dan menitipkan gue di sana. Walaupun Pelangi sering bikin gue insecure, tapi seenggaknya dia agak lebih asik beberapa persen lah dari sepupu-sepupu gue di Bandung. 


Karena main sama Pelangi juga yang akhirnya membawa gue mencintai dunia pelayanan ibadah untuk anak-anak. Gue jadi betah di Gereja karena di sana ramai. Gue nggak akan ngerasa sendirian. Selain itu gue sering membayangkan kalau gue di posisi mereka dan nggak punya teman. Pasti sedih banget.


Pada saat itulah Rhea muncul. Si Capricorn ambisius ini datang ibadah sekali dan ngobrol banyak sama anak kecil di kelas pelayanan gue. Gue pun langsung samperin dia dan melakukan prosedur pengenalan ala Senja Yasminika alias tanya apa zodiaknya. Puji Tuhan, perempuan tukang drama ini Capricorn. Best match!


Waktu itu kami masih SMP dan langsung klik ketika ngobrol. Ternyata Rhea ada di sekolah yang sama dengan gue, tapi karena gue anaknya aktif olahraga banget dan Rhea adalah seorang penulis, jadi kami jarang punya kegiatan yang bersinggungan untuk bertemu. Lucu juga perasaan gue saat ketemu Rhea dan nyaman banget kayak di rumah nenek. Pertanyaan paling sering yang muncul di benak gue adalah kenapa baru sekarang Tuhan bawa Rhea di hidup gue? She is such a one of a kind person. Sangat perhatian, sangat bijak kalau urusan orang lain (urusan sendiri, sih, nggak perlu ditanya), dan buat gue nggak merasa sepi.


But in the end, God only sent you whatever you need at the right time, at the right place. Setuju?


“Lu minta gue omelin ya?!” hardik Rhea agak kasar. Kebiasaan kalau ngomong udah kayak toa sekolah; too loud. Gue nyengir aja, pasrah deh dia mau ngomong apa.


Gue ingat mata Rhea jadi salah satu alasan kenapa gue berani ajak dia ngobrol lebih jauh. Rhea yang anak sulung juga punya sorot mata hampir sama dengan gue; kesepian padahal di sekitarnya ramai. Mungkin karena dia adalah sosok kakak yang harus menjaga Helen dan punya tanggung jawab akan kebahagiaan orang lain bisa membuat diri merasa sepi bukan main. Karena fokus hidup kita adalah memberikan, memberikan dan memberikan pada orang lain. Sama seperti gue.


Gue nggak perhitungan, sih. Tapi memberi dan menolong orang lain juga salah satu pelarian gue dari hidup yang sepi ini. Sampai kadang gue mikir ... kapan ya ada orang yang jadi gue untuk gue? Kalau gue lihat dari ceritanya, Masnya Rhea cukup mengayomi sahabat gue itu. Jadi gue rasa kalau di rumah Rhea lagi ada world war entah episode berapa, Rhea dan adiknya akan baik-baik aja. Despite of everything, Pelangi is nice to me. Sayangnya gue masih sering merasa sepi.


And no one knows about it.


“Gue nggak suka ya lo bandingin diri lo sama Mbak Pelangi. Kalau akhirnya Mas Rajendra malah milih sepupu lo, bukan berarti lo nggak worth it. Teman adalah cerminan diri kita. Lo lihat, kan, kalo gue cantik dan asyik? Lo lihat juga seberapa aktifnya gue pelayanan dan nulis di blog gue? Gue punya value, Ja, dan lo sahabat gue. Berarti lo juga punya value juga!” seru Rhea dengan menggebu-gebu. Walau ada narsisnya dulu, but I know she only want me to feel more comfortable and proud of my self. 


Aduh, Pisces nggak bisa nih diginiin.


Menghindari salah tingkah berkepanjangan, gue pun mengambil sushi yang ada di piring Rhea lalu melahapnya. Mata perempuan itu pun membelalak menatap gue tak percaya. Tapi gue malah nyengir.


