[FLASH FICTION] Trouble With You : Bandara, Binar Mata, dan Janji Seadanya

Februari 2015

GENETTA


We both know we have an expired date yet he didn't want to let go of my hands.


Waktu gue lihat mata Omar, gue yakin seisi dunia juga nggak akan tinggal diam untuk ngatain gue sebagai orang paling egois di dunia. Manik matanya yang hangat nggak pernah berubah meski gue sering membuatnya lelah. Bukan sekadar lelah fisik karena minta hal-hal nggak penting seperti bayar bills gue tiap bulannya atau membelikan pembalut gue kalau si tamu tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan, tetapi hatinya juga. Hati Omar pasti sudah lelah. Sayangnya dia punya keahlian akting cukup baik hingga kadang Emil bisa dikelabui; kecuali gue.


Gue paham banget genggaman ini bisa gue dapatkan dari siapa pun. Pikiran gue melebur menyelami rak-rak ingatan di kepala, mencari kepingan kejadian paling konyol beberapa saat lalu ketika bokap gue meninggal dunia. Di sana ada Refal, adik sepupu gue yang menggengam tangan gue sama eratnya ketika kami dalam perjalanan ke Jakarta. Genetta yang punya hati batu ternyata cuman manusia cupu yang hatinya bisa meleot juga. Ketika dapat telpon dari adik gue Mona, gue langsung jatuh di lorong apartmen tanpa berkata apa-apa. Beberapa saat kemudian Omar menelpon Refal dan entah pakai jurus apa, tanpa sadar gue sudah berada di pesawat menuju Bandara Soekarno-Hatta. Dan demi Tuhan, genggamannya seperti ini, sama eratnya.


Tapi gue bisa seenaknya sama Refal karena dia cuman sepupu gue. Sedangkan Omar dengan modal petantang-petentengnya itu nggak ada blood relatives sama gue. Tinggal tunggu waktu sampai akhirnya Omar juga menyerah dan meninggalkan gue. Walau gue tahu gue akan kehilangan dia, namun gue rasa itu lebih baik daripada membiarkannya mencintai orang yang nggak bisa cinta sama dia.


Omar baik banget, tapi bukan ... bukan dia orangnya.


"I will miss you, Gege," lirihnya di telinga gue. Suaranya yang selalu rendah dan seksi ini sering meresahkan hati gue sendiri. Tapi gue cukup sadar kalau semuanya hanya napsu, karena kalau tidak ada pun, gue nggak segitu inginnya bertemu.


"Makanya Omar ke Jakarta dong sama Gege," jawab gue seadanya. Itu kan yang Omar ingin dengar?


Pipinya tersipu. "Nanti Omar ke sana ya. Gege baik-baik di Jakarta, oke?"


"Iya."


"Jangan nakal," Omar memberi jeda sebelum akhirnya berkata, "jangan sampai suka sama orang lain. Gege cuman boleh suka sama aku, ya?"


Tapi kan sampai sekarang aja gue nggak suka lo, Mar. Nggak suka lebih dari teman. Kapan lo paham sih? 


Untungnya, Tuhan masih baik sama gue. Suara wanita dari speaker terdengar memanggil-manggil gue untuk segera masuk. Maka dari itu gue melepaskan genggaman Omar sembari mencium pipinya. Teman juga boleh cium pipi, kan?


"Gege pergi ya."


"Janji dulu," erang Omar sembari menahan gue.


Gue nggak punya pilihan lain selain mengangguk supaya laki-laki bertubuh jangkung itu segera melepaskan gue pergi. Setelah kami berjarak, gue melepaskan ikat rambut gue dan membiarkan rambut gue tergerai bebas. Sebagian diri gue merasa pening karena teringat sikap gue barusan. Gue mungkin sudah biasa seenaknya dan dipermudah dalam banyak hal, tetapi gue masih sadar diri kalau masalah cinta bukan perkara sepele saja. Tapi sudahlah. Mau suka sama siapa juga, sih? Toh gue pulang ke Jakarta cuman karena permintaan nyokap. 


Lagian gue mau jatuh cinta sama siapa lagi kalau sama Omar yang sebaik itu aja gue nggak tertarik? Gue nggak segila itu walau tadi cukup brengsek dengan janji seadanya untuk hati yang selalu kasih gue segalanya.




 

Tidak ada komentar:

Leave me some comment! Thank you, guys:}

Diberdayakan oleh Blogger.