AWAN SENJA : 02. Es Podeng, California Roll dan Doritos Hari Itu

 


Cerita ini merupakan prekuel dari Between The Line (2019) yang telah diterbitkan lebih dulu di aplikasi Joylada. Bisa dibaca secara terpisah.

Genre : Teen fiction, Drama, Comedy




⛅️⛅️⛅️


AWAN


Apa yang salah, sih, dari kelihatan beda? Sebenarnya nggak sebeda itu juga kalau orang nggak selalu mengotak-ngotakkan manusia terhadap kategori yang entah datang dari mana. Sedihnya, proses identifikasi mereka selalu dimulai dan diakhiri dari panca indera, tanpa sempat menilik lebih dalam hati pemiliknya.


Walaupun nyokap recet untuk beberapa hal, tetapi beliau nggak pernah recet sama keputusan-keputusan kecil di hidup gue. Nyokap seakan sudah percaya sepenuhnya dengan apapun yang gue pilih. Jadi kalo lo pernah lewatin masa-masa dilarang habis-habisan makan chiki atau minum Pop Ice, sadly, I’ve never been there. Sebagai anak tunggal gue selalu diajarkan kalau hidup itu tentang menghormati dan bertanggungjawab atas apapun pilihan diri sendiri. Seperti misalnya gue nekat naik pohon mangga depan rumah demi cari inspirasi kayak musisi beneran selama tiga hari berturut-turut, ya gue nggak bisa marah-marah ketika gue jatuh karena tergelincir dan harus diurut. Apapun yang gue lakukan, itu tanggungjawab gue, kewajiban gue. Maka dari itu, gue harus belajar menghormati diri gue untuk nggak salah milih dan berakhir nyakitin orang lain.


Tapi kayaknya pakai kaca mata hitam di pagi seterik ini bukan hal yang nyakitin orang lain, deh? Kok perempuan itu lihatin gue kayak babi hutan yang muncul di tengah kota, sih?


Samar-samar di balik kaca mata hitam Tom Ford milik almarhum papi, gue menelusuri wajah perempuan itu dengan saksama. Mas Rajendra kayaknya nggak bohong semalam kalau gue nggak akan sampai salah orang ketika sampai ke Gereja. “Since the first sight, you will know. You will always know,” katanya dengan gagah. 


Ide nyokap buat bikin gue ke Gereja kali ini emang gue akui tingkat keniatannya naik sekitar 70%. Bisa aja caranya dengan sodorin perempuan cantik kayak begini. Katanya nama perempuan itu Senja, sesuai dengan wajahnya yang meneduhkan. Gue pikir bercanda doang. Eh, tapi benar aja. Pernah nggak, sih, lo lagi jalan terus ngerasa matahari tuh kayak ngajak perang? Sinarnya seakan menusuk bahkan dari sela-sela poni lo yang udah kepanjangan. Lalu ketika lo hendak menggerutu pada Tuhan, ditunjukkanlah sebuah pohon rindang yang siap meneduhkan.


That’s my first impression when I looked at her.


Pipinya agak chubby dan badannya nggak sekurus teman di sampingnya. Kayaknya tipikal perempuan suka olahraga dibanding diet ketat yang bikin hampir mati. Gue suka, nih, perempuan yang begini. Pasti dia nggak akan nanya “aku gendutan, ya?” kalau udah pacaran. Dia juga nggak akan bikin jebakan Batman dengan pertanyaan, “kata orang aku gendut, ya?” serta sok-sok nggak mau makan banyak padahal ujung-ujungnya ambil jatah gue juga. Hehehe, gue kok kayak dendam banget, ya, jelasinnya? Tubuh gadis itu benar-benar terlihat proporsional apalagi dengan rambutnya yang sebahu dan ia biarkan berterbangan bersama angin Jakarta Selatan pagi ini. Kemudian satu hal lainnya yang gue suka dari dia adalah kedua matanya begitu cantik dan hidup.


She’s exactly what was Mas Rajendra talked about. 


Kecuali tatapan matanya yang songong waktu bilang, “Alexander ya?”