“Udah gue bilang friendzone tuh sesat. Maneh belum ngerasain sih yang friendzone beneran friendzone. Bisa sayang, nggak bisa jadian. Bisa jadian, nggak bisa balik temenan. Tapi apa pun itu gue mah kasta paling rendah, lah. Udah bilang sayang malah diajak temenan aja,” imbuh gue entah dari mana sumbernya. Padahal tadi nggak ada bahas friendzone sama sekali! Kayaknya Rhea benar, deh, gue suka nggak nyambung kalo menjawab pertanyaan. Itu kali yang bikin sahabat gue, Mas Rajendra, lebih milih Pelangi dibanding gue?


Rhea memijat pelipisnya. Kalau sudah begini kasta kehidupan berubah; gue jadi dangdut, Rhea jadi tukang ngamuk. “Ya mungkin friendzone lainnya beda?”


“Lu nggak pernah ngerasain, sih, Rhe, udah sayang banget taunya dia jadian sama yang lain. Nyesek tahu.”


“Iya, gue juga paham kok waktu Yoyon nolak gue,” balas Rhea. “Makanya gue juga ngeri sama si Wira ini. Kan awalnya temenan baik, walau nggak satu circle.”


“Tuh kan,” sahut gue bersemangat. “Tapi tenang ajalah, lo kan best match sama dia. Scorpio, kan?”


“Duuuh, Jaja! Bisa nggak, sih, berhenti ngomongin zodiak sehariiii aja?!” sergah Rhea kesal.


Makin Rhea kesal, makin happy dong gue? Respons gue pun hanya sebatas mengambil ice ocha yang ada di hadapan gue dan meneguknya. Mungkin Rhea benar. Mungkin selanjutnya nggak perlu mikirin apa zodiaknya. Toh best match kayak Mas Rajendra yang jelas-jelas Virgo aja malah nggak jodoh, kan?


Tapi kalau zodiak aja nggak best match, Jaja tahu dari mana kalau dia orangnya, Ya Tuhan?





AWAN


Kapan nyokap lo berubah recet bukan main? Kalo gue selalu sama kok, waktu tukang sayur telat lewat rumah atau tanamannya layu padahal dia rawat setiap harinya. Kadang gue bingung, jir, kenapa beliau ngajak ngobrol tanaman ketika gue aja sering diabaikan?


Tapi ya udahlah, ya, namanya juga hidup seringnya bercanda. Tanaman yang nggak bisa ngomong malah disayang, anak beneran malah pengen dibuang. 


Sore ini merupakan salah satu episode lainnya dari nyokap gue yang recet. Tapi kali ini bukan karena dua hal krusial itu, melainkan ibu-ibu komplek yang kasih tahu kalau gue nggak Gereja udah tiga minggu. Astaga, kenapa sih harus ngadu? Nggak tahu apa kehidupan anak dari single parent itu berat banget? 


Karena ketahuan, akhirnya gue dihukum harus cabutin rumput di halaman depan. Yailah, PR banget.


“Mami nggak pernah ajarin Awan bohong ya,” cecar Mami membuka hening di antara kami. Gue kira ngomelnya udah selesai. Ternyata sama kayak sinetron Cinta Fitri, sekuelnya banyak sekali.


“Emang nggak, Mi,” jawab gue. Sumpah gue bukannya nggak sopan, tapi Mami sering lebih murka kalau gue diem-diem aja.


“Kapan, sih, kemauan Awan nggak dituruti?”


Baru aja sejam yang lalu, Mi. Awan mau delivery sushi tapi Mami keburu pulang dari house warming party tetengga sebrang. Terus ngomel deh. Awan kan laper.


“Mami cuman minta kamu ke Gereja, Nak. Ibadah. Baca Alkitab pun nggak pernah, kan? Terus gimana Tuhan mau sayang sama kamu kalau kamu aja begini kehidupannya?”


Pisau yang gue pakai untuk mencabut rumput pun terlepas dari genggaman gue. Percakapan ini seperti debat kusir yang nggak pernah punya akhir baik. Buat apa gue ke Gereja lagi? Toh dulu gue ke Gereja pun akhirnya sama; Tuhan emang nggak pernah sayang sama gue.


“Awan kan udah gede, udah SMA. Jangan begini terus dong,” pinta Mami dengan suara bergetar. Yailah, nangis lagi, nih. Ah, gue paling nggak bisa kalau dengar Mami nangis. “Awan balik sekolah biasa aja, deh? Nggak perlu home schooling.”


“YAH JANGAN DONG MI,” protes gue sembari berbalik. “Mi, Awan lebih suka di rumah. Kalau di rumah tuh Awan punya banyak waktu buat baca buku, nulis lirik lagu, dan ngulik musik. We both know that going to school won’t help me.”


“Terus gimana biar Awan ibadah lagi?” tanya Mami. Terdengar suara depresi dari kalimatnya. Seakan gue adalah produk gagal yang sudah tidak punya kesempatan untuk dijual. “Kita tinggal berdua, Wan. Kalau Mami nggak ada, cuman Tuhan yang bisa jaga kamu  —dan diri kamu sendiri.”


Tapi Tuhan nggak jaga Papi, Mi. Tuhan bawa Papi pergi gitu aja. Padahal Awan anak baik, Awan ke Gereja terus. Tuhan emang nggak sayang sama Awan.


“Mami jangan nangis, lah,” kata gue sambil menghampiri Mami yang duduk di teras rumah. “Awan bingung kalo gini.”


“Jangan marah sama Tuhan, Wan. Setiap hidup dan matinya manusia itu diatur dengan cerita paling indah menurutnya.”


Iya, menurut Tuhan, kan? Bukan menurut gue.


“Kalo Mami tetep nangis, Awan mau balapan liar lagi aja deh.”


“Udah gila ya?” sentak Mami dengan tawa kecil di akhirnya. Kami berdua pun tertawa renyah sebelum Mami membawa gue ke pelukannya.


“Ke Gereja, ya, Nak? Jangan bohong-bohong lagi.”


Gue diam bergeming. Kalau gue ke Gereja lagi, gue ketemu apa selain kecewa dan patah hati? Papi nggak akan balik lagi. Jadi percuma gue pergi sekarang ini.





SENJA


“Bisa ya, Ja?”


Gue selalu suka suara Rajendra Tanuwirya. Suka banget sampai gue mengalahkan ego dan sakit hati yang masih terasa ini untuk mengangkat telponnya jam 8 pagi. Dulu sebelum ada Pelangi di antara kami, Sabtu pagi adalah jadwal berenang yang akan diakhiri dengan makan bubur ayam depan komplek. Malam sebelumnya, Mas Rajendra pasti menelpon gue sampai gue terlelap dan memastikan gue bangun sebelum mentari menyapa. Kebayang nggak sih suara berat dengan tawa renyahnya mengisi setiap sudut hari gue?


Sebagai sahabatnya?


Hehehe. Sebagai sahabatnya. Brengsek.


“Gue nggak pernah jadi kakak pendamping buat anak seumuran gue, Mas,” jawab gue akhirnya, setelah menimang-nimang antara memanggil diri dengan Jaja seperti dulu atau gue aja supaya nggak ada ragu. Dia cuman anggep lo sahabat, Ja. Inget.


“Nyokapnya sendiri minta ke aku buat ngebimbing dia. Anaknya sering kabur-kaburan nggak mau ke Gereja. Jadi sebenernya cuman butuh temen untuk bisa narik dia datang dan beribadah. Tapi kamu tahu, kan, aku sibuk banget di kampus? Pendekatan kayak gini, kan, nggak cuman sekadar ajak ke Gereja aja. Harus ada ngobrol dulu, habisin waktu bareng dulu.”


Iya deh yang satu kampus sama Pelangi. Happy, kan, lo? 


Sepertinya otak gue nggak bisa diajak berpikir positif lagi kalau ngobrol sama Mas Rajendra. Selalu kepikiran Pelangi. By the way, iya, gue tetap kasih garis batas sedangkan Rajendra Tanuwirya tetap aku-kamu setelah insiden gue bilang sayang tapi dia bilang kita cuman temenan. Udah, nggak mau dibahas.


“Kenapa gue, Mas?”


Suaranya terdengar melembut. “Karena aku percaya kamu bisa.” 


“Pelangi aja,” usul gue dengan nada senetral mungkin. “Pelangi suka bantu orang lain.”