Ya ilah, udah idaman malah manggil gue Alexander. Gue nggak pernah nyaman kalau orang manggil nama gue Alexander. Selain dulu sempat nggak bisa mengucapkan huruf r, mami sama papi dulu pernah bacain buku tentang Alexander Hamilton. Beliau memang merupakan Bapak Pendiri Amerika Serikat yang sangat keren dengan gagasan-gagasan serta keberaniannya. Tetapi gue denger dari cerita nyokap, Alexander adalah pria ambisius yang sudah menikah namun berselingkuh dengan kakak dari istrinya. Sejak saat itu gue jadi ilfeel banget dipanggil Alexander (dan sebuah alasan tambahan, sih, selain capek dikatain cadel mulu sama masyarakat Indonesia). 


Long story short, please call me Awan, everyone.


“Bukan,” balas gue datar. Masa, sih, Mas Rajendra nggak bilang kalo gue nggak suka dipanggil Alexander?


Perempuan itu mendekat dan mengerutkan dahinya. Matanya kini terlihat segaris dan membuat pipinya jadi makin menggemaskan. Ia berjalan turun dua tangga sebelum akhirnya kami berhadap-hadapan dan dia berkata, “elo Alexander Wanadinata, kan?” Suaranya yang agak ngegas bikin gue pengen ketawa. 


“Oh, iya bener.” Kasihan, deh, kalo dibercandain. Nanti sayang lagi. Perempuan bernama Senja itu memutarkan bola matanya, bibirnya komat-kamit nggak jelas sampai gue nggak bis abaca dia ngomong apa barusan. Tapi gemas. 


“Panggilnya Awan aja. Lo Senja, ya?” tanya gue sambil tersenyum. 


Kemudian percakapan template khas anak baru itu pun berlanjut hingga 1,5 jam kemudian kami sudah selesai melakukan rangkaian ibadah. Senja nggak terlalu banyak ngomong seperti yang gue duga sebelumnya, tetapi gue tahu begitu dia melangkah masuk ke Gereja, dia adalah center of attention di sana. Terbukti dari sekumpulan anak kecil yang mengajaknya bicara sebelum kami masuk dan beberapa jemaat yang menyapanya. Senyum Senja selalu merekah ketika diajak bicara dengan orang lain, tetapi ketika bersama gue ada yang berbeda. Bukan, dia nggak songong atau jutek kok. Namun matanya yang terlihat hidup tadi malah meredup jika gue lihat dari dekat. Seakan dia tidak benar-benar bahagia seperti yang dilihat orang sekitar.


“Habis ini lo mau ke mana?” tanya Senja ketika kami sampai di depan gerbang Gereja. Temannya yang namanya Rhea tadi sudah berlari kecil menuju seorang laki-laki dengan jaket jeans di depan sana. Karena selama ibadah tadi Rhea selalu ada di samping Senja, gue kira nggak akan ada pertanyaan itu meluncur dari bibirnya. Tetapi melihat Rhea kini tertawa jaim di depan laki-laki itu, dengan kekuatan cenayang Alexander Wanadinata, gue tahu kalau Senja baru aja di-bail out sahabatnya. Lagi.


“Nggak tahu, sih. Tapi laper,” jawab gue enteng. 


Senja mengangguk tanpa menatap gue. “Sama gue juga.”


“Mau makan?” balas gue dengan penuh inisiatif.


“Mau …” lirih Senja sebelum akhirnya ia melanjutkan dengan kalimat yang membuat gue geli sendiri, “tapi nggak mau makan ati.”


Gue pun menoleh dan melihat ke arah pandangan Senja. Kedua mata itu ternyata memperhatikan Rhea dan pacarnya (asumsi gue aja, sih, but isn’t it too obvious when they’re holding hands in public?). Mungkin seperti lagu yang gue tuliskan di workshop minggu lalu bareng Nala, teman gue. Dia merupakan anak dari Rahmadanila, penyanyi ngetop di Indonesia pada era 2000-an dan kini sedang naik daun. Kami menulis mengenai perpecahan sahabat karena rebutan cowok. I assumed, Senja and Rhea involved in those kinds of drama.