“Tapi kamu punya aura yang beda sama Pelangi, Ja. Kalau sama kamu, rasanya positive vibes gitu dan bikin nyaman. Buktinya murid di kelas pelayanan anak bertambah setiap tahunnya sejak kamu jadi pengajar tetap.”


Kalo gue beda kenapa lo milih Pelangi?


“Mau ya?”


Percakapan itu berakhir beberapa menit kemudian dengan iya yang sangat lirih dari gue. Hal seperti ini memang sering terjadi di Gereja gue. Ada beberapa orang yang datang dan minta pendampingan khusus untuk ilmu agama. Namun untuk kasus-kasus seperti ini biasanya diserahkan kepada umat-umat yang sering melakukan pelayanan.


Dan seperti dugaan gue, sorenya Rhea langsung heboh ketika kami selesai mengerjakan PR di kamar bersama dua gelas Chatime dengan isi tinggal setengah. Memang manusia dangdut, hal-hal kecil kayak gini aja bikin dia happy setengah mati.


“Akhirnya lo punya temen cowok baru selain Theo!” seru Rhea girang. “Ternyata berguna juga ya si Mas Jendra.”


“Aya, deuh, cicing maneh,” gerutu gue dengan menanggil nama kecilnya. “Ini mah nambahin kerjaan gue aja.”


“Ya mungkin Mas Rajendra tahu kali kalo lo butuh pengalihan isu. Udah kelamaan awan di kepala lo tuh warnanya kelabu.” Rhea menggerak-gerakkan tangannya di atas kepala gue seakan mengacak-acak sesuatu. “Udah saatnya langit lo berubah warna.”


“Jangan ngarep,” ujar gue menghentikan kehebohan Rhea. “Lo tahu kan nomer satu dari semua kriteria gue adalah taat sama Tuhan? Masa iya gue sama cowok yang ke Gereja aja butuh teman?”


“Jangan gitu ngomongnya, Senja.” Suara Rhea terdengar melembut. “Kita nggak pernah tahu alasan orang melakukan sesuatu. Jangan asal nge-judge, kasih kesempatan aja dulu.”


Sontak bibir gue langsung mencibir Rhea. Benar, kan, kalau bahas orang lain tuh udah kayak orang bener ini anak. Coba suruh ngomongin hidupnya? Aduh, Rhea mah juaranya what-if scenario di kepala tanpa henti!


By the way, namanya siapa? Gue bakal ketemu dia juga dong!”


Gue mengangguk. “Iyalah kan Gerejanya sama. Kecuali lo berniat bail out Tuhan buat jalan sama Wira, sih, beda cerita.”


“SINDIR TEROOOOOOS,” sahut Rhea sembari mengambil ponselnya. Gue ngakak sendiri dengar dia kesal karena sindiran ini nggak kunjung selesai dari seminggu yang lalu. “Siapa namanya, Ja? Kita kepoin aja di Twitter atau Instagram.”


“Alexander,” gue mengaduk Chatime itu kemudian berucap lagi, “Alexander Wanadinata.”


But little did I know, nama panggilannya bukan Alexander ternyata. Pokoknya geleuh, deh. Sok gemes! Kalau bukan karena Mas Rajendra, mungkin gue nggak akan sotoy nyamperin dia kayak sekarang. Baru sampai tukeran nama aja gue udah tahu ini cowok bakal tengil banget. Siapa coba yang ke Gereja pakai kaca mata hitam? Dia doang! 


"Alexander ya?" Tadi gue bertanya dengan nada sesopan mungkin. Kata Theo, kadang gue suka ngegas bahkan kalau bukan sama dia. Padahal tampang gue udah Teteh Teteh Bandung yang adem begini! Sialan!


Cowok itu menoleh dan mengerutkan dahi. Gue nggak bisa lihat matanya karena pakai kaca mata hitam di Gereja. Iya, beneran pakai kaca mata hitam kayak mau jalan-jalan! "Bukan," sahut laki-laki itu.


"Elo Alexander Wanadinata, kan?"


"Oh, iya bener."


Lah, anjir, terus tadi kenapa bukan?!


Laki-laki itu kemudian menyodorkan tangannya dan berkata, "panggilnya Awan aja. Lo Senja, ya?"