“Ya udah, makan yang nggak ada atinya, yuk?” ajak gue. Perempuan itu menoleh dengan tatapan cengo. Masih sedih juga kali, ya, gebetannya malah jalan sama sahabatnya. “Sushi deh, sushi. Lo suka sushi nggak?”


Mata Senja berbinar-binar. Ia tersenyum dengan tulus lagi.





SENJA


Dia asik, sih, tapi bacot banget.


Gue rasanya pengen menjejalkan wasabi ke mulut dia ketika mulai sotoy tentang raut wajah gue yang berubah tadi. Ya kumaha atuh, lah. Cig, kumaha sok? Rajendra sama Pelangi bisa-bisanya beli es podeng di depan Gereja ketika gue lagi tersiksa mikirin pick-up line apa lagi yang harus gue keluarin kalau hening mengisi gue dan Awan. Ternyata dia yang jaim cuman bertahan beberapa saat sampai akhirnya kami sampai di Senayan City dan duduk di Sushi Tei. Ketika sama-sama pilih california roll, kekehan kami pun mencair dan obrolan pun mengalir begitu saja.


Gue baru tahu kalau manusia ini nggak sekolah. Bukan nggak sekolah karena drop out, tetapi dia lebih milih untuk homeschooling karena mengejar passion-nya. Sesuatu yang nggak mustahil di hidup dia tapi kayaknya mustahil di hidup gue. Sesibuk apa pun nyokap di kantor, beliau nggak akan biarin gue cabut sekolah karena udah nggak nyaman belajar Matematika cuman buat belajar bikin konten di YouTube. Asli, gue pengen banget kerja di media atau apapun yang berbau internet karena pasti beberapa tahun dari sekarang semua hal itu pasti lebih popular dari sekarang.


“Tapi lu coba homeschooling juga deh, Ja,” imbuh Awan setelah gue agak space out beberapa detik. “Seru banget, less drama kayak lo hari ini.”

“Nah kan, sok asik kan lu,” tukas gue. Dia malah cengengesan.


“Habis raut wajah lo kelihatan banget bedanya. Kenapa, sih? Friendzone, ya?” 


Ya Tuhan Yesus, apakah di jidat gue sudah tertulis korban friendzone?! “Sekarang sotoy,” balas gue enteng.


“Hahaha kalo dia sayang sama lo, dia nggak akan sayang sama orang lain, Ja.”


Ya tapi dia nggak sayang sama gue. The end of discussion.


“Jangan-“


“Lo yang jangan,” gue udah nggak bisa nahan lagi, “lo yang jangan sok tahu sama cerita gue. Lo kira perasaan gue bisa jadi bahan bercandaan apa? Kalo hidup lo bahagia, ya udah, good for you. Tapi kan nggak semua orang seberuntung lu.”


Bahu Awan terlihat beringsut. Mampus, Theo kayaknya bener deh kalo gue doyan banget ngegas. Sebenarnya gue makin panas karena lagi haid juga, sih. Tapi ya bukan salah gue dong kalo gue kesel? Orang baru kok banyak banget omongnya?


“Hah … Emang lo kira gue seberuntung apa, sih?”


Tetapi gue memilih untuk diam dan tidak menanggapi ketika gue melihat mata Awan berubah sedu. Persis seperti ketika dia melepas kaca matanya tadi pagi sebelum masuk Gereja. Akhirnya gue memilih untuk menghabiskan california roll sushi gue tanpa bicara, sementara laki-laki itu menerawang jauh melihat pengunjung mal lalu lalang dari balik jendela.





Malamnya si Theo Pamungkas Widjaja yang posesif kembali melaksanakan tugasnya; kirimin gue puluhan chat padahal dari pagi aja belum ada satu pun yang gue balas. Bukannya gue buta, bukannya Rhea juga nggak peka, tapi gue emang nggak mau aja. Cukup Rajendra yang patahin hati gue, Theo nggak usah ikut-ikutan.



Theo : Ja, bales kenapa, sih?


Senja : Apa


Theo : Brengsek ya lo baru bales gue?!


Senja : Kalo urang brengsek, terus maneh apa? Wkwkwk.


Theo : Skip!

Theo : Gimana jalan sama anak Gerejanya?


Senja : Lah anjir gimana maneh tau?!

Senja : LAH SI AYA ANAK KAMBING!!!


Theo : Angkat telpon gue!!


Senja : Gak.


Theo : JA, GUE TEMBAK YA LO BESOK.


Senja : DUH ILAH.



“Apa, sih? Anak kelas 12 tuh belajar, bukannya nelponin adik kelas melulu,” gerutu gue ketika panggilan tersebut tersambung. Theo di sebrang sana sepertinya sedang makan Doritos keju favoritnya karena gue bisa mendengar bunyi ASMR nggak pentingnya meski dari loadspeaker.


Gue udah ngajak lu jalan, tapi lu malah jalan sama yang lain.”


Gue tersenyum kecil. “Maneh Rajendra bukan?”


“… Bukan.”


“Ya terus kenapa ngarep?!”


Brengsek lu hahaha. Dia siapa, sih? Lo naksir dia nggak?”


“Apaan, sih? Dangdut lu,” gertak gue seraya merebahkan diri di tempat tidur. “Yo, lu tau nggak, sih? Anjirlah aing kratak pisan.”


“Naha deui, deuh?!” Theo terdengar mengigit makanannya lagi.


“Si Mas Ganteng Nggak Bisa Digapai kan nyuruh gue buat jadi kakak asuhnya Awan karena katanya sibuk. Nah gue udah berkorban jadi Pahlwan Tanpa Tanda Jasa, eh gue malah lihat dia lagi sibuk-“


Tuh kan, dia beneran sibuk? Maneh pasti overthink nggak jelas deh kayak si Rhea,” potong Theo.

“Ish, iya dia sibuk! Sibuk jajan es podeng depan Gereja sama Pelangi! Ya Tuhaaaaan, lo kebayang nggak, sih, gimana patahnya hati gue?” erang gue kesal.


Tetapi tanpa gue duga, gue malah mendengar kalimat ini dari Theo, “lo juga kebayang nggak sih patahnya hati gue waktu dengerin lo cerita tentang Rajendra dan jalan sama cowok lain hari ini? Nggak kebayang ya?”


“Lah? Kok baper, sih, Yo? Ah males ah,” tolak gue dengan alis yang sudah saling bertaut. Bete banget kalau Theo sudah meracau kayak gini. Kan gue udah bilang kalau kita cuman bisa …


Iya ya, ngapain gue baper? Kan yang boleh punya perasaan cuman lo.”

… jadi sahabat aja.





AWAN


“Na, lu kalo kena friendzone bakal ngapain?” tanya gue ketika kami menyelesaikan sesi terakhir workshop ini. 


Nala yang baru saja menyelesaikan event-event modelling dan menyanyi terlihat semakin lelah setiap harinya ketika datang untuk workshop. Tetapi hari ini garis matanya yang berwarna hitam terasa begitu menyedihkan karena mungkin gue nggak akan punya kesempatan untuk semangatin dia lagi (kecuali kami ketemu di acara lain). Selama dua minggu belajar menulis lagu bersama Nala dan beberapa murid lain, kami berdua jadi sering berbagi cerita meski hanya sekilas saja. Seperti gue tahu tentang Nala dan cowok yang lagi dia taksir tapi ternyata adik kelasnya, Dimas, atau Nala hapal betul tentang gue yang masih mempertanyakan arti jatuh cinta.


Karena ketika penulis menuangkan kegelisahan hati karena cerita pribadinya, lain dengan gue yang hanya bermodalkan riset dan wawancara. Gue nggak pernah jatuh cinta makanya kelas menulis lagu cinta ini penting banget buat gue. Untungnya, mami berbaik hati kasih gue kesempatan ini. Kalau dipikir-pikir, mami selalu mendukung gue. Tapi guenya aja yang brengsek nggak mau nurutin mau mami untuk ibadah lagi.