Shit, dia senyum. Lebar. Manis banget. Tapi tetep kaca mata hitamnya deal breaker of the year. Karena nggak enak ditungguin lama-lama, jadi gue menjabat tangannya dan tersenyum rikuh. "Iya, Senja."


"Iya, gue Awan. Awan aja ya manggilnya."


Ah, jangan senyum lagi! Ini nggak ada niatan buka kaca matanya, apa?! Sabar, Senja ... sabar. Nggak boleh judgemental. Seenggaknya senyum dia manis, walau nggak lebih manis dari Mas Rajendra.





⛅️⛅️⛅️


Selamat datang di dunia masa SMA Senja dan Rhea. Sekiranya Senja mau minta maaf dulu kalau ceritanya absurd, ya mau gimana lagi, emang dari sananya begitu. Senja cuman mencari sesuatu untuk menghilangkan rasa sepi. Semoga awan di kepalanya berubah nggak kelabu lagi.


Kalau gitu, kenalan dulu ya ;



Senja Yasminika. Senja / Jaja / Ahli zodiak. 17 tahun. Masih SMA, Bun. The real definition of Anak Tuhan. Cita-cita : jadi kaya.



Alexander Wanadinata. Awan. 17 tahun. Freelance songwriter. Home schooling soalnya mager bangun pagi.



Rhea Eleanor Wicaksono. Rhea / Aya. 17 tahun. Anak SMA yang kerjaannya galau di blog. Pencapaian selama SMA : pacaran sama Ketua OSIS.



Pelangi Maharani. Pelangi. 22 tahun. Mahasiswi Kedokteran. Definisi "she's so much older than me, she's everything I'm insecure about" versi Senja. 



Rajendra Tanuwirya. Rajendra / Jendra / Mas Ganteng (yang nggak bisa digapai). 20 tahun. Setelah gap year, akhirnya jadi Mahasiswa Kedokteran juga. SAHABAT Senja. ;)



Christopher Wiratama. Wira. 17 tahun. Ketua OSIS SMA-nya Rhea, pacarnya Rhea, buntutnya Rhea. Bucin adalah nama belakangnya.


Theo Pamungkas Widjaja. Theo. 18 tahun. Setahun lebih tua dari Senja tapi sudah dekat sejak sebelum masuk SMA. Teman baik. Sangat baik sampai punya perasaan lebih dari teman ke Senja.


Helen Eleanna Wicaksono. Helen. 15 tahun. Adiknya Rhea, sering pelayanan sama Senja. 


Masnya Rhea. Masih belum diketahui identitasnya. Tapi penting, jadi baca sampai akhir ya.

⛅️⛅️⛅️

Semoga senang membacanya!
Ini nggak akan panjang-panjang, tapi semoga pesan ceritanya sampai yaa.
To be continued....

11 komentar:

  1. Kebayang sih gimana tengilnya Awan 👀

    BalasHapus
  2. BTW SENENG BANGET ADA CERITA KAPAL KESAYANGANKU. LANJUUUTTTT

    BalasHapus
  3. AWWWWW SUKAAAA BANGEETTTTTT

    BalasHapus
  4. asli ini moood booster banget! thank youuu kak tipluuuk! semangat terus lanjutinnya yaaa <3

    BalasHapus
  5. mohon maaf ini visualnya ga main2 semuaaa aku sih yesssss

    BalasHapus
  6. gapapa ga panjang2 yang penting nyaman nulisnya kak! 🙏🏻💕

    BalasHapus
  7. gilaa pagi" baca ini mood benerrr!!! ya Allahh Senja sma Awan kalo disatuin jadi apa ya? 😭😭

    BalasHapus
  8. HAAAIII AKU DATANG WKWKWKWKWKWK

    BalasHapus
  9. ASIKKK SERU NII CINTA BERSEMI DI PELAYANAN WKWKWK

    BalasHapus
  10. YEEYYY YEYYY AKU MAU LANJUT KE CHAPTEE BERIKUTNYA<33

    BalasHapus
  11. Theo, sama aku aja yuk, bisa yuk 🙃

    BalasHapus

Leave me some comment! Thank you, guys:}

Diberdayakan oleh Blogger.