“Ya lihat situasi, sih. Gue nggak pernah friendzone yang beneran friendzone. Lo tahu, kan, gue mulai deket sama Dimas juga karena emang suka dari awal, bukan temenan dulu,” sahut Nala. “Lagian bahasan friendzone udah lewat. Kenapa masih aja lo angkat-angkat? Penasaran ya?” 


Godaan Nala membuat gue pun cengengesan. “Maunya sih friendzone sama lu. Tapi jangan lah, nanti lu susah move on dari gue.”


“Dih, udah gila lo!” Tawa Nala pun mengisi ruang studio kami. “Menurut gue jangan coba-coba friendzone, deh. Lo nggak akan punya garis yang jelas. Lo bisa bilang sayang sebagai sahabat padahal hati udah ngebet pengen nembak. Lo bisa juga kelihatan kayak cinta mati tapi cuman anggep sebatas teman saat ini. Nggak ada yang pasti.”


“Tapi hidup, kan, emang nggak pasti, Na?”


Nala menggeleng. “Friendzone lebih nggak pasti.”


“Terus kalo nggak jadi gimana ya rasanya? Pasti ancur banget tuh.”


“Iyalah. Patah hati itu nggak enak. Udah ngarep eh malah harus pisah,” ujar Nala. “Daripada sibuk mikirin kisah orang, mending dengerin saran gue kemarin, deh. Coba jatuh cinta dulu, Wan, biar cerita lo juga semakin kena ke pendengar.”


Gue memilin tali hoodie hitam yang gue kenakan seraya mempelajari wajah Nala. Senyumnya selalu merekah dan telinganya memerah setiap bahas cinta dan Dimas. Memangnya jatuh cinta semenyenangkan itu, ya?


“Gimana lo tahu kalo lo punya perasaan sama Dimas?”


“Gue?” Nala menyandarkan dirinya ke sofa. “Hmm … sesimpel gue jadi peduli sama perasaan dia dan mikirin dia di waktu-waktu harusnya gue mikirin hal penting atau diri gue sendiri. Gue banyak deket sama cowok, Wan. Banyak juga kok yang ngajak jalan. Tapi yang muncul di kepala gue bukan mereka semua. Saat itu gue tahu kalau Dimas hadir di hidup gue nggak cuman mampir jadi teman, tapi lebih dari itu.”


Sambil mendengarkan penjelasan Nala, gue cuman bisa memijat pelipis gue karena pening ini nggak kunjung berhenti padahal hari ini nggak ada diskusi yang berarti. Hanya kami duduk-duduk di tempat kumpul, membawakan karya terakhir, foto bareng kemudian diakhiri oleh gue dan Nala ngobrol di studio ini. Tetapi pikiran gue nggak jauh-jauh dari hal yang sama sejak tadi siang. Sejak gue membiarkan dia pulang dengan taksi online di tengah hening karena mulut comel gue yang sok asik.


Yah anjir … Senja lebih dari teman dong buat gue?




⛅️⛅️⛅️


Memperkenalkan,



Rahmanala A. Nala. 17 tahun. Penyanyi, model. Anak SMA. Temannya Awan.

⛅️⛅️⛅️

Warga It Was Until It Wasn't yang kenal sama Nala mana suaranyaa? Tinggalin comment yuk! HAHAHAHA.

Anyway, Senja ternyata punya 3 cowok di hidupnya, nih! Menurut kamu Senja lebih cocok sama siapa? Rajendra, Theo atau Awan?

Semoga masih semangat membacanya! Terima kasih sudah mampir!

To be continued...

5 komentar:

  1. Kasihan sih Theo. Tapi kayaknya Senja udh ngasih batesan gak sih?

    BalasHapus
  2. Btw, suka banget sama POV 1 yg dipakai kak titi di sini. Ngalir :') SEMANGAT KAKK

    BalasHapus
  3. theoo kasiannn:)))

    BalasHapus
  4. ihh ginii, senja di friendzone-in sma Rajendra, Theo di friendzone-in sma senja, trss skrngg awann? smoga ga friendzone��

    BalasHapus

Leave me some comment! Thank you, guys:}

Diberdayakan oleh Blogger